DENPASAR – Denyut nadi perekonomian di Pulau Dewata menunjukkan tanda-tanda penguatan yang signifikan melalui aktivitas pembiayaan perbankan yang terus melaju positif. Hingga periode Februari 2026, arus modal yang mengalir ke berbagai sektor usaha di Provinsi Bali tercatat mengalami kenaikan yang cukup menggembirakan.
Penyaluran kredit di wilayah ini telah menembus angka fantastis sebesar Rp119,75 triliun, atau mengalami pertumbuhan sekitar 6,47 persen secara tahunan. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi kembali pulih setelah melewati berbagai tantangan ekonomi.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, Parjiman, memberikan rincian lebih dalam mengenai data pertumbuhan yang cukup impresif tersebut. Berdasarkan lokasi proyek, pertumbuhan kredit bahkan tercatat lebih tinggi lagi yakni mencapai 7,24 persen dengan total nilai Rp144,20 triliun.
Kenaikan ini didominasi oleh gairah pada kredit investasi yang melonjak hingga 17,81 persen, melampaui pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu. Tingginya angka pada sektor investasi mencerminkan adanya keberanian dari para pemilik modal untuk membangun fondasi bisnis jangka panjang di Bali.
“Pertumbuhan kredit utamanya ditopang oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estate. Peningkatan pada kredit investasi menunjukkan kontribusi perbankan dalam mendukung pembiayaan ekspansi usaha demi mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Provinsi Bali,” jelas Parjiman, sebagaimana diberitakan oleh sumbernya, Kamis (30/04).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sektor pariwisata tetap menjadi tulang punggung yang tidak tergantikan bagi sirkulasi keuangan di daerah ini. Pembangunan hotel baru, renovasi fasilitas makan minum, hingga geliat properti menjadi faktor penentu yang menggerakkan angka-angka dalam laporan keuangan perbankan.
Namun, di tengah lonjakan investasi, sektor modal kerja justru terlihat mengalami sedikit perlambatan atau moderasi pada angka minus 2,45 persen. Hal ini nampaknya berbanding terbalik dengan kredit konsumsi masyarakat yang justru masih mampu tumbuh positif di angka 4,98 persen.
Menariknya, porsi terbesar dari penyaluran kredit di Bali ternyata masih berpihak pada kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM. Lebih dari setengah total kredit, atau sekitar 51,32 persen, dialokasikan untuk menyokong permodalan para pelaku usaha di tingkat akar rumput.
Pertumbuhan positif pada segmen UMKM ini mencapai 4,71 persen, yang mayoritas diserap oleh pelaku usaha mikro dengan porsi mencapai 42,17 persen. Parjiman pun memberikan apresiasi tersendiri terhadap capaian ini karena profil permodalan lokal di Bali memiliki ketahanan yang sangat baik.
“Penyaluran kredit UMKM di Provinsi Bali masih lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional, baik dari porsi kredit maupun pertumbuhan,” kata Parjiman, menurut sumber tersebut, Kamis (30/04).
Kekuatan UMKM ini sejalan dengan struktur ekonomi masyarakat Bali yang sangat dinamis dalam mengelola perdagangan besar maupun eceran. Sektor perdagangan sendiri memberikan kontribusi sebesar 27,24 persen dari total penyaluran kredit, meskipun pertumbuhannya terbilang tipis di angka 1,38 persen.
Lonjakan nominal paling terasa justru terjadi pada sektor akomodasi serta penyediaan makan dan minum yang bertambah sebesar Rp2,20 triliun. Angka pertumbuhan di sektor pendukung pariwisata ini melesat hingga 16,82 persen, membuktikan bahwa Bali masih menjadi magnet investasi utama.
Di sisi lain, keamanan perbankan dalam mengelola risiko juga menunjukkan performa yang patut diacungi jempol oleh para pemangku kepentingan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara gross berhasil ditekan hingga ke level 2,62 persen pada tahun ini.
Posisi ini jauh lebih sehat dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 3,13 persen pada periode yang sama di Februari 2025. Perbaikan kualitas aset ini tentu memberikan ruang bagi perbankan untuk lebih percaya diri dalam mengucurkan pinjaman-pinjaman baru di masa depan.
Penurunan risiko ini juga terlihat dari rasio Loan at Risk (LaR) yang merosot dari 11,94 persen menjadi hanya 9,29 persen saat ini. Keberhasilan dalam menyelesaikan berbagai program restrukturisasi kredit menjadi kunci utama di balik membaiknya profil risiko perbankan di wilayah Bali.
Tidak hanya bank umum, ketahanan Bank Perekonomian Rakyat atau BPR di Provinsi Bali juga terpantau tetap tangguh dalam menghadapi ketidakpastian. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal atau CAR yang terjaga di level 28,31 persen, jauh di atas batas aman yang ditetapkan.
Ketersediaan likuiditas yang melimpah ini berfungsi sebagai bantalan atau buffer yang kuat untuk memitigasi dampak dari gejolak ekonomi global. Parjiman pun optimis bahwa stabilitas industri jasa keuangan di daerahnya tetap terjaga dengan sangat baik hingga saat ini.
Fungsi intermediasi perbankan berjalan efektif di mana dana masyarakat disalurkan kembali untuk menggerakkan roda ekonomi yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat. Kondisi likuiditas yang terjaga memberikan rasa aman bagi para deposan sekaligus peluang bagi para debitur yang membutuhkan dukungan modal.
Secara keseluruhan, stabilitas industri keuangan di Bali dianggap tetap kokoh meskipun dinamika ekonomi domestik maupun global terus berubah dengan cepat. Keberhasilan menjaga profil risiko di tengah ekspansi kredit merupakan pencapaian strategis yang akan berdampak luas pada kesejahteraan warga Bali.
Melihat tren yang ada, prospek pembiayaan di Bali untuk sisa tahun 2026 ini diprediksi akan terus mengalami tren kenaikan yang berkelanjutan. Transformasi ekonomi ke arah investasi jangka panjang diharapkan dapat memperkuat struktur finansial daerah agar tidak mudah goyah oleh faktor eksternal.
Pemerintah dan otoritas terkait nampaknya akan terus mendorong kolaborasi antara lembaga keuangan dan sektor riil demi pertumbuhan yang inklusif. Bali kini tidak hanya sekadar destinasi wisata, namun juga menjadi laboratorium pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan dukungan industri keuangan yang sangat stabil.