FILM

Film Horor Waru Hadirkan Mitos Pohon Angker dan Drama Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

Film Horor Waru Hadirkan Mitos Pohon Angker dan Drama Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

JAKARTA - Film Waru bukan sekadar hiburan layar lebar biasa. Dalam karya terbaru yang siap mengunjungi bioskop Indonesia, mitos pohon waru—yang selama ini hidup dalam cerita rakyat masyarakat Jawa—ditarik keluar dari bisikan folklore menjadi narasi kuat penuh ketegangan visual dan emosional. Kisah yang selama ini hanya diceritakan secara turun-temurun kini dikemas dalam bentuk film horor dengan pesan moral dan konflik yang mendalam, bukan sekadar jump-scare belaka.

Mengangkat Akar Cerita Rakyat dan Kepercayaan Tradisional
Di balik gelapnya kanopi pohon waru, Waru membangun dunianya berdasarkan kepercayaan lama masyarakat Jawa yang mengaitkan pohon tertentu dengan keberadaan makhluk halus dan energi ghaib. Sutradara Chiska Doppert menegaskan bahwa keangkeran pohon itu bukan sekadar mitos kosong. “Waru itu punya kanopi yang sangat lebar, membuat area di bawahnya gelap, sejuk, dan lembap. Kondisi ini dalam kepercayaan masyarakat sering diasosiasikan sebagai tempat yang nyaman bagi makhluk astral,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Kepercayaan tersebut menjadi sumber inspirasi utama film ini, sehingga narasi horor yang dihadirkan terasa lekat dengan warisan budaya lokal.

Plot Sentral: Konflik Keluarga dan Pesugihan Mistis
Waru berkisah tentang Lydia, seorang perempuan yang sering mengalami kerasukan dan mengancam keselamatan keluarganya. Dalam kondisi putus asa, Lydia memohon kepada Nadine (diperankan oleh Bella Graceva) untuk menghancurkan pohon terkutuk di kampung halaman mereka—tempat diyakini sosok jahat bernama Iblis Waru bersemayam.

Kematian Lydia tidak mengakhiri kengerian, justru membuka babak baru dalam cerita: Nadine bersama teman-temannya menemukan rahasia gelap yang berakar pada sebuah perjanjian pesugihan kuno dan kekuatan ghaib yang menagih tumbal kepala manusia setiap tahun.

Alur ini bukan sekadar cerita horor biasa; Waru menempatkan unsur konflik batin, tanggung jawab keluarga, dan hubungan antara manusia dengan tradisi mistis sebagai elemen dramatis utama.

Kolaborasi Produksi, Lokasi Syuting, dan Pemeran Multinasional
Diproduseri oleh Aji Fauzi, dan diproduksi oleh Adglow Pictures bersama Suraya Film dan Film Q Indonesia, Waru menampilkan kombinasi pemain dari Indonesia, Malaysia, dan Australia. Keputusan untuk menghadirkan talenta lintas negara menunjukkan erosi batas-batas genre horor lokal menjadi tontonan berkelas global.

Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi yang dikenal memiliki aura mistis seperti Bogor, Sukabumi, Solo, dan kaki Gunung Lawu—memperkaya atmosfer film dengan latar alam yang autentik dan penuh teka-teki.

Horor Lebih dari Sekadar Ketakutan — Pesan Moral dan Psikologi
Menurut sutradara Chiska Doppert, Waru tidak mengejar horor instan, melainkan horor psikologis yang berlapis dengan makna. Alih-alih menggunakan efek visual saja untuk menakut-nakuti, film ini menghubungkan kengerian dengan latar budaya dan konflik emosional karakter.

Dalam sebuah sesi gala premiere, Chiska menyatakan bahwa pohon waru dibuat seolah “hidup” dan memiliki dimensi psikologis tersendiri dalam film tersebut. Hal ini membuat horor yang dibangun memiliki sebab-akibat yang jelas dan relevan dengan pengalaman karakter, bukan sekadar ketakutan visual semata.

Selain itu, Waru menyajikan plot twist yang tidak mudah ditebak, mendorong penonton untuk menyaksikan hingga akhir agar keseluruhan pesan cerita terbuka secara utuh.

Jadwal Tayang dan Ekspektasi Penonton
Film Waru dipastikan akan tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 12 Februari 2026. Dengan pendekatan horor yang kuat, tema mitos lokal yang jarang diangkat secara visual, serta perpaduan antara drama emosional dan elemen supranatural, Waru diharapkan menjadi salah satu film horor paling ditunggu tahun ini.

Karya ini menandai langkah penting dalam sinema Indonesia, di mana cerita rakyat dan folklor tradisional diintegrasikan dengan narasi film modern yang mendalam, menggugah, dan — tentu saja — menegangkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index