FASHION

Kilau Nusantara di Panggung Jogja Fashion Parade Satu Dekade 2026

Kilau Nusantara di Panggung Jogja Fashion Parade Satu Dekade 2026

JAKARTA— Saat panggung mode kembali bersinar di awal tahun 2026, Jogja Fashion Parade (JFP) bukan sekadar ajang fesyen tahunan — perhelatan ini menjadi cermin bagaimana budaya, kreativitas, dan tradisi tekstil Nusantara berpadu sejak dimulai satu dekade lalu. Menandai usia sepuluh tahun penyelenggaraan, JFP 2026 tampil lebih besar dan meriah dengan karya dari 159 desainer serta parade 550 model dari berbagai latar dan usia.

Evolusi Peragaan Mode yang Lebih Besar dan Inklusif

Berbeda dengan beberapa penyelenggaraan sebelumnya, JFP di Sleman City Hall, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 5–8 Februari 2026 memperlihatkan skala produksi dan partisipasi yang meningkat signifikan. Creative Director JFP 2026, Nyudi Dwijo Susilo, menegaskan bahwa event tahun ini “lebih besar, pesertanya lebih banyak, dan jangkauannya lebih luas.”

Jumlah desainer — 159 orang yang karyanya ditampilkan — bukan hanya berasal dari Yogyakarta atau Pulau Jawa, tetapi juga dari berbagai provinsi di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Sulawesi. Pendekatan ini memperkaya tema fashion dengan beragam identitas budaya lokal yang diambil dari masing-masing daerah.

Lebih dari sekadar parade mode, kolaborasi lintas wilayah ini menggambarkan JFP sebagai ruang bertemunya kreativitas generasi desainer dari berbagai latar budaya dan estetika — suatu cerminan pluralitas fesyen Nusantara.

Pesona Vastra Prabha: Tema yang Bermakna

Untuk perayaan sepuluh tahun penyelenggaraan, JFP 2026 mengusung tema “Vastra Prabha” — sebuah istilah yang merujuk pada kilauan wastra Nusantara yang memesona. Menurut Nyudi, tema ini memiliki konotasi estetika dan simbolis: bukan semata tampilan visual busana, melainkan cara mencerminkan karakter, budaya, dan jiwa lokal yang terpancar melalui kain.

Dalam pandangan ini, mode bukan hanya produk komersial atau tren global semata, tetapi juga medium ekspresi yang memadukan nilai budaya, karakter personal desainer, serta cerita masyarakat yang melatarinya.

Tema Vastra Prabha memperkuat peran JFP sebagai wadah apresiasi budaya lokal dalam konteks fesyen modern. Dengan demikian, gelaran ini tidak hanya memperlihatkan karya desainer, tetapi juga mendorong penonton dan pelaku industri untuk melihat fesyen dari perspektif seni dan warisan budaya.

Model dari Beragam Latar: Profesional hingga Anak Muda

Salah satu aspek yang menarik dari penyelenggaraan tahun ini adalah keberagaman model yang tampil di atas panggung. Dari total partisipan 550 model, sekitar 50 di antaranya profesional. Sisanya merupakan model anak-anak dan remaja yang antusias berpartisipasi dalam event ini.

Kehadiran model dari berbagai usia ini bukan hanya memperluas daya tarik acara, tetapi juga menciptakan suasana inklusif yang jarang terlihat pada ajang mode besar lain. Anak-anak dan remaja yang berlenggak-lenggok di catwalk menjadi representasi bahwa fesyen juga dapat menjadi ruang ekspresi seni bagi generasi muda.

Partisipasi model yang lebih muda bukan sekadar hiburan, tetapi menunjukkan bahwa dunia fesyen Indonesia tengah membuka ruang regeneratif yang memberi peluang bagi talenta dari berbagai tingkatan pengalaman.

Kolaborasi dan Dukungan yang Menguatkan JFP

Perayaan sepuluh tahun ini tak lepas dari kolaborasi berbagai pihak yang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan JFP 2026. Gelaran ini merupakan buah kerja sama Asmat Pro Group bersama Sleman City Hall, didukung pula oleh lembaga dan organisasi yang berkaitan dengan fesyen dan ekonomi kreatif.

Beberapa di antaranya adalah Dekranasda Kabupaten Sleman, Disperindag Sleman, serta berbagai komunitas dan akademi seperti Jogja Model Academy dan Yayasan Fashion Jogja Istimewa. Di luar itu, dukungan dari penyedia makeup profesional dan manajemen talenta turut memberikan kontribusi teknis yang penting, termasuk LT Pro Professional Make Up, Konsep by Phillip, dan Editrix Model & Talent Management.

Kerangka kolaboratif ini menunjukkan bahwa JFP bukan hanya event tahunan, melainkan platform industri kreatif yang terintegrasi dengan ekosistem pendidikan, bisnis, dan komunitas fesyen.

Panggung Perayaan yang Mendorong Nilai Industri Fesyen

Selama empat hari acara ini digelar, penonton tidak hanya menyaksikan parade busana, tetapi juga dapat melihat bagaimana fesyen menjadi medium kreatif yang memadukan seni tradisional dengan inovasi modern. JFP 2026 juga berfungsi sebagai ajang edukasi tidak formal, di mana masyarakat, pelaku industri, dan pelajar dapat mengambil inspirasi dan wawasan.

Keikutsertaan desainer dari seluruh Indonesia mencerminkan karakter nasional event ini, serta bagaimana fesyen tradisional dan kontemporer dapat dirayakan secara bersamaan. Ini menjadi pusat dialog antara estetika lokal dan tantangan ekonomi kreatif di Indonesia dalam era globalisasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index