Vietnam Terancam Defisit Listrik 61 Miliar kWh pada 2030, Utara Paling Berisiko

Rabu, 16 September 2026 | 16:36:00 WIB

FINANSIALFOKUS.COM — Vietnam berpotensi mengalami kekurangan kapasitas pembangkit hingga hampir 14 gigawatt (GW) pada 2030, dengan defisit listrik mencapai 61,18 miliar kWh. Kesenjangan pasokan ini dipicu lambatnya realisasi proyek pembangkit dan jaringan transmisi di bawah Power Development Plan 8. Kawasan utara yang menjadi pusat manufaktur elektronik dan semikonduktor diprediksi menanggung beban kekurangan terbesar.

Berdasarkan data portal informasi pemerintah Vietnam.vn, sistem kelistrikan negara itu berisiko kekurangan kapasitas pembangkit sekitar 4,3 GW pada 2027. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan defisit listrik hingga 2,9 miliar kWh pada tahun yang sama.

Defisit ini tidak berhenti di 2027. Angka kekurangan kapasitas diperkirakan melebar menjadi 8,3 GW pada 2028 dengan defisit 20,7 miliar kWh, lalu 13,3 GW pada 2029 dengan defisit 50,4 miliar kWh.

Utara Vietnam Jadi Titik Paling Rentan

Kawasan utara Vietnam diprediksi mengalami kekurangan pasokan paling berat. Wilayah ini mencakup Hanoi, Hai Phong, Bac Ninh, Hai Duong, dan Quang Ninh.

Bac Ninh dan Hai Phong tercatat sebagai magnet investasi manufaktur berteknologi tinggi, mulai dari elektronik, semikonduktor, otomotif, hingga mesin. Pada 2030, kawasan utara diperkirakan kekurangan kapasitas pembangkit sekitar 13 GW atau setara defisit 44,65 miliar kWh.

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Lê Mạnh Hùng pada Juli 2026 meminta kementeriannya menyiapkan sejumlah skenario untuk menjamin kecukupan pasokan listrik pada 2027.

Realisasi Power Plan 8 Baru 5 Persen

Laporan terbaru Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam menunjukkan pembangunan proyek kelistrikan berjalan jauh dari target. Setelah lebih dari tiga tahun Power Development Plan 8 dijalankan, baru sekitar 5 persen proyek pembangkit skala besar yang beroperasi.

Rincian status proyek pembangkit listrik Vietnam:

  • Sekitar 5 persen proyek sudah beroperasi
  • 9 persen kapasitas masih dalam tahap konstruksi
  • 28 persen sudah punya investor tetapi belum mulai konstruksi
  • 12 persen masih tahap perencanaan investasi tanpa investor
  • 45 persen belum memiliki rencana investasi

Masalah serupa menghantam jaringan transmisi. Vietnam Electricity Group (EVN) dan unit usahanya menargetkan penyelesaian 292 proyek jaringan pada 2025-2030, terdiri atas 78 proyek 500 kV dan 214 proyek 220 kV.

Proyek tersebut mencakup pembangunan lebih dari 16 ribu kilometer jaringan listrik dan kapasitas transformator sekitar 91 ribu MVA. Namun, jumlah itu hanya sekitar 28,6 persen dari proyek jaringan yang tercantum dalam Power Development Plan 8.

Angka tersebut juga hanya setara 40,2 persen dari kebutuhan proyek jaringan seluruh sistem pada periode 2025-2030. Sisanya bergantung pada investasi pihak lain.

Permintaan Listrik Naik 9,7 Persen

Di sisi permintaan, produksi listrik Vietnam pada 2026 diperkirakan mencapai 354,4 miliar kWh atau naik sekitar 9,7 persen dibandingkan 2025. Kementerian menilai pasokan 2026 masih cukup untuk kebutuhan nasional.

Kesenjangan pasokan dan permintaan diprediksi mulai muncul pada 2027 jika pembangunan proyek tidak dipercepat.

Strategi PLTS, BESS, dan Impor Listrik

Pemerintah Vietnam menyiapkan sejumlah langkah untuk menutup kekurangan pasokan. Percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi salah satu prioritas utama.

Pada 2027-2028, pemerintah daerah akan diberi target pengembangan PLTS untuk kebutuhan sendiri. Tahap awal menggunakan anggaran negara untuk pemasangan di kantor pemerintah, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik dengan kapasitas sekitar 2,8 GW. Pembangunan ditargetkan rampung sebelum Juni 2027.

Pemerintah juga mendorong pemasangan PLTS untuk kebutuhan sendiri di kawasan industri, fasilitas produksi, dan perusahaan. Pembangkit tersebut akan dipadukan dengan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy storage system (BESS).

Kapasitas PLTS ditargetkan mencapai sekitar 3-5 GW sebelum musim kemarau 2027 dan 2028. Vietnam juga akan menambah kapasitas BESS sekitar 2-3 GW untuk memenuhi kebutuhan listrik pada jam beban puncak selama 2027-2028.

Opsi lain yang disiapkan mencakup penambahan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara serta impor listrik dari Laos dan Cina. Kombinasi langkah ini dinilai menjadi jalan pintas untuk menambal defisit sebelum proyek besar rampung.

Bagi pelaku industri di kawasan utara, risiko defisit listrik ini menjadi sinyal perlunya diversifikasi sumber energi dan efisiensi operasional. Investasi mengandung risiko.

Terkini