Daya Beli Kelas Menengah Tertekan dan Aliran Uangnya

Jumat, 11 September 2026 | 19:36:32 WIB
Ilustrasi optimisme konsumen meningkat. ( sumber : net )

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen.

Konsumsi rumah tangga juga tetap tumbuh.

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa ruang keuangan masyarakat, khususnya kelas menengah, masih longgar.

Justru, sejumlah indikator menunjukkan masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pendapatan.

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Juli 2026 menunjukkan, porsi pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi mencapai 72,7 persen.

Angka itu sedikit meningkat dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 73 persen.

Pada saat yang sama, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang meningkat menjadi 10,5 persen dari sebelumnya 10 persen.

Sebaliknya, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun menjadi 16,8 persen dari 17 persen.

Dengan demikian, masyarakat masih membelanjakan sebagian besar pendapatannya.

Namun, ruang yang tersisa untuk menambah tabungan semakin terbatas.

Kondisi itu terjadi meskipun keyakinan konsumen masih berada di zona optimistis.

BI mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 berada di level 116,8.

Angka tersebut memang turun dari 117,8 pada Juni 2026, tetapi masih berada di atas level 100 yang menunjukkan konsumen tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi.

Lantas, ke mana uang masyarakat kelas menengah pergi?

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, tekanan yang dirasakan kelas menengah terutama berasal dari pertumbuhan pendapatan yang tidak mampu mengejar peningkatan kebutuhan hidup.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat sebenarnya masih mampu mempertahankan konsumsi.

Namun pilihan pengeluarannya menjadi semakin selektif.

Kebutuhan yang sifatnya wajib akan tetap dipenuhi, sedangkan pengeluarannya yang dapat ditunda, seperti pembelian barang tahan lama, rekreasi, atau pembentukan aset, menjadi lebih mudah dikurangi.

Persoalan tersebut juga tidak hanya berkaitan dengan tingkat inflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IHK pada Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tercatat sebesar 2,88 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen.

Meskipun inflasi rendah, harga barang dan jasa yang sudah mengalami kenaikan tidak otomatis kembali ke tingkat sebelumnya.

Akibatnya, rumah tangga tetap harus menanggung biaya hidup yang lebih tinggi.

Josua menilai kondisi tersebut membuat kemampuan masyarakat untuk membangun bantalan keuangan semakin terbatas.

Terkini

Pasokan BBM SPBU Sulsel Ditingkatkan Pertamina Patra Niaga

Sabtu, 12 September 2026 | 20:06:31 WIB

Daya Beli Kelas Menengah Tertekan dan Aliran Uangnya

Jumat, 11 September 2026 | 19:36:32 WIB

Harga Minyak Tembus US$ 100, Risiko Beban APBN Membesar

Jumat, 11 September 2026 | 19:36:32 WIB

Wealth Management BNI Tumbuh, AUM Segmen Private Naik 21%

Jumat, 11 September 2026 | 19:36:32 WIB