JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menerapkan strategi pertumbuhan kredit secara selektif di tengah upaya menjaga kualitas aset.
Perseroan tidak hanya mengejar percepatan penyaluran kredit, tetapi juga memastikan ekspansi dilakukan kepada segmen dan debitur dengan profil risiko yang terukur.
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan strategi selective growth menjadi pendekatan perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas kredit.
Melalui strategi tersebut, BRI mengarahkan ekspansi kepada sektor, segmen, dan nasabah yang memiliki tingkat risiko sesuai dengan kapasitas pengelolaan perseroan.
“Setiap pertumbuhan harus memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery,” ujar Ety dari Sumbernya.
Strategi tersebut dilakukan saat pertumbuhan kredit BRI masih berada dalam tren ekspansi.
Hingga akhir Triwulan II/2026, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI tumbuh 16,2% (year on year/YoY) menjadi Rp1.646 triliun.
Pertumbuhan tersebut berada di atas industri perbankan.
Meski mencatat pertumbuhan kredit yang tinggi, BRI mampu menjaga perbaikan sejumlah indikator risiko.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) turun menjadi 2,9% pada akhir kuartal II/2026 dari 3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain NPL, rasio loan at risk (LaR) BRI juga membaik menjadi 9,1% pada akhir kuartal II/2026 dari 9,6% pada akhir 2025.
Penurunan tersebut mencerminkan adanya perbaikan kualitas portofolio kredit perseroan.
Ety menyebut penguatan manajemen risiko menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis, terutama dengan besarnya eksposur BRI pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurutnya, portofolio UMKM tidak hanya berperan dalam mendukung inklusi keuangan, tetapi juga harus dikelola sebagai bisnis dengan disiplin risiko yang kuat.
Di sisi lain, perbaikan kualitas kredit turut menekan biaya risiko perseroan.
Cost of Credit (CoC) BRI turun menjadi 3,1% pada akhir kuartal II/2026 dari 3,4% pada kuartal II/2025.
Selain itu, hingga kuartal II/2026, total aset BRI Group mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% YoY, sementara laba bersih konsolidasian tercatat Rp31,2 triliun atau meningkat 17,5% YoY.