Rupiah Melemah ke Rp 17.646 per Dolar AS, Cadangan Devisa Naik

Selasa, 08 September 2026 | 13:47:28 WIB
Rupiah Melemah ke Rp 17.646 per Dolar AS. ( sumber : net )

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp 17.646 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.642 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah pada perdagangan pagi ini salah satunya dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Dalam perdagangan pagi ini rupiah melemah, salah satu penyebabnya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah,” kata Ibrahim dari Sumbernya.

Menurut dia, meningkatnya ketegangan tersebut turut mengangkat indeks dolar AS dan harga minyak mentah, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ibrahim menyebut harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 91,92 dolar AS per barel atau sekitar Rp 1,62 juta per barel, sedangkan minyak mentah Brent sekitar 96,55 dolar AS per barel atau setara Rp 1,70 juta per barel.

Kenaikan harga minyak, lanjut dia, dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk memenuhi kebutuhan impor minyak.

“Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim dari Sumbernya.

Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian karena, menurut dia, turut memengaruhi kegiatan ekonomi akibat gangguan terhadap penerbangan.

“Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap ekonomi di Indonesia. Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup,” tutur Ibrahim dari Sumbernya.

Dia juga mengatakan pelaku pasar menantikan sejumlah data ekonomi domestik, antara lain perkembangan cadangan devisa, penjualan eceran, dan indeks keyakinan konsumen.

Sementara itu, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga kebijakan The Fed pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) September 2026.

Nonfarm payrolls AS meningkat sebesar 162 ribu pada Agustus 2026, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 55 ribu dan angka bulan sebelumnya yang telah direvisi menjadi 21 ribu.

Tingkat pengangguran tetap sebesar 4,1 persen.

“Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar yang tercermin dalam pricing terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60 persen, dari sekitar 50 persen, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” ujar Josua dari Sumbernya.

Lebih lanjut, ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin bergerak pada kisaran Rp 17.600-Rp 17.725 per dolar AS.

Cadangan Devisa Indonesia Pada Agustus 2026 Naik.

Di tengah melemahnya Rupiah, Bank Indonesia (BI) mencatatkan posisi cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 146,5 miliar dolar AS.

Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS.

“Perkembangan posisi cadangan devisa Agustus 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dari Sumbernya.

Ia menerangkan, posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” terang Denny dari Sumbernya.

Ke depan, lanjut Denny, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing, sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Denny dari Sumbernya.

Tags

Terkini