Penyaluran Kredit BRI Melaju 16,2 Persen di Kuartal II 2026

Selasa, 08 September 2026 | 13:47:28 WIB
Kredit BRI. ( sumber : net )

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) membukukan perkembangan bisnis yang tangguh sampai kuartal II 2026.

Pembiayaan BRI menanjak 16,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.646 triliun, disokong likuiditas serta permodalan yang senantiasa kokoh.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengemukakan, situasi likuiditas perseroan senantiasa terkendali di tengah ekspansi pembiayaan.

Perkara itu tampak dari perbandingan Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank yang bertengger di kisaran 90,8%.

Di samping itu, perbandingan kecukupan modal ataupun Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI terdata sebesar 21,5% pada kuartal II 2026.

“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas,” ujar Achmad dari Sumbernya.

Dari ranah perhimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI menggapai Rp1.581 triliun sampai penghujung kuartal II 2026, menanjak 6,7% yoy.

Kenaikan DPK tersebut diiringi bersama pemulihan susunan perhimpunan dana, tampak dari perbandingan Current Account and Savings Account (CASA) yang menaik dari 65,5% menjadi 67,6%.

Susunan perhimpunan dana yang kian bermutu menyuguhkan ruang bagi BRI untuk menyokong ekspansi pembiayaan.

Pada saat yang serupa, permodalan yang tangguh menjadi penyangga bagi perseroan guna mengawal ketahanan terhadap ancaman risiko.

Di tengah ekspansi pembiayaan, BRI senantiasa mengawal mutu aset.

Perbandingan pembiayaan bermasalah ataupun Non-Performing Loan (NPL) merosot dari 3,07% pada 2025 menjadi 2,9% pada kuartal II 2026.

Koreksi tersebut seirama bersama strategi selective growth yang dijalankan BRI, mencakup penguatan early warning system pada segmen ritel sekalian optimalisasi fungsi collection and recovery.

Ancaman risiko pembiayaan pun memperlihatkan arah positif.

Perbandingan Loan at Risk (LaR) merosot dari 9,6% pada penghujung 2025 menjadi 9,1% di penghujung kuartal II 2026.

Sementara itu, Cost of Credit (CoC) merosot dari 3,4% pada penghujung 2025 menjadi 3,1% pada penghujung kuartal II 2026.

Pemulihan sekian banyak parameter fundamental tersebut turut menopang pencapaian keuangan BRI.

Keseluruhan aset perseroan menggapai Rp2.352 triliun, menanjak 11,7% yoy.

Konfirmasi kenaikan aset utamanya disokong oleh percepatan pembiayaan yang menanjak 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun.

Perkembangan bisnis yang diserta-merta dengan pemulihan fundamental tersebut memicu laba bersih BRI menggapai Rp31,2 triliun, menanjak 17,5% yoy.

Bersama situasi fundamental yang senantiasa terkendali, BRI meneruskan fungsi intermediasi utamanya pada ranah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjelma sebagai bisnis inti perseroan.

Konsentrasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar BRI memperluas inklusi keuangan sekalian menyokong pelbagai agenda prioritas pemerintah.

Tags

Terkini