Penyaluran Kredit BRI Naik 16,2 Persen di Triwulan II 2026

Selasa, 08 September 2026 | 13:47:28 WIB
Kredit BRI. ( sumber : net )

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ataupun BRI senantiasa mengawal perkembangan bisnis agar selaras bersama mutu aset.

Upaya tersebut dieksekusi lewat penerapan kaidah kehati-hatian serta pengaturan risiko secara tertib.

Sampai penghujung Triwulan II 2026, kenaikan alokasi kredit serta pembiayaan BRI tercatat melampaui sektor perbankan.

Pencapaian itu pun diserta-merta dengan koreksi pada sekian banyak parameter mutu aset perseroan.

Di dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 di Jakarta, Senin (31/8), Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menguraikan, perolehan tersebut ialah bagian dari strategi perseroan guna memacu perluasan bisnis yang sehat serta bermutu.

Berdasarkan pandangannya, strategi pertumbuhan BRI tidak sekadar berfokus pada kenaikan volume kredit.

Perseroan pun memastikan tiap perluasan berjalan sesuai koridor risk appetite dan senantiasa mengutamakan kaidah kehati-hatian.

“Pertumbuhan kredit dan pembiayaan BRI pada Triwulan II 2026 berada di atas industri perbankan dan diikuti dengan perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan. Hal ini mencerminkan bahwa ekspansi yang kami lakukan tetap berjalan secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kami terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas kredit agar pertumbuhan BRI dapat berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Ety dari Sumbernya.

Mutu pertumbuhan itu tergambar dari membaiknya perbandingan kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL), dari 3,0% pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9% di penghujung Triwulan II 2026.

Koreksi NPL menjadi salah satu tolok ukur keampuhan strategi pengaturan risiko yang dijalankan BRI di tengah percepatan alokasi kredit.

Menurut Ety, BRI secara konsisten mengaplikasikan strategi selective growth atau pertumbuhan selektif lewat pengarahan perluasan kepada segmen, sektor, dan nasabah yang mempunyai takaran risiko terukur.

Strategi tersebut diikuti bersama penguatan early warning system sekalian optimalisasi fungsi collection dan recovery demi menjaga mutu portofolio secara menyeluruh.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery,” jelas Ety dari Sumbernya.

Perbaikan mutu kredit BRI pun tampak pada parameter yang bersifat forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR).

Sampai penghujung Triwulan II 2026, perbandingan LaR BRI membaik menjadi 9,1% dari 9,6% pada akhir 2025.

Susutnya angka tersebut memperlihatkan pemulihan takaran risiko portofolio sekalian merefleksikan koreksi mutu alokasi kredit baru.

Seirama bersama membaiknya NPL dan LaR, Cost of Credit (CoC) BRI pun merosot dari 3,4% pada Q2 2025 menjadi 3,1% di penghujung Triwulan II 2026.

Koreksi CoC memperlihatkan bahwa peningkatan mutu aset turut berimbas positif terhadap beban risiko perseroan.

Di sisi lain, BRI mempunyai keunggulan berupa jaringan yang membentang luas serta basis nasabah yang beraneka ragam.

Karakteristik itu membolehkan BRI merakit portofolio kredit yang beraneka ragam secara kewilayahan maupun sektoral sehingga memperkokoh ketahanan perseroan dalam menghadapi gejolak perekonomian.

Pengaturan mutu kredit tersebut pun krusial mengingat UMKM merupakan core business BRI.

Bagi BRI, besarnya paparan UMKM bukan sekadar sebagai instrumen guna memperluas inklusi keuangan serta menggerakkan ekonomi kerakyatan, melainkan pula sebagai portofolio bisnis yang wajib dikelola secara sehat bersama ketertiban pemantauan risiko yang kokoh.

“Model bisnis berbasis UMKM memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena langsung menyentuh aktivitas produktif masyarakat. Pada saat yang sama, kami terus membuktikan bahwa portofolio tersebut dapat dikelola dengan tingkat risiko yang memadai. Dengan pengelolaan risiko yang disiplin, UMKM dapat terus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan BRI sekaligus memperkuat kontribusi perseroan terhadap ekonomi kerakyatan,” pungkas Ety dari Sumbernya.

Perbaikan mutu aset tersebut turut menyokong kinerja BRI yang tangguh.

Sampai Triwulan II 2026, keseluruhan aset BRI Group menggapai Rp2.352 triliun ataupun bertumbuh 11,7% YoY, sementara alokasi kredit bertumbuh 16,2% YoY menjadi Rp1.646 triliun.

Pada rentang waktu yang serupa, laba bersih konsolidasian perseroan terdata sebesar Rp31,2 triliun ataupun menanjak 17,5% YoY.

Tags

Terkini