Analisis BI Terkait Penyebab Rupiah Melemah Beserta Solusinya

Senin, 07 September 2026 | 10:59:26 WIB
Deputi Gubernur Bank Indonesia. ( sumber : net )

BANDAR LAMPUNG - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sejumlah faktor yang menentukan stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Jumat (4/9/2026) ditutup menguat 0,21 persen atau 37 poin ke level Rp 17.642 per dollar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan, kunci utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah adalah menjaga keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) valuta asing (valas).

“Oke, menjaga keseimbangan ya, kuncinya menjaga keseimbangan.

Jadi ini sebetulnya kalau kami bicara nilai tukar, itu sama seperti bicara supply demand ya,” kata Fili dalam Lampung Financial Festival di Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).

Menurut dia, ketika permintaan terhadap dollar AS tinggi sementara pasokannya terbatas, harga dollar AS akan meningkat.

Kondisi tersebut kemudian dapat menyebabkan rupiah melemah.

“Kalau demand-nya banyak, supply-nya sedikit, apa yang terjadi? Harganya jadi mahal, ya kan,” ujarnya.

Fili menjelaskan, pasokan valas antara lain dipengaruhi oleh aktivitas ekspor dan investasi asing.

Ketika Indonesia melakukan ekspor, pelaku usaha memperoleh devisa dalam bentuk mata uang asing, termasuk dollar AS.

Begitu pula ketika investor asing menanamkan modal di Indonesia atau membeli surat berharga domestik.

Arus modal masuk (capital inflow) tersebut akan menambah pasokan valas di dalam negeri.

Sebaliknya, permintaan terhadap dollar AS meningkat ketika Indonesia melakukan impor barang maupun jasa dari luar negeri.

Pembayaran impor menggunakan mata uang asing sehingga meningkatkan kebutuhan dollar AS.

Selain impor, arus modal keluar (capital outflow) atau repatriasi juga dapat meningkatkan permintaan terhadap valas.

Fili mengatakan, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah.

Pertama adalah faktor fundamental, termasuk kondisi defisit transaksi berjalan (current account) dan neraca perdagangan serta keseimbangan supply dan demand valas domestik.

“Kedua adalah faktor struktural di mana ada permintaan dari pelaku domestik dan pelaku asing.

Dan yang ketiga adalah faktor sentimen, artinya kondisi global,” kata dari Sumbernya.

Menurut Fili, kondisi global seperti perang di Timur Tengah juga dapat memengaruhi nilai tukar.

Ketika konflik mendorong kenaikan harga minyak, tekanan terhadap dollar AS dan rupiah dapat meningkat.

Fili menegaskan, BI akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valas.

Ketika permintaan dollar AS meningkat dan pasokannya terbatas, BI dapat menjual dollar AS dari cadangan devisa untuk menambah pasokan di pasar.

Sebaliknya, ketika pasokan dollar AS terlalu banyak sehingga harganya turun, BI dapat membeli dollar AS di pasar.

“Jadi Bank Indonesia akan melanjutkan stabilisasi nilai tukar.

Kalau dolarnya meningkat tadi harganya 20.000, artinya apa? Demand-nya terlalu tinggi supply-nya terbatas ya sehingga itu naik harganya.

Sehingga Bank Indonesia akan menjual dolar dari cadangan devisa kami supaya ada tambahan supply di pasar,” ujarnya.

Fili menjelaskan, intervensi tersebut dapat dilakukan melalui transaksi spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

“Yang dilakukan Bank Indonesia kami bisa beli spot langsung ya, bisa juga membeli DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward).

Jadi itu hanya spread-nya aja ya.

Dan ini kami lakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata dari Sumbernya.

Selain intervensi langsung, BI juga mengelola permintaan dollar AS dengan memperkuat transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).

Saat ini, Indonesia telah bekerja sama dengan sejumlah negara dalam penerapan LCT.

Dengan mekanisme tersebut, pelaku usaha tidak harus menggunakan dollar AS dalam transaksi perdagangan dengan negara mitra.

“Kalau dengan Cina dia bisa bayarnya pakai Chinese Yuan.

Kalau dengan Singapura dia bisa bayarnya dengan Singapore Dollar ya.

Jadi tidak akan menambah demand terhadap US Dollar,” ujarnya.

BI juga terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pelaku pasar serta meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik untuk mendorong arus modal masuk.

Menurut Fili, investor akan menempatkan dananya di negara yang menawarkan imbal hasil dan keuntungan yang menarik.

“Oleh karena itu kami harus menciptakan satu kondisi di mana surat-surat berharga kami, investasi kami menarik lebih menarik daripada negara lain,” kata dari Sumbernya.

Untuk itu, BI menjaga daya tarik instrumen seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) serta surat berharga negara (SBN).

BI juga memberikan insentif swap bagi investor yang melakukan transaksi lindung nilai (hedging).

Fili menambahkan, intervensi BI melalui penjualan dollar AS juga perlu diimbangi dengan pengelolaan likuiditas rupiah.

Sebab, ketika BI menjual dollar AS di pasar, BI menerima pembayaran dalam rupiah.

Hal tersebut dapat menyebabkan likuiditas rupiah di pasar menjadi lebih ketat.

“Pada saat kami menjual dolar artinya tadi dibayarnya dengan Rupiah.

Artinya Rupiah di industri di pasar akan ketat,” ujarnya.

Untuk menjaga agar likuiditas rupiah tidak terganggu, BI dapat melakukan operasi moneter ekspansi dengan menambah likuiditas rupiah di pasar.

“Ekspansi itu artinya Bank Indonesia menggelontorkan Rupiah ya.

Kalau kontraksi Bank Indonesia tarik Rupiah ya,” kata dari Sumbernya.

Selain itu, BI dapat membeli SBN.

Pembelian tersebut akan menyalurkan likuiditas rupiah ke pasar karena BI membayar SBN yang dibeli menggunakan rupiah.

“Pada saat kami membeli SBN itu artinya kami menggelontorkan karena beli kami dapat SBN-nya kami bayarnya pakai Rupiah.

Jadi Rupiahnya juga ada likuiditas Rupiah di pasar ya,” tutur dari Sumbernya.

Tags

Terkini