Harga Emas Tertekan di Bawah US$4.400 Akibat Isu Suku Bunga The Fed

Rabu, 02 September 2026 | 13:04:57 WIB
Suku Bunga The Fed Mendominasi. ( SUMBER : NET )

WASHINGTON - Emas merosot semakin jauh pada hari Selasa seusai berbalik dari posisi tertinggi lebih dari tiga bulan pekan lalu.

Anggapan The Fed hawkish serta meningginya tingkat pengembalian obligasi Pemerintah AS menjadikan logam mulia ini berada dalam tekanan.

XAU/USD menguji wilayah support utama tatkala momentum bergeser kepada pihak penjual.

Emas (XAU/USD) meneruskan pullback dari posisi puncak lebih dari tiga bulan yang tersentuh pekan lalu serta jatuh ke level terendah baru dua pekan pada hari Selasa.

Meningkatnya proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta ketegangan anyar di Timur Tengah tetap menjadi penggerak utama di balik penurunan termutakhir ini.

Akan tetapi, data ekonomi AS yang lebih lemah ketimbang prakiraan membantu menahan kejatuhan lebih lanjut.

Pada saat pemberitaan ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan pada sekitar US$4.373, merosot nyaris 1,68% pada hari ini seusai menyentuh titik terendah dalam transaksi harian di US$4.326.

Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur ISM melorot ke 54,6 pada bulan Agustus dari 55,6 pada bulan Juli, meleset dari prakiraan pasar di 55,2.

Indeks Harga Dibayar ISM bertahan ajek pada 71,1, di bawah ekspektasi 72,0, sementara Lowongan Pekerjaan JOLTS menanjak ke 7,271 juta pada bulan Juli dari 7,182 juta tetapi tetap di bawah prakiraan 7,3 juta.

Walau data meleset dari prakiraan, anggapan bahwa The Fed sanggup menaikkan suku bunga secepat bulan ini menjadikan Dolar AS serta tingkat pengembalian obligasi Pemerintah AS tetap disokong.

Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan pada kisaran 99,64, naik 0,23% pada hari ini.

Sementara itu, tingkat pengembalian obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun acuan berada di sekitar 4,76% seusai menyentuh 4,80%, posisi tertinggi semenjak Januari 2025.

Dolar AS yang lebih tangguh menjadikan Emas berdenominasi Dolar lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sementara tingkat pengembalian obligasi Pemerintah AS yang lebih tinggi mendongkrak biaya peluang untuk menahan logam yang tidak berimbal hasil.

Nada tegas Pimpinan Kevin Warsh berkaitan dengan inflasi di Simposium Jackson Hole menghidupkan lagi prakiraan kenaikan suku bunga, dengan CME FedWatch Tool memperlihatkan probabilitas sekitar 65% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan 15-16 September, naik dari sekitar 40% sepekan lalu.

Petinggi The Fed, dari Sumbernya, menyertakan nada hawkish pada hari Selasa, dengan menyampaikan bahwa "persistensi inflasi di atas target menciptakan risiko."

dari Sumbernya menyampaikan dari Sumbernya mendukung suku bunga yang stabil jika yakin inflasi sedang melandai, tetapi memperingatkan bahwa "jika inflasi tidak segera melandai, maka akan tiba waktunya untuk menaikkan suku bunga."

Pada waktu yang bersamaan, kenaikan harga Minyak menambah kekhawatiran inflasi dan memperkokoh prakiraan bahwa bank-bank sentral utama mungkin harus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik selama dua hari berturut-turut menyusul memanasnya kembali situasi di sekitar Selat Hormuz.

Biasanya, kekhawatiran terhadap inflasi serta geopolitik menyokong Emas.

Namun, pasar saat ini bereaksi lewat kanal suku bunga, dan logam ini cenderung berkinerja buruk manakala suku bunga serta tingkat pengembalian obligasi Pemerintah AS naik.

Dengan demikian, penjual kemungkinan bakal tetap menguasai kendali dalam jangka pendek, walaupun data ekonomi AS yang bakal datang serta perkembangan di Timur Tengah sanggup memicu volatilitas anyar.

Perhatian kini beralih menuju laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP pada hari Rabu dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang diawasi ketat pada hari Jumat.

Tags

Terkini