JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengutarakan supaya Bank Indonesia (BI) senantiasa merawat independensi di tengah penguatan sinergi dengan pemerintah.
Berdasar keterangannya, sinergi antara BI dan pemerintah tidak menjadikan kedudukan bank sentral dalam kondisi subordinasi, ataupun berada di bawah pihak lain.
"Saya tetap melihat bahwa Bu Destry tetap mengedepankan independensi dari Bank Indonesia. Artinya, sekalipun sinergi itu kan belum berarti harus subordinasi," ujar Josua saat ditemui di Kementerian Keuangan Jakarta Pusat, Rabu (26/8).
Berdasar pandangan Josua, sinergi kebijakan antara BI dan pemerintah tetap dijalankan pada kedudukan yang setara.
Hal tersebut lantaran salah satu keunggulan BI ialah mempunyai bauran kebijakan.
Lewat instrumen tersebut, BI sanggup mengoperasikan kebijakan moneter sekalian memakai kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, serta pendalaman pasar finansial.
Oleh karenanya, ia menaksir situasi tersebut menjadikan BI lebih luwes di dalam menyikapi situasi ekonomi.
"Di sinilah yang menjadi satu diferensiasi dari Bank Indonesia di mana bauran kebijakan ini membuat Bank Indonesia jadi bisa lebih lentur," katanya.
Selanjutnya, Josua menuturkan keluwesan tersebut tetap wajib memperhitungkan stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia pun menyoroti situasi current account deficit yang menurutnya berada sekitar 3 persen dan menjadi yang paling landai semenjak 2018.
Di sisi lain, proyeksi pasar terhadap eskalasi suku bunga The Fed pada tahun depan masih perlu dicermati.
"Artinya BI pun juga ruang penurunan suku bunga BI pun juga di jangka pendek ini masih tetap terbatas," tutur Josua.
Josua berharap hasil uji kepatutan dan kelayakan Destry nantinya tetap menjaga kemandirian BI serta koordinasi dan sinergi bersama pemerintah sanggup kian ditebalkan.
Ia menyebut penguatan koordinasi tersebut sanggup dijalankan lewat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
"Harapannya independensi BI tetap dijaga. Kedua, tadi adalah koordinasi sinergi dengan pemerintah akan lebih memperkuat lagi, harapannya di dalam KSSK ini akan lebih mempertebal tadi lagi koordinasi kebijakan," terangnya.
Kendati demikian, Josua mengingatkan bahwa sokongan terhadap ekonomi tidak sekadar bersandar pada kebijakan fiskal dan moneter.
Pembaruan struktural di kementerian/lembaga (K/L) pun menjadi hal krusial yang wajib dieksekusi.
Ia berharap dengan calon-calon Anggota Dewan Gubernur BI yang anyar, koordinasi dalam KSSK sanggup kian elok.
Sebelumnya, Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjabarkan lima prakarsa strategis yang bakal menjadi senjata utamanya di dalam merawat stabilitas sekalian memacu ekspansi ekonomi berkesinambungan.
Hal itu diutarakan Destry di dalam Rapat Calon Gubernur Bank Indonesia bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8).
Di dalam pemaparannya, Destry mengusung tema "Bank Indonesia: Sinergi Merah Putih untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia: Stabilitas, Tumbuh dan Berkelanjutan".
Destry menuturkan visinya ialah menjadikan BI sebagai institusi yang tetap berdaya guna di dalam menyikapi hambatan serta kredibel di dalam merawat stabilitas dan memacu ekspansi ekonomi berkesinambungan.
"3 visi dan 5 strategi yang kami anggap penting untuk menjaga stabilitas, mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas untuk ntuk kesejahteraan rakyat Indonesia," ungkap Destry.
Destry menegaskan keberhasilan BI di dalam mengeksekusi bermacam-macam kebijakan tersebut tidak sanggup digapai seorang diri.
Berdasar keterangannya, dibutuhkan sinergi dengan seluruh pihak berkepentingan serta menerjemahkan bermacam-macam program nyata yang selaras bersama visi ASA CITA.
"Keberhasilan Bank Indonesia tidak ditentukan oleh kemampuan bekerja sendiri, melainkan oleh kemampuan membangun Sinergi Merah Putih bersama para pemangku kepentingan," jelas Destry.