FINANSIALFOKUS.COM — Kenaikan harga perangkat elektronik, termasuk smartphone, yang dipicu kelangkaan chipset global kini menjadi tantangan serius bagi industri ritel gawai di Indonesia. Head of Operations Digiplus, Erwin Renehan, mengungkapkan lonjakan harga sudah terasa sejak akhir tahun lalu dan berlanjut hingga 2026, dengan besaran kenaikan bervariasi antara 30% hingga 50% tergantung merek.
"Sudah dari awal tahun. Beberapa brand juga sudah mulai naik sejak akhir tahun lalu. Kenaikannya lumayan tinggi, sekitar 30% sampai 50%," ujar Erwin saat pembukaan gerai ke-100 Digiplus di Terogong, Jakarta Selatan, Jumat (28/8).
Skema Pembayaran Jadi Andalan
Alih-alih menaikkan harga jual, Digiplus memilih fokus menjaga keterjangkauan produk bagi konsumen. Strategi utamanya adalah mengoptimalkan kerja sama dengan lembaga keuangan nonbank (NBFI) dan memperkuat skema buy now pay later (BNPL).
"Kami menggalakkan partnership seperti NBFI, BNPL, cashback bank, dan trade-in untuk memastikan konsumen tetap lebih mampu membeli produk," kata Erwin.
Langkah ini diambil karena posisi smartphone di mata konsumen Indonesia telah bergeser. Head of Marketing Digiplus, Dwita Satyanti, menilai gawai kini merupakan kebutuhan harian, bukan lagi barang sekunder.
"Handphone sekarang sudah menjadi kebutuhan utama, daily needs. Jadi bukan lagi sekadar kebutuhan sekunder atau tersier," ujar Dwita.
Untuk mengakomodasi berbagai tingkat kemampuan finansial, Digiplus menyediakan pilihan perangkat dengan rentang harga luas, mulai sekitar Rp3 juta hingga Rp40 juta. Dengan begitu, konsumen bisa menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan dan anggaran yang dimiliki.
Ekspansi Keluar Mal ke Street Level
Di tengah tekanan harga, perusahaan justru agresif memperluas jaringan toko. Pembukaan gerai ke-100 di Terogong, Jakarta Selatan, menandai perubahan strategi ekspansi yang tidak lagi bergantung pada pusat perbelanjaan.
Head of Business Development Digiplus, Muhammad Pranoto Utomo, menjelaskan bahwa sebagai peritel multi-brand, pihaknya kini lebih fleksibel dalam memilih lokasi. Ekspansi mulai menyasar lokasi street level, seperti ruko dan kawasan komersial di luar mal.
"Digiplus sebagai peritel multi-brand lebih fleksibel. Kami tidak hanya membuka toko di mal, tetapi juga mulai berekspansi ke street level," ujar Pranoto.
Target ekspansi tidak berhenti di kota besar. Jakarta, Surabaya, Bali, Medan, dan Makassar menjadi pasar utama, namun perusahaan juga membidik kota lapis kedua dan ketiga.
"Ke depan kita akan lebih tambah lagi untuk menjangkau customer kita yang ada di second tier sama third tier city market," ucap Pranoto.
Format toko pun akan dibuat beragam, mulai dari gerai di mal, street level, shop-in-shop (SIS), hingga kawasan komersial dengan konsep one-stop shopping. Hingga akhir 2026, Digiplus menargetkan memiliki 150 gerai.
Kombinasi antara perluasan titik penjualan dan penyediaan alternatif pembayaran ini menjadi strategi distributor untuk mempertahankan permintaan di tengah kondisi harga yang tidak menentu. Bagi konsumen, skema cicilan dan trade-in bisa menjadi opsi untuk meringankan beban pembelian di saat harga sedang tinggi.