FINANSIALFOKUS.COM — Keputusan Liverpool menunjuk Andoni Iraola bukanlah tanpa perhitungan panjang. Michael Edwards, CEO sepak bola Liverpool yang berperan besar dalam perekrutan ini, ternyata sudah memantau karier pria asal Basque itu sejak satu dekade lalu. Pada 2013, Edwards yang saat itu menjabat direktur teknis bahkan sempat mencoba membawa Iraola ke Anfield sebagai pemain, ketika ia masih menjadi bek kanan Athletic Bilbao.
Ketertarikan itu berawal dari laporan pemantauan Julian Ward yang melihat Iraola memimpin Athletic Bilbao menang atas Malaga. Namun, Iraola memilih bertahan dan memperpanjang kontrak di San Mames. Ia sempat mengirim surat pribadi kepada Liverpool untuk berterima kasih, sambil bercanda bahwa ia terkejut mereka masih menginginkannya setelah laga kontra Malaga yang dianggapnya kurang impresif.
Jalan Panjang dari Tepi Pantai Vigo Menuju Anfield
Perjalanan karier kepelatihan Iraola justru dimulai dari sebuah laga kacau di stadion kecil O Vao, Coruxo, pada Desember 2019. Kala itu ia menukangi Mirandes yang baru promosi ke Segunda Division. Di babak pertama Copa del Rey, timnya tertinggal 4-3 hingga injury time, sebelum mendapatkan penalti kontroversial yang memicu kartu merah bagi tuan rumah. Mirandes menang 5-4 di babak perpanjangan waktu.
“Total kegilaan,” tulis media lokal saat itu. Iraola sendiri mengakui, “Coruxo pantas menang.” Namun, dari kekacauan itu, Mirandes justru melaju hingga semifinal Copa del Rey untuk kedua kalinya dalam sejarah klub, menyingkirkan tiga tim La Liga sekaligus: Celta Vigo, Sevilla, dan Villarreal.
Filosofi "Menyerang Terus" yang Menular ke Bournemouth
Gaya bermain Iraola sudah terbentuk sejak masa singkatnya di AEK Larnaca, Siprus, pada 2018. Meski dipecat setelah delapan bulan, striker Florian Taulemesse mengingat betul bagaimana pelatihnya membangun mentalitas agresif. “Ia selalu bicara soal high press, bola vertikal, dan tembakan pertama kali. High press, rebut bola, ciptakan peluang, tembak—lakukan itu lagi dan lagi. Menyerang!” kenang Taulemesse.
Filosofi itu terbukti sukses di Bournemouth. Setelah awal yang buruk tanpa kemenangan di sembilan laga pertama, Iraola membawa The Cherries finis ke-12, lalu ke-9, dan akhirnya menembus posisi ke-6 pada musim lalu—sekaligus mengantarkan klub lolos ke Eropa untuk pertama kalinya. John Arne Riise, mantan bek Liverpool, menilai gaya tersebut mirip dengan era awal Rafa Benitez. “Transisi cepat, gerakan maju yang kuat, dan intensitas saat merebut bola kembali—itu yang kurang musim lalu,” ujarnya.
Kutukan Lima Final dan Rekor Tak Terkalahkan Lawan Barcelona
Iraola memang belum pernah merasakan juara sebagai pemain maupun pelatih. Ia kalah di lima final bersama Athletic Bilbao, termasuk final Europa League 2012 dan tiga final Copa del Rey melawan Barcelona. Namun, sebagai pelatih, ia punya rekor istimewa: tak pernah kalah dalam empat pertemuan pertamanya melawan Barcelona, sebuah catatan yang hanya dimiliki enam pelatih dalam sejarah La Liga.
Kini tantangan terbesar menantinya. Liverpool memberinya kepercayaan penuh untuk membangun tim dengan intensitas tinggi dan transisi cepat. Jika ia mampu mempertahankan tren sembilan musim beruntun selalu memperbaiki posisi klasemen timnya, bukan tidak mungkin kutukan tanpa gelar itu berakhir di Anfield.