Strategi BI Soal Cadangan Emas Perlu Dievaluasi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:39:38 WIB
Bank Indonesia Perkuat Cadangan Emas. ( SUMBER : NET )

memiliki cadangan emas nasional mencapai 3.600 ton yang menjadikannya pemilik cadangan terbesar keempat di dunia.

Akan tetapi, jumlah emas yang dimasukkan dalam cadangan moneter Bank Indonesia (BI) baru menyentuh angka 87,1 ton atau sekitar 7,7 persen dari total cadangan nasional.

Akibatnya, posisi Indonesia dalam hal cadangan emas bank sentral hanya menempati peringkat ke-44 secara global.

Jumlah tersebut masih sangat jauh dibandingkan Amerika Serikat yang menyimpan 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.346,4 ton.

"Jadi pertanyaannya kenapa Indonesia cuma sekian? Kenapa Bank Indonesia cuma sekian?" kata Irwandy dalam MINDialogue, Jakarta, Rabu (12/8).

Dia mengungkapkan bahwa kepemilikan emas bank sentral RI pun masih tertinggal dibandingkan beberapa negara tetangga.

Sebagai contoh, Singapura memiliki 194 ton, sementara Thailand menyimpan 234 ton emas.

Menurut Irwandy, situasi ini terjadi dikarenakan strategi BI yang selama ini cenderung berfokus pada cadangan mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat.

Jenis aset tersebut dianggap lebih mudah dicairkan sehingga bisa langsung dipakai saat BI melakukan intervensi di pasar mata uang asing.

"Rupanya strategi BI mudah-mudahan saya enggak salah, lebih berorientasi pada cadangan valuta asing. Dolar," ujarnya dari Sumbernya.

Irwandy menuturkan cadangan devisa nasional saat ini berada di kisaran USD 146 miliar, yang setara dengan pemenuhan kebutuhan impor selama 5,5 bulan.

Menurut dia, minimnya cadangan devisa nasional juga membatasi ruang bagi negara untuk menambah kepemilikan emas.

"Yang persoalan kedua kenapa cuma 80 ton, keterbatasan total cadangan devisa nasional. Memang belum besar juga cadangan devisa nasionalnya," kata Irwandy dari Sumbernya.

Selanjutnya, Irwandy berpendapat bahwa strategi tersebut harus ditinjau kembali mengingat tren bank sentral di berbagai negara yang kini gencar menambah emas untuk melakukan diversifikasi cadangan.

Beberapa negara, seperti China, Rusia, India, Turki, dan Polandia, terus melakukan akumulasi kepemilikan emas.

Upaya tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik serta keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.

"Indonesia belum atau tidak mempunyai urgensi untuk melakukan diversifikasi dolar, padahal sekarang ini dedolarisasi sedang terjadi di dunia," ujar Irwandy dari Sumbernya.

Oleh sebab itu, dia menyarankan agar BI mulai menyerap sebagian hasil produksi emas domestik.

Salah satu metode yang diajukan yaitu melakukan pembelian sebanyak 20 ton emas saat total produksi nasional menyentuh angka 100 ton.

"Misalnya kalau produksi 100 ton ya, maka Bank Indonesia itu nambah 20 ton," katanya dari Sumbernya.

Kemenko Perekonomian mencatat bahwa Indonesia mempunyai modal besar untuk menguatkan ekosistem emas nasional.

Sebagai ilustrasi, Grup MIND ID melalui PT Antam Tbk saat ini sudah memiliki fasilitas pengolahan (refinery) dengan kapasitas 150 ton setiap tahunnya.

Disamping itu, ada Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah emas hingga 50 ton per tahun.

Di sektor swasta, fasilitas pengolahan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) sanggup mengolah emas dengan kapasitas 18 ton per tahun.

Sementara itu, potensi produksi bijih juga ditopang oleh perusahaan tambang lainnya, yakni PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dengan kapasitas 2,4–2,7 ton, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebanyak 2,9 ton, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) sebesar 2,6 ton, PT Agincourt Resources (PTAR) sekitar 5,9–6,8 ton, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencapai 2,2 ton per tahun.

Kapasitas yang besar ini menjadi landasan kuat untuk memperkokoh ekosistem emas nasional, yang pada akhirnya dapat membantu memperkuat cadangan devisa bank sentral.

Tags

Terkini