IHSG Diprediksi Menanjak Lagi, Cek 5 Saham Pilihan Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 15:41:37 WIB
ilustrasi IHSG. (FOTO:NET)

JAKARTA - Phintraco Sekuritas memprediksi Indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal menanjak lagi pada sesi perdagangan di hari Jumat.

Untuk pergerakan IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergulir dalam kisaran target resistance di level 6.175, pivot pada level 6.125, serta support di level 6.080.

Terkait kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi agar para pelaku pasar tidak melewatkan potensi keuntungan dari lima saham pilihan, yang mana salah satunya ialah BBCA.

Berdasarkan data perdagangan sebelumnya, pihak Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa IHSG sukses ditutup melonjak sebesar 1,1 persen menuju level 6.108,21.

Laju penguatan indeks saham tersebut disokong oleh hadirnya kembali aksi beli dari para pemodal asing dengan catatan net foreign buy mencapai Rp 283,41 miliar di pasar reguler.

Di sisi lain, nilai tukar mata uang rupiah juga ditutup menguat sebesar 0,46 persen pada posisi Rp 17.986 per dolar AS.

Apabila ditinjau secara teknikal, Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa posisi IHSG saat ini masih mampu bertahan di atas garis MA5 dan MA20.

Sementara itu, indikator pergerakan MACD terpantau mulai memperlihatkan adanya pelebaran pola positive slope, yang menjadi cerminan bahwa momentum tren penguatan indeks domestik masih terjaga dengan baik.

“Dengan demikian, IHSG hari ini berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area resistance 6.125–6.175,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risernya, Jumat (17/7/2026).

Lebih lanjut, pihak Phintraco Sekuritas menjabarkan mengenai capaian realisasi investasi di tanah air yang telah menyentuh angka Rp 511,8 triliun atau mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,1 persen YoY pada Kuartal II-2026.

Perolehan angka tersebut setara dengan persentase 25,1 persen dari keseluruhan total target investasi nasional yang dipatok pada tahun 2026.

Adapun wujud komitmen investasi jangka panjang ini terlihat datang dari sejumlah negara mitra utama Indonesia, di antaranya seperti Tiongkok, Jepang, serta Korea Selatan.

Jika dilihat dari aspek sumber pendanaan investasinya, porsi komposisi dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar 49,6 persen dan untuk Penanaman Modal Asing (PMA) berada di angka 50,4 persen.

Sedangkan dari aspek persebaran lokasinya, kontribusi penyerapan investasi di Pulau Jawa dan kawasan luar Pulau Jawa dinilai sudah relatif seimbang.

Mengenai indikator investasi asing langsung, Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa komponen ini (dengan mengecualikan sektor keuangan serta sektor migas) berhasil melonjak hingga 27,4 persen YoY ke posisi rekor tertinggi baru di angka Rp 257,7 triliun pada kuartal II-2026.

Raihan ini tercatat jauh lebih mumpuni dibandingkan dengan capaian kenaikan pada Kuartal I-2026 yang tumbuh 8,5 persen YoY, sekaligus menjadi rekor pertumbuhan paling agresif sejak periode Kuartal IV-2026.

Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa sektor industri logam dasar menjadi bidang yang sukses menarik aliran dana masuk dengan volume paling besar, kemudian disusul oleh sektor industri jasa lainnya serta lini sektor pertambangan.

Secara kumulatif, nilai investasi asing langsung bergerak naik sebesar 17,3 persen YoY menjadi Rp 432,6 triliun untuk sepanjang periode Semester I-2026, dengan menempatkan negara Singapura yang tetap bertahan menjadi sumber investor terbesar bagi Indonesia.

“Kenaikan FDI ini menjadi indikasi positif akan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih solid pada Kuartal II-2026. Di lain pihak, ketergantungan terhadap investasi berbasis komoditas tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi,” papar Phintraco Sekuritas.

Pada akhir risetnya, Phintraco Sekuritas menyarankan para pemodal untuk mencermati peluang keuntungan yang bersumber dari lima saham pilihan, yakni BBCA, ICBP, EXCL, TKIM, dan SMGR.

Terkini