Kredit BTN Tumbuh 11,2 Persen, Rasio NPL Membaik Jadi 3 Persen

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:36:52 WIB
Ilustrasi Gedung BTN. (FOTO:NET)

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) membukukan penyaluran kredit serta pembiayaan secara konsolidasi mencapai Rp418,11 triliun sampai dengan paruh pertama tahun 2026.

Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 11,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) jika dibandingkan dengan capaian pada masa yang sama di tahun sebelumnya yang berada di angka Rp376,11 triliun.

Peningkatan penyaluran dana dari BTN ini tidak semata-mata disokong oleh sektor bisnis utama mereka di bidang pembiayaan tempat tinggal.

Lini kredit non-perumahan justru menjadi sektor yang membukukan akselerasi peningkatan yang paling signifikan.

Merujuk pada laporan kinerja manajemen korporasi, Kamis (16/7/2026), pembiayaan non-perumahan melesat hingga 46,1% yoy menjadi Rp85,22 triliun, dari catatan sebelumnya yang senilai Rp58,34 triliun pada Juni 2025.

Di sisi lain, sektor kredit perumahan tetap menjadi penyumbang nominal paling dominan dengan raihan Rp332,88 triliun, atau terkerek naik 4,8% dari angka Rp317,77 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Bila membedah isi portofolio pembiayaan tempat tinggal, produk KPR subsidi masih konsisten menjadi pendorong roda pertumbuhan yang utama.

Saldo berjalan KPR subsidi merangkak naik 8,1% yoy menjadi Rp196,96 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp182,17 triliun.

Selain produk tersebut, perbankan bersandi saham BBTN ini pun tercatat sudah menyalurkan Kredit Program Perumahan (KPP) dengan akumulasi Rp4,1 triliun terhitung semenjak instrumen itu dirilis resmi pada penghujung Oktober 2025.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan bahwa lonjakan di sektor pembiayaan non-perumahan didorong oleh langkah pelebaran sayap kredit ke bermacam-macam bidang, mulai dari instansi pendidikan, fasilitas kesehatan, jajaran pemerintahan, institusi keuangan, sampai ke sektor eceran.

Pihak manajemen korporasi juga tengah melebarkan sayap pembiayaan kepemilikan sarana transportasi darat lewat skema kemitraan bersama korporasi pembiayaan sebagai bagian dari peta jalan strategi beyond mortgage sekaligus mengintensifkan program cross-selling kepada basis pelanggan mereka.

"Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun," ujar Nixon, Kamis (16/6/2026).

Sementara itu, persentase untuk kredit yang bermasalah (non-performing loan/NPL) kotor berada di posisi 3%, mengalami perbaikan yang cukup positif ketimbang performa pada Juni 2025 yang bertengger di level 3,3%.

Pada kurun waktu yang sama, persentase rasio loan at risk (LAR) menyusut dari angka 20,2% pada posisi Juni 2025 menjadi berada di level 18,6% pada posisi Juni 2026.

Adapun demi memacu akselerasi perluasan diversifikasi lini bisnis, BTN juga dilaporkan telah merampungkan proses pengambilalihan hak tahap kesatu untuk portofolio pembiayaan dana pensiun milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai valuasi kisaran Rp12,6 triliun.

Pihak emiten perbankan ini berniat untuk meneruskan agenda akuisisi untuk tahap kedua pada periode triwulan ketiga tahun 2026 dengan estimasi nilai berkisar Rp7,34 triliun.

Melalui penerapan peta jalan bisnis tersebut, BTN menetapkan target agar porsi untuk pembiayaan non-perumahan dapat terkerek naik bertahap sampai menyentuh angka kisaran 30% dari total keseluruhan portofolio pembiayaan dalam kurun lima tahun mendatang, agar susunan roda bisnis perusahaan menjadi semakin berimbang dan tidak lagi terlalu bertumpu penuh pada sektor kredit properti rumah tinggal.

Terkini