JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pertumbuhan kredit perbankan tahun ini tetap berada di level dua digit. Tren penguatan kredit dalam beberapa bulan terakhir menjadi sinyal positif setelah awal tahun sempat tumbuh lebih lambat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut pertumbuhan kredit tahunan pada Mei 2026 sudah mencapai sekitar 11 persen. “Nah kita optimis nih kalau misalnya sekarang sudah bulan data terakhir itu Mei. Kalau Mei itu kecenderungannya terus naik, tentu harapan kita ini bisa tetap double digit ya, targetnya dapat tercapai,” ujarnya di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
OJK menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 11-12 persen. Menurut Dian, target tersebut realistis selama kondisi ekonomi global dan domestik tetap terjaga. “Mudah-mudahan itu asumsi dasar itu tetap ada ekspektasi dari hampir seluruh dunia dan termasuk kita tentu saja ya ada perbaikan. Nah gitu, jadi saya optimis tetap gitu kan target kita kan di range itu, kan range 11-12 persen sebetulnya kan,” katanya.
Meski optimistis, OJK tetap memantau risiko yang dapat memengaruhi penyaluran kredit, seperti gejolak nilai tukar, inflasi, dan kondisi geopolitik global. Faktor-faktor tersebut dinilai bisa berdampak pada kemampuan nasabah untuk memenuhi kewajiban kredit. “Tetapi harapan kita nih mudah-mudahan jangan sampai misalnya kondisi kurs, inflasi dan lain sebagainya kemudian ini berdampak pada nasabah, itu yang paling penting sedang kita monitor kan itu, seberapa besar itu dampaknya sebetulnya,” jelas Dian.
Ia menambahkan bahwa stabilitas ekonomi global akan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pertumbuhan kredit. Meredanya ketegangan geopolitik dan penurunan harga minyak dunia dapat membantu menjaga stabilitas rupiah serta mengendalikan inflasi dalam negeri.
“Katakanlah sekarang kita asumsikan lah situasi geopolitik itu bagus, stable, Amerika dengan Iran selesai, kemudian kan harga minyak turun nih. Nah itu tentu kan akan sangat membantu dan juga akan membantu juga mungkin stabilisasi nilai rupiah dan inflasi di dalam negeri, itu yang paling penting,” ujarnya.
OJK berharap kondisi global membaik dalam beberapa bulan ke depan sehingga permintaan kredit tetap kuat dan target pertumbuhan 11-12 persen dapat tercapai hingga akhir tahun.