Tekanan Rupiah Berlanjut ke Rp 17.967 per Dolar AS pada Awal Juni 2026

Kamis, 04 Juni 2026 | 14:33:21 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau kembali mengalami pelemahan pada sesi perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Berdasarkan informasi pasar spot, mata uang garuda merosot sebesar 0,71 persen secara harian ke posisi Rp 17.967 per dolar AS.

Jika dihitung sejak awal tahun, mata uang domestik ini sudah terdepresiasi sebesar 7,42 persen dari posisi awal yang berada di level Rp 16.725 per dolar AS. Kondisi kebijakan moneter saat ini dinilai belum cukup kuat untuk memulihkan keperkasaan nilai tukar.

Keputusan Bank Indonesia yang mengerek suku bunga acuan belum menunjukkan penguatan signifikan, justru rupiah terjebak dalam tren penurunan. Instrumen fiskal dinilai lebih mendesak untuk memperkuat ekonomi.

“Yang bisa digunakan adalah instrumen fiskal. Perkuatlah fiskal kami dengan menunda program – program yang menghabiskan APBN dengan sangat dahsyat. Misalnya program makan bergizi gratis (MBG), itu bisa ditunda,” ujar pengamat.

Risiko pembengkakan defisit fiskal kian nyata karena posisi Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah di tengah harga global yang berada di atas US$ 90 per barel. Defisit fiskal nasional kuartal pertama dilaporkan menyentuh angka 0,93 persen terhadap PDB.

“Kalau sampai current account kami defisit, APBN kami defisit, ini gawat, saya wanti – wanti ke pemerintah jangan sampai terjadi,” tegasnya.

Lonjakan harga minyak mentah global diprediksi memicu efek domino pada biaya logistik hingga inflasi pangan. Selain itu, lembaga pemeringkat internasional menyoroti potensi penurunan peringkat utang terkait kehadiran entitas bisnis baru yang dinilai menimbulkan distorsi.

“Kebijakan-kebijakan pemerintah yang membuat investor asing tidak percaya,” jelasnya.

Berikut adalah proyeksi rentang nilai tukar rupiah pada semester II 2026:

  • Rentang Dasar: Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
  • Skenario Positif: Rp 17.000 hingga Rp 17.300 per dolar AS.
  • Proyeksi Alternatif: Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS.

Proyeksi konservatif: berpotensi menyentuh Rp 22.000 hingga Rp 25.000 per dolar AS.

Kondisi mata uang domestik ke depan akan dipengaruhi oleh dinamika harga minyak, kebijakan suku bunga global, aliran dana asing, serta kredibilitas pengelolaan fiskal. Pemerintah diharapkan memperkuat produktivitas untuk mendukung fundamental rupiah.

“Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ucapnya.

Terkini