Wamenpar: Rupiah Melemah Jadi Daya Tarik Wisatawan ke Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 | 06:55:54 WIB
Ilustrasi Rupiah Melemah, Sumber: (net).

BADUNG - Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai kondisi nilai tukar rupiah yang sedang melemah terhadap dolar AS justru dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

“Iya kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” kata Wamenpar dalam pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026.

Kondisi kurs rupiah saat ini diperkirakan akan membuat wisatawan lebih memilih Indonesia sebagai destinasi tujuan, bahkan mendorong mereka untuk menghabiskan waktu liburan dalam durasi yang lebih lama.

Kementerian Pariwisata kini tengah gencar melakukan langkah promosi demi memanfaatkan momentum tersebut agar jumlah kunjungan semakin meningkat.

Berbagai upaya seperti misi penjualan dan keikutsertaan dalam pameran terus digalakkan.

“Jadi saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama begitu dari biasanya, luar biasa,” ujar Ni Luh Puspa.

Situasi penurunan nilai mata uang ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global serta konflik yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, data performa pariwisata sepanjang Januari hingga Maret 2026 menunjukkan tren yang tetap terjaga dengan pertumbuhan kunjungan yang lebih tinggi dibandingkan periode triwulan yang sama pada 2025.

Pihak kementerian berharap Bank Indonesia dapat mencatatkan performa positif pada laporan triwulan kedua 2026, khususnya pada indikator jumlah kunjungan serta perolehan devisa dari sektor pariwisata.

Sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi situasi global, para pelaku usaha di sektor pariwisata diimbau untuk mulai melakukan penyesuaian target pasar dengan mengalihkan fokus dari pasar jarak jauh ke pasar negara tetangga.

“Perkuat bagaimana agar short-haul dan medium-haul ini bisa mengalami peningkatan, tentu ini menjadi substitusi dari pasar Eropa maupun pasar Amerika dan Timur Tengah yang mengalami penurunan akibat situasi geopolitik,” ujarnya.

“Tapi kalau kami lihat dari angka triwulan pertama, memang terlihat bahwa wisatawan dari yang medium-haul dan short-haul ini mengalami peningkatan, tapi beberapa Timur Tengah ini mengalami penurunan,” sambung Ni Luh Puspa.

Oleh karena itu, seluruh pelaku industri pariwisata diajak untuk tidak bersikap pesimistis, melainkan harus terus memperkuat kolaborasi dan menjaga sikap optimistis dalam menangkap setiap peluang yang ada.

Terkini