Bursa Efek Indonesia Buka Cek Deretan Saham Cum Dividen Juni 2026 Baru

Jumat, 29 Mei 2026 | 13:34:41 WIB
Ilustrasi BEI (sumber foto: NET)

JAKARTA - Jalannya aktivitas transaksi saham di Bursa Efek Indonesia kembali bergulir pada hari Jumat, 29 Mei 2026 pasca melewati masa libur perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Para pelaku pasar diharapkan mencermati dengan teliti rincian emiten yang memasuki masa cum dividen mulai hari ini sampai beberapa waktu ke depan.

Masa cum dividen sendiri merupakan batas waktu akhir bagi para pemegang saham jika ingin haknya tercatat sebagai penerima keuntungan dividen dari emiten terkait.

Bagi penanam modal yang mengincar pembagian dana tersebut, transaksi pembelian aset wajib diselesaikan selambat-lambatnya pada tanggal cum dividen dan menahannya hingga waktu pencatatan resmi.

Terdapat jajaran perusahaan publik yang bersiap menggelar masa batas akhir dividen tunai ini sejak penghujung Mei hingga memasuki awal Juni 2026.

Sektor industri yang terlibat meliputi sektor pertambangan batu bara, perusahaan milik negara, sektor perbankan, hingga industri barang konsumsi.

Untuk proses realisasi pengiriman dana keuntungan tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada bulan Juni 2026 mendatang.

Pada sesi pembukaan perdagangan hari Jumat, 29 Mei 2026, tercatat ada sembilan emiten yang resmi memulai periode cum dividen tunai mereka.

Berikut rincian daftarnya:

SOHO: Rp39,5 per saham

PTPS: Rp4,5

TPMA: Rp42

TCID: Rp38

ASLC: Rp1

PPGL: Rp39,5

GEMS: Rp237,95

INET: Rp0,04

SRSN: Rp1,1

Selanjutnya, pada hari Selasa, 2 Juni 2026, terdapat sekitar 12 emiten yang menyusul masuk dalam masa cum dividen.

Beberapa di antaranya meliputi:

INDY: Rp10,25

STAA: Rp75

CPIN: Rp180

JSMR: Rp156,23

BFIN: Rp35

TOWR: Rp6,89

LFLO: Rp4,59

Memasuki hari Rabu, 3 Juni 2026, jumlah emiten yang menjadwalkan pembagian keuntungan ini bertambah luas menjadi 13 korporasi.

Beberapa emiten tersebut antara lain:

INTP: Rp468

KLBF: Rp20

MYOH: Rp64,31

RMKE: Rp30

KINO: Rp45

EMTK: Rp5

SCMA: Rp12

Sementara untuk jadwal pada hari Kamis, 4 Juni 2026, daftar korporasi yang akan melakukan pencatatan dividen ini meliputi:

SMAR: Rp270

GJTL: Rp80

NRCA: Rp40

TAPG: Rp91

PGAS: Rp125,61

SMCB: Rp36,52

BISI: Rp26

Mengenai daya pikat dari instrumen ini, tingkat keuntungan biasanya dipatok berdasarkan persentase perolehan nilai dividen atau yield yang ditawarkan.

Sejumlah emiten dinilai mampu menyajikan potensi perolehan keuntungan di atas rata-rata pasar global yang biasanya bertengger pada kisaran 3% hingga 5%.

Salah satu instrumen yang mencuri perhatian pasar adalah emiten GEMS yang membagikan dana keuntungan senilai Rp237,95 untuk setiap lembar sahamnya.

Emiten di sektor komoditas batu bara ini dinilai memiliki konsistensi tinggi dalam menyalurkan keuntungan berskala besar dengan rasio pembayaran yang tergolong tinggi.

Selain itu, emiten PGAS juga menjadi fokus perhatian lantaran mengalokasikan persentase dana sekitar 80% dari perolehan laba bersih tahun buku 2025 sebagai dividen tunai.

Dengan posisi harga aset PGAS yang bertengger di level Rp1.895 per lembar pada transaksi 26 Mei 2026, maka perkiraan tingkat yield yang didapat bisa menyentuh angka 6,63%.

Terdapat pula beberapa emiten lain yang dinilai memiliki tingkat yield yang tidak kalah menarik untuk dicermati:

INTP dengan perkiraan perolehan yield di kisaran: 9,7%

TPMA dengan perkiraan perolehan yield di kisaran: 8,3%

STAA dengan perkiraan perolehan yield di kisaran: 7,3%

GJTL dengan perkiraan perolehan yield di kisaran: 6,7%

Adanya momentum pendistribusian keuntungan berkala ini diramal mampu menyuntikkan energi positif bagi perkembangan laju indeks saham gabungan domestik.

Meski demikian, pergerakan dana investasi asing, penataan ulang portofolio indeks MSCI dan FTSE, serta stabilitas rupiah masih menjadi pengendali utama arah pasar.

Para pengamat pasar keuangan turut memberikan himbauan agar para penanam modal tidak terburu-buru melakukan aksi beli hanya karena terpaku pada momentum cum date semata.

Hal itu dikarenakan nilai saham pada umumnya memiliki kecenderungan bergerak menyusut saat memasuki masa ex-date, minimal setara dengan proyeksi nilai dividen teoritisnya.

Langkah investasi yang ideal adalah dengan menjatuhkan pilihan pada emiten yang memiliki fondasi bisnis kokoh, tingkat likuiditas lancar, serta sejarah pembagian keuntungan yang konsisten.

Bagi para pelaku pasar yang menerapkan strategi perdagangan jangka pendek, proses akumulasi beli disarankan sudah dimulai sejak dua minggu hingga tujuh hari sebelum tibanya cum date.

Sementara untuk saham pilihan seperti PGAS, INTP, JSMR, dan CPIN dipandang sangat potensial untuk terus dikumpulkan terutama pada saat harganya sedang mengalami koreksi.

Di sisi lain, para penanam modal juga diharapkan waspada penuh terhadap fenomena jebakan dividen, khususnya pada jenis saham yang bisnisnya lesu namun menawarkan yield tinggi.

Terkini