Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Melemah Tajam Akibat Konflik Global

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:03:03 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang garuda diproyeksikan bakal menghadapi beban berat pada sesi perdagangan hari ini. Ketiadaan faktor pendorong yang kuat memicu mata uang lokal ini rawan meneruskan penurunan nilainya terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan pencatatan dari pasar internasional, posisi kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sempat berjalan datar pada angka Rp17.761 per berapa dolar AS.

Pergerakan awal ini terpantau ketika aktivitas transaksi baru saja berjalan pada Selasa pagi (26/5/2026).

Akan tetapi, situasi langsung berubah tidak lama kemudian tepatnya pada pukul 07:32 WIB, saat rupiah tersungkur sedalam 0,11 persen menuju level Rp17.781 per berapa dolar AS.

Penurunan ini terjadi ketika indikator makroekonomi global sebenarnya tengah memperlihatkan tanda-tanda mereda.

Pergerakan indeks dolar AS sendiri terpantau mengalami koreksi minor ke posisi 99,23. Pada momen yang bersamaan, nilai minyak mentah di pasar internasional melorot tajam sebesar 7,15 persen menuju level 96,14 dolar AS untuk setiap barelnya.

Kondisi sulit yang dialami rupiah saat ini lebih dominan disebabkan oleh kembali bergejolaknya situasi politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Muncul kabar mengejutkan terkait aksi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilaporkan menghantam aset kepemilikan Iran.

Armada pesawat tempur milik kedua negara tersebut dikabarkan melancarkan gempuran terhadap beberapa kapal Iran di wilayah vital Selat Hormuz.

Peristiwa ini meletus hanya dalam hitungan jam sesudah rilisnya pernyataan penuh optimisme dari pihak Istana Kepresidenan AS.

Sebelum insiden terjadi, Presiden AS Donald Trump sempat mengutarakan bahwa proses negosiasi mengenai kesepakatan temporer dengan pihak Teheran berjalan ke arah yang positif.

Kendati demikian, operasi militer mendadak ini langsung membalikkan arah pandangan pasar secara drastis.

Berdasarkan rilis media setempat, pusat gempuran udara tersebut berada di kawasan sebelah selatan Pulau Karak yang masuk area Selat Hormuz.

Jalannya tindakan militer tersebut dikabarkan memicu gugurnya beberapa anggota militer Iran di tempat kejadian.

Kembalinya kontak senjata di wilayah Teluk Persia ini menjadi penanda jelas mengenai rapuhnya kondisi keamanan di area tersebut.

Proyeksi pelaku pasar terkait adanya perdamaian yang berkelanjutan antara pihak AS dan Iran kini kembali diragukan oleh publik.

Padahal pada waktu sebelumnya, sentimen perdamaian ini sempat memberikan angin segar bagi mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.

Saat ini kondisi tersebut berbalik arah seiring dibukanya sesi transaksi di sejumlah negara pagi ini dengan risiko pasar yang terus merangkak naik.

Situasi pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini memicu perhatian mendalam lantaran sudah menyentuh posisi paling rendah sepanjang sejarah.

Penurunan performance mata uang ini terus berjalan walaupun tingkat imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) dilaporkan sedang turun.

Berikut merupakan ringkasan dari sejumlah indikator pasar yang memberikan pengaruh terhadap pergerakan mata uang domestik saat ini:

Nilai Kurs NDF Rupiah: Berada di level Rp17.781 per dolar AS atau melemah 0,11 persen pada pembukaan perdagangan pagi.

Indeks Dolar AS: Bertahan di level 99,23 setelah sempat mengalami sedikit penurunan tipis dari posisi sebelumnya.

Harga Minyak Dunia: Merosot tajam sebesar 7,15 persen ke level 96,14 dolar AS per barel akibat ketidakpastian permintaan global.

Status Geopolitik: Eskalasi serangan udara di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global.

Sejumlah data di atas memperlihatkan fenomena tidak biasa di mana rupiah tetap mengalami depresiasi meskipun harga minyak internasional jatuh dan posisi dolar AS melemah tipis.

Sentimen risiko keamanan dunia tampaknya lebih mempengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.

Anjloknya nilai tukar rupiah ini mulai menimbulkan konsekuensi langsung bagi bermacam-macam sektor ekonomi domestik.

Kalangan masyarakat beserta pengusaha skala kecil mulai terbebani oleh kenaikan pengeluaran modal akibat ketergantungan pada barang impor.

Salah satu bidang usaha yang langsung merasakan imbasnya yaitu usaha perbengkelan dan penyedia komponen kendaraan yang harus menghadapi kenaikan harga beli.

Pada komoditas pangan, para penjual bawang di area ibu kota juga mulai mengeluhkan lonjakan harga modal menjelang momen Iduladha.

Di lain sisi, pihak DPR RI berpandangan bahwa terdapat kekeliruan persepsi di kalangan publik terkait situasi penurunan nilai rupiah sekarang ini.

Pihak parlemen menegaskan bahwa dinamika yang terjadi saat ini sangat kontras dengan situasi krisis finansial yang menimpa Indonesia pada tahun 1998 silam.

Walau begitu, tekanan pada mata uang garuda ini diperkirakan tetap berlanjut sekiranya konflik bersenjata di Timur Tengah terus meluas.

Para pelaku pasar modal cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen investasi yang aman (safe haven) sampai situasi keamanan global kembali kondusif.

Informasi ringkasan mengenai indikator ekonomi yang berkaitan:

Indikator: Nilai Tukar (NDF) Kondisi Saat Ini: Rp17.781 per berapa dolar AS Dampak Terhadap Rupiah: Negatif (Rekor Terlemah)

Indikator: Harga Minyak Mentah Kondisi Saat Ini: 96,14 dolar AS per barel Dampak Terhadap Rupiah: Netral ke Positif

Indikator: Indeks Dolar (DXY) Kondisi Saat Ini: 99,23 Dampak Terhadap Rupiah: Positif Terbatas

Indikator: Ketegangan Geopolitik Kondisi Saat Ini: Meningkat (Selat Hormuz) Dampak Terhadap Rupiah: Sangat Negatif

Rangkuman di atas memperlihatkan berbagai faktor yang saling mempengaruhi dalam membentuk nilai akhir mata uang rupiah di pasar internasional.

Walaupun beberapa data fundamental ekonomi domestik dinilai masih kuat, tantangan eksternal berupa peperangan tetap menjadi risiko utama yang sulit dihindari.

Pelaku pasar sekarang ini sedang menunggu kebijakan taktis dari pemegang otoritas moneter guna menekan fluktuasi berlebih pada nilai rupiah.

Menjaga stabilitas nilai tukar menjadi hal krusial agar efek inflasi dari barang impor tidak kian mengoreksi daya beli masyarakat secara luas.

Terkini