Nilai Tukar Rupiah Berpeluang Menurun ke Level Rp17.781 per Dolar AS

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:10:22 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Kurs mata uang Garuda diperkirakan akan kembali mendapat tekanan yang cukup berat dalam sesi transaksi hari ini. Minimnya sentimen pendorong yang positif menjadikan mata uang nasional rentan melanjutkan tren penurunan nilai terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan catatan dari aktivitas transaksi di pasar luar negeri, pergerakan kontrak rupiah pada pasar Non-Deliverable Forward memperlihatkan kondisi stagnan di level Rp17.761/US$.

Posisi tersebut terpantau pada Selasa pagi, 26 Mei 2026 saat pasar mulai dibuka.

Akan tetapi, tidak berselang lama setelah itu atau sekitar pukul 07:32 WIB, posisi rupiah diinformasikan merosot sebesar 0,11 persen menuju level Rp17.781/US$.

Pelemahan nilai ini terjadi di tengah situasi ekonomi internasional yang sebenarnya memperlihatkan indikator pelandaian.

Untuk indeks dolar AS sendiri terpantau mengalami koreksi minor ke posisi 99,23.

Pada waktu yang bersamaan, komoditas minyak mentah dunia turut membukukan penurunan harga yang cukup dalam sebesar 7,15 persen ke level US$96,14 per barel.

Hantaman terhadap pergerakan rupiah pada periode ini mayoritas dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik yang kembali memanas di wilayah Timur Tengah.

Kabar paling baru menyebutkan adanya aksi militer dari Amerika Serikat bersama Israel yang membidik aset milik Iran.

Pesawat tempur milik kedua negara sekutu tersebut dikabarkan meluncurkan serangan udara ke sejumlah armada kapal Iran di area strategis Selat Hormuz.

Peristiwa ini berlangsung hanya beberapa saat setelah munculnya pernyataan bernada optimistis dari Gedung Putih.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengutarakan bahwa proses negosiasi terkait kesepakatan temporer dengan pihak Teheran berjalan ke arah yang positif.

Kendati demikian, operasi militer yang terjadi secara mendadak ini langsung mengubah arah pandangan pasar secara drastis.

Berdasarkan pemberitaan media setempat, lokasi serangan udara tersebut berada di kawasan selatan Pulau Karak, area Selat Hormuz.

Tindakan militer ini dikabarkan menyebabkan hilangnya nyawa sejumlah anggota militer Iran yang sedang bertugas di sana.

Kembalinya bentrokan bersenjata di wilayah Teluk Persia menjadi indikator nyata mengenai rapuhnya stabilitas keamanan di area itu.

Ekspektasi pelaku pasar terhadap perwujudan perdamaian jangka panjang antara pihak AS dan Iran kini kembali diragukan oleh publik.

Padahal pada waktu sebelumnya, sentimen perdamaian sempat memberikan dampak positif bagi mata uang di negara-negara Asia, termasuk rupiah.

Saat ini, arah pergerakan justru berbalik seiring dengan dibukanya aktivitas pasar di beberapa negara pagi ini dengan tingkat risiko yang meninggi.

Kondisi nilai tukar rupiah pada saat sekarang memang tengah memicu kekhawatiran mendalam lantaran telah menyentuh level terlemahnya sepanjang sejarah.

Penurunan ini tetap berlangsung walau imbal hasil Surat Utang Negara terpantau mengalami penurunan.

Berikut adalah rincian indikator pasar yang memberikan pengaruh terhadap laju nilai tukar pada saat ini:

Nilai Kurs NDF Rupiah: Berada di level Rp17.781 per dolar AS atau melemah 0,11 persen pada pembukaan perdagangan pagi

Indeks Dolar AS: Bertahan di level 99,23 setelah sempat mengalami sedikit penurunan tipis dari posisi sebelumnya

Harga Minyak Dunia: Merosot tajam sebesar 7,15 persen ke level US$96,14 per barel akibat ketidakpastian permintaan global

Status Geopolitik: Eskalasi serangan udara di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global

Kumpulan data tersebut memperlihatkan sebuah keanehan di mana mata uang rupiah tetap mengalami pelemahan meskipun nilai komoditas minyak dunia menurun dan indeks dolar AS tertekan tipis.

Faktor risiko pertahanan global tampaknya lebih memengaruhi keputusan investor dalam memegang aset di negara berkembang.

Kemerosotan nilai tukar rupiah ini mulai memicu dampak yang riil pada berbagai sektor usaha di dalam negeri.

Masyarakat beserta para pelaku usaha skala kecil mulai merasakan lonjakan biaya operasional akibat ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Salah satu bidang yang merasakannya secara langsung yaitu usaha perbengkelan dan penyedia suku cadang kendaraan yang mengalami lonjakan harga beli modal.

Pada sektor pangan, para penjual komoditas bawang di wilayah Jakarta juga sudah mulai mengeluhkan kenaikan harga menjelang momen Iduladha.

Di sisi yang berbeda, pihak parlemen atau DPR RI memberikan penilaian bahwa terdapat kekeliruan pemahaman di tengah publik mengenai situasi penurunan rupiah saat ini.

Mereka memberikan penekanan bahwa kondisi yang terjadi sekarang tidak sama dengan situasi krisis finansial yang melanda pada tahun 1998 lampau.

Kendati demikian, tekanan terhadap mata uang Garuda ini diperkirakan masih berpotensi berlanjut apabila eskalasi bersenjata di Timur Tengah terus meluas.

Para investor memiliki kecenderungan untuk beralih pada aset aman sampai kondisi keamanan dunia kembali kondusif.

Berikut adalah informasi mengenai ringkasan indikator ekonomi yang berkaitan:

Indikator: Nilai Tukar (NDF)

Kondisi Saat Ini: Rp17.781/US$

Dampak Terhadap Rupiah: Negatif (Rekor Terlemah)

Indikator: Harga Minyak Mentah

Kondisi Saat Ini: US$96,14/barel

Dampak Terhadap Rupiah: Netral ke Positif

Indikator: Indeks Dolar (DXY)

Kondisi Saat Ini: 99,23

Dampak Terhadap Rupiah: Positif Terbatas

Indikator: Ketegangan Geopolitik

Kondisi Saat Ini: Meningkat (Selat Hormuz)

Dampak Terhadap Rupiah: Sangat Negatif

Rincian tersebut memetakan berbagai jenis variabel yang saling memberikan pengaruh dalam menentukan posisi kurs rupiah pada pasar internasional.

Walaupun beberapa data dasar ekonomi domestik tampak berada dalam posisi kuat, faktor eksternal seperti perang masih menjadi risiko utama yang sulit dihindari.

Pelaku pasar kini tengah menantikan opsi kebijakan strategis dari pihak otoritas moneter guna menekan fluktuasi nilai yang berlebihan pada rupiah.

Menjaga stabilitas nilai tukar menjadi poin krusial agar efek inflasi dari barang-barang impor tidak kian menggerus daya beli masyarakat secara luas.

Terkini