Tekanan Rupiah Masih Besar Bank Indonesia Berpotensi Naikkan Suku Bunga

Jumat, 22 Mei 2026 | 15:28:17 WIB
Ilustrasi Gedung Bank Indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA- Bank sentral Indonesia diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga untuk menopang rupiah. Namun langkah tersebut dan kebijakan lainnya dinilai belum tentu mampu menghentikan pelemahan aset-aset Indonesia.

Sejumlah analis memperkirakan, para pembuat kebijakan di BI akan terus berupaya memperlambat laju pelemahan rupiah. Masih ada ruang untuk pengetatan kebijakan lebih lanjut karena selisih imbal hasil obligasi Indonesia terhadap obligasi pemerintah AS masih relatif sempit secara historis. Namun upaya tersebut belum tentu mampu menghentikan penurunan sebelum dolar AS mencapai puncaknya.

Bank Indonesia, Rabu kemarin, menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin, lebih besar dari perkiraan pasar. Langkah tersebut diambil untuk memperkuat upaya mempertahankan rupiah setelah mata uang tersebut jatuh ke serangkaian rekor terendah bulan ini.

Presiden Prabowo Subianto juga mengumumkan sejumlah langkah untuk mendukung aset domestik, termasuk pembentukan badan milik negara untuk memusatkan ekspor komoditas strategis.

"Bahkan dengan kenaikan besar yang tidak terduga kemarin, investor masih khawatir terhadap kebijakan populis pemerintah yang berisiko memperburuk keseimbangan fiskal," ujarnya.

"Pada akhirnya, tekanan terhadap rupiah masih mengarah pada pelemahan lebih lanjut," imbuhnya.

Nilai aset-aset Indonesia telah merosot dalam beberapa bulan terakhir karena kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak akibat perang Iran akan memperburuk posisi fiskal negara. Pasar juga berspekulasi bahwa MSCI Inc. akan menurunkan status Indonesia menjadi pasar frontier.

Rupiah telah melemah sekitar 5,5% tahun ini, sementara indeks saham acuan turun sekitar 29%, dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun terus meningkat.

"Kenaikan suku bunga pada Rabu merupakan langkah ke arah yang benar, tetapi konsistensi kebijakan akan menjadi kunci ke depan," kata seorang analis strategi Asia. "Selisih antara imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dan AS masih sempit dibandingkan sejarahnya, sehingga sikap hawkish diperkirakan masih akan berlanjut."

Kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan ketidakpastian kebijakan di bawah pemerintahan Prabowo terus meningkat. Fitch Ratings dan Moody's Ratings sama-sama telah menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dengan alasan tersebut.

Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, bulan lalu mengatakan pemerintah akan meningkatkan subsidi energi hingga Rp100 triliun tahun ini karena pemerintah menanggung biaya kenaikan harga minyak untuk melindungi rumah tangga.

Para ekonom menilai subsidi tersebut akan mengurangi ruang belanja lainnya dan menyulitkan pemerintah mempertahankan dukungan fiskal sambil menjaga defisit di bawah batas resmi 3% dari produk domestik bruto.

"Bola kini berada di tangan pemerintah dengan pertanyaan terbesar mengenai bagaimana mereka akan merancang kebijakan ekonomi dan bisnis ke depan," kata seorang analis strategi fixed income dan makro.

"Pemerintah perlu mengurangi pengeluaran pada program-program yang memakan biaya besar tanpa dampak ekonomi yang sepadan, seperti makan gratis, koperasi desa, dan terbaru, badan ekspor komoditas terkait negara," tambahnya.

Purbaya mengatakan pada Selasa bahwa kementerian keuangan telah membeli kembali obligasi pemerintah hingga USD113 juta per hari untuk meredam kenaikan imbal hasil dan menahan arus keluar modal. Namun langkah tersebut belum mampu menghentikan rupiah mencetak rekor terendah baru pekan ini.

Every kenaikan suku bunga kebijakan oleh Bank Indonesia kemungkinan tidak akan menjadi pengubah permainan untuk membalikkan tren pelemahan rupiah saat ini, meskipun dukungan kebijakan akan membantu membatasi volatilitas berlebihan jika terjadi guncangan di masa depan.

Terkini