Menteri Keuangan Tegaskan Pelemahan Rupiah Bukan Karena Faktor Fiskal

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:17:40 WIB
Purbaya Yudhi Sadewa - Kemenkeu RI (sumber foto: NET)

JAKARTA - Otoritas keuangan menegaskan bahwa penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhir-akhir ini bukan dipicu oleh memburuknya keadaan fiskal pemerintah. 

Di tengah situasi global yang tidak menentu serta tekanan pasar keuangan dunia, pemerintah menyatakan bahwa fundamental fiskal nasional masih dalam keadaan yang prima.

Saat memaparkan realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara edisi April 2026, keadaan fiskal yang kuat ini terlihat dari rasio utang terhadap produk domestik bruto yang tertata stabil pada level kisaran 40 persen.

Di samping itu, angka defisit anggaran juga dikendalikan secara ketat agar tidak melewati batas aman 3 persen dari PDB. Langkah pengawasan ini terus berjalan berkesinambungan demi menjaga struktur keuangan negara.

“Ada yang bilang kan, siapa ya? Bahwa gara-gara fiskal berantakan rupiah melemah. Fiskalnya bagus sekali kok,” bantahnya terhadap rumor negatif terkait situasi ekonomi di dalam negeri.

Jika dikomparasikan dengan beberapa negara tetangga, situasi fiskal dalam negeri terhitung jauh lebih aman. Indikator makro ini menjadi bukti nyata kekuatan sistem keuangan domestik.

Rasio utang terhadap PDB yang berada pada angka 40 persen dipandang jauh lebih kokoh daripada performa banyak negara lain yang kini sedang mengalami guncangan ekonomi berat.

“Apalagi kalau kami pakai ukuran debt to GDP, kami masih di 40 persen. Yang lain sudah berantakan semua,” jelasnya.

Pemulihan ekonomi domestik tetap melaju beriringan dengan stabilitas fiskal, yang tercipta berkat semakin kuatnya peran dari sektor swasta. Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga agar sektor swasta tetap berfungsi sebagai roda penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Tingkat inflasi pun dipercaya akan tetap stabil di bawah kendali, salah satunya disokong oleh langkah pemerintah yang konsisten menyalurkan subsidi bahan bakar minyak hingga penghujung tahun ini.

Pergerakan melemahnya mata uang rupiah sudah diantisipasi dan dimasukkan ke dalam kalkulasi skema subsidi energi. Pemerintah sudah menerapkan proyeksi nilai tukar yang logis dalam perhitungan paling baru.

"Jadi tidak usah khawatir, itu sudah kami perhitungkan," sebutnya.

Walaupun pondasi ekonomi dalam negeri dinilai kokoh, situasi dunia diakui masih dipenuhi ketidakpastian yang tinggi sebagai dampak dari pergolakan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut memicu lonjakan harga untuk berbagai komoditas internasional seperti minyak bumi, minyak sawit mentah atau CPO, emas, hingga komoditas tembaga. Jalan keluar atas konflik ekonomi dan ketegangan geopolitik global ini memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Namun, daya tahan ekonomi domestik diyakini tetap kokoh berkat sinergi serta koordinasi yang kian padu antara otoritas fiskal dan juga moneter.

“Itu terjadi didesain oleh Pak Presiden. Artinya desain Pak Presiden benar, dan ke depan akan membaik terus kami,” tuturnya menunjuk pada aneka program kerja pemerintah yang diformulasikan demi menyokong pergerakan dunia usaha.

Performa makro ekonomi dalam negeri pada periode April 2026 memperlihatkan arah perbaikan yang nyata. Data realisasi mengenai kokohnya pondasi ekonomi ini diharapkan bisa tersebar secara luas ke publik supaya tidak memicu kepanikan yang tidak perlu di masyarakat.

Terkini