Tekanan Nilai Tukar Rupiah Mendorong Urgensi Kenaikan BI Rate 2026

Selasa, 19 Mei 2026 | 11:31:32 WIB
Ilustrasi Rupiah Dollar (sumber foto: NET)

JAKARTA - Lembaga riset ekonomi makro menilai Bank Indonesia atau BI perlu segera menaikkan suku bunga acuan mereka pada periode ini.

Sorotan utama tertuju pada kondisi nilai tukar mata uang rupiah yang saat ini berada pada titik terendah sepanjang sejarah, di mana posisinya sempat menembus angka 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

Catatan pemantauan menunjukkan bank sentral telah menggelontorkan cadangan devisa lebih dari US$ 10 miliar dalam empat bulan terakhir sebagai upaya menjaga stabilitas mata uang domestik.

“Untuk lebih memperluas upaya stabilisasi rupiah, Bank Indonesia seharusnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen pada rapat Dewan Gubernur mendatang,” tulis peneliti pasar finansial dalam laporan analisis makroekonomi terbaru.

Pandangan sejalan juga datang dari analis sekuritas senior yang menilai otoritas moneter perlu mengambil langkah kebijakan yang jauh lebih agresif serta antisipatif di tengah tekanan eksternal yang masih berlangsung.

Kondisi pasar saat ini dinilai bukan lagi semata-mata persoalan fluktuasi harga minyak mentah dunia atau arah kebijakan suku bunga bursa global, melainkan sudah mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental.

Aspek fundamental yang dimaksud berkaitan langsung dengan kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi nasional, sehingga bank sentral disarankan mengerek suku bunga hingga sebesar 50 basis poin.

Langkah penyesuaian instrumen moneter kali ini dipastikan bukan karena kondisi ekonomi domestik sedang runtuh atau akibat adanya lonjakan inflasi yang tinggi.

“Justru ini diperlukan agar kami tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi,” tulis pengamat pasar modal dalam keterangan resminya.

Agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia sendiri telah dijadwalkan berlangsung pada tanggal 19 hingga 20 Mei 2026 untuk menentukan arah kebijakan ke depan.

Sebelumnya, jajaran pimpinan bank sentral sempat menyatakan bahwa ruang untuk memangkas tingkat suku bunga acuan saat ini kondisinya semakin lama menjadi semakin tertutup.

Fokus utama otoritas moneter kini dialihkan sepenuhnya untuk membentengi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah menguatnya indeks dolar AS akibat eskalasi konflik geopolitik global.

Pihak otoritas merasa perlu melakukan rekalibrasi pada berbagai bauran kebijakan guna merespons fenomena keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan dalam negeri.

“Pertama dari suku bunga, meskipun BI-Rate kami pertahankan 4,75, nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus kemudian menyikapinya untuk menggunakan untuk stabilitas,” tegas pimpinan bank sentral saat menggelar rapat kerja bersama legislatif.

Terkini