Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah Akibat Sentimen Global

Senin, 18 Mei 2026 | 17:56:36 WIB
Ilustrasi Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Proyeksi pergerakan mata uang rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan yang cukup besar pada pembukaan perdagangan Senin (18/5).

Situasi ini terjadi lantaran kuatnya pengaruh sentimen eksternal yang terus menyokong kekuatan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan laporan dari data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat sebesar 0,47 persen ke posisi 99,28 pada akhir perdagangan Jumat (15/5/2026).

Dampaknya, nilai tukar rupiah terkoreksi 0,39 persen ke angka Rp17.597 per dolar AS, sedangkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp17.496 per dolar AS pada Rabu (13/5).

Seorang pengamat pasar modal yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, memaparkan bahwa penurunan nilai mata uang Garuda di akhir pekan lalu disebabkan oleh kombinasi beberapa sentimen global.

Hal itu mencakup keperkasaan greenback, kenaikan yield obligasi AS, serta sikap waspada dari para pelaku pasar dunia.

"Pelemahan rupiah pada Jumat terutama dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan sentimen risk-off global," ujar Budi, Minggu (17/5/2026).

Budi menyebutkan bahwa mayoritas mata uang di wilayah Asia juga ikut melemah terhadap dolar AS.

Pada perdagangan Senin (18/5), nilai mata uang Indonesia diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan yang masih melempem.

"Biasanya masih cenderung melemah. Jika tekanan dolar, harga minyak, dan arus keluar asing berlanjut, rupiah bisa menguji area Rp17.600–Rp17.650. Namun jika ada intervensi BI yang kuat atau sentimen global membaik, rupiah bisa tertahan mendekati Rp17.500–Rp17.550,” kata Budi.

Sejumlah faktor krusial yang mengontrol fluktuasi kurs pada awal pekan ini antara lain pergerakan indeks dolar AS, tingkat imbal hasil US Treasury, nilai minyak mentah dunia, hingga memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

"Jika harga minyak tetap tinggi, rupiah masih rentan karena pasar akan menghitung risiko inflasi impor dan tekanan fiskal," ujar Budi.

Dari sektor domestik, perhatian pasar tersorot pada langkah stabilisasi keuangan yang dilakukan Bank Indonesia, termasuk pergerakan modal asing di pasar saham lokal dan Surat Berharga Negara (SBN).

Berdasarkan analisis Budi, penanam modal pun sedang mengamati dampak sentimen MSCI yang berisiko memicu keluarnya modal asing.

Di sisi lain, Bank Indonesia dari jauh hari sudah menyatakan komitmennya untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah lewat langkah intervensi di pasar domestik maupun offshore.

"Jadi, rupiah pada Senin kemungkinan masih defensif, kecuali ada katalis positif dari pelemahan dolar AS," tutupnya.

Terkini