JAKARTA - Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bukan sekadar ambisi statistik. Bagi Indonesia, angka itu adalah kebutuhan strategis agar mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah sebelum bonus demografi kehilangan momentumnya.
Namun dalam hampir setiap diskusi mengenai percepatan pertumbuhan, ada satu faktor mendasar yang sering diperlakukan hanya sebagai sektor pendukung, padahal justru menjadi fondasi utama dari seluruh aktivitas ekonomi modern. Faktor tersebut adalah energi.
Tidak ada industrialisasi tanpa listrik yang andal. Tidak ada hilirisasi tanpa pasokan energi yang kompetitif. Tidak ada pusat data, kawasan manufaktur modern, ataupun ekosistem kendaraan listrik tanpa sistem ketenagalistrikan yang stabil dan efisien.
Ketika energi terganggu, pertumbuhan ekonomi kehilangan tenaga penggeraknya. Karena itu, Indonesia membutuhkan redefinisi besar terhadap cara pandang energi nasional. Energi tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai komoditas ekstraktif yang dijual ke pasar global.
Energi harus diposisikan sebagai instrumen pencipta nilai tambah bagi industri nasional. Di titik inilah transformasi menuju green power menjadi relevan. Transisi energi bukan lagi semata soal memenuhi komitmen lingkungan internasional.
Ia telah berubah menjadi strategi ekonomi untuk memperebutkan investasi global, membangun industri baru, dan menciptakan sumber pertumbuhan yang berkelanjutan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana memastikan transisi itu menjadi katalis ekonomi.
Jawabannya terletak pada satu kata penting yaitu orkestrasi. Orkestrasi berarti menyelaraskan kebijakan energi, kepastian regulasi, pembangunan transmisi, kesiapan industri, pembiayaan, dan pengembangan SDM ke dalam satu arah besar yang mendukung target nasional.
Langkah pertama dari orkestrasi tersebut adalah mengubah paradigma investasi energi terbarukan. Selama ini, perdebatan publik sering berhenti pada asumsi bahwa energi hijau lebih mahal dibanding energi fosil, padahal tren global menunjukkan hal sebaliknya.
Harga panel surya dan teknologi penyimpanan energi terus turun secara signifikan. Sebaliknya, energi fosil semakin rentan terhadap volatilitas harga global, tekanan geopolitik, dan biaya lingkungan yang semakin mahal bagi kelangsungan industri.
Langkah kedua adalah memastikan bahwa transformasi energi menjadi motor hilirisasi industri. Indonesia telah melihat bagaimana hilirisasi nikel menciptakan nilai tambah besar. Namun fase berikutnya harus melangkah menuju hilirisasi hijau yang lebih modern.
Investor global kini semakin mempertimbangkan jejak karbon dalam menentukan lokasi manufaktur mereka. Kawasan industri yang memiliki akses terhadap energi bersih akan memiliki keunggulan kompetitif dibanding kawasan yang masih bergantung pada energi intensif karbon.
Langkah ketiga adalah memaksimalkan kekuatan domestik Indonesia sebagai sumber baseload hijau. Di tengah berkembangnya energi surya dan angin, Indonesia memiliki keunggulan panas bumi dan tenaga air dalam skala besar yang jarang dimiliki negara lain.
Optimalisasi dua sumber daya tersebut bukan hanya soal ketahanan energi, tetapi juga soal kedaulatan ekonomi. Semakin besar porsi energi domestik yang dimanfaatkan, semakin kecil ketergantungan terhadap impor energi yang berdampak pada stabilitas nilai tukar.
Langkah keempat adalah modernisasi infrastruktur ketenagalistrikan. Indonesia membutuhkan smart grid yang mampu mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan. Ketimpangan lokasi sumber energi dan permintaan harus dijembatani melalui jaringan transmisi nasional.
Meski demikian, transisi energi tetap harus dilakukan secara realistis dan bertahap. Indonesia tidak bisa melakukan perubahan ekstrem dalam waktu singkat tanpa mempertimbangkan stabilitas ekonomi. Di sinilah gas bumi memegang peran penting sebagai energi transisi.
Indonesia sesungguhnya memiliki seluruh modal untuk menjadi kekuatan energi hijau dunia. "Kami memiliki sumber daya alam yang besar, posisi geopolitik strategis, pasar domestik yang kuat, dan kebutuhan industrialisasi yang terus tumbuh," ungkap narasi kebijakan tersebut.
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen hanya akan tercapai jika Indonesia memiliki mesin pertumbuhan baru yang lebih modern, efisien, dan kompetitif. Green power adalah salah satu mesin itu yang bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis.
Kini saatnya menjadikan green power bukan sekadar proyek energi, tetapi fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kuat, berdaulat, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.