Pertumbuhan Ekonomi 2026 dan Catatan Defisit APBN di Bawah 3 Persen

Selasa, 12 Mei 2026 | 15:38:15 WIB
Ilustrasi APBN (sumber foto: NET)

JAKARTA - Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen, didukung oleh pengeluaran negara yang besar di awal tahun.

Head of Center Macroeconomics and Finance Indef, M. Rizal Taufiqurrahman, melihat tren ini dari belanja negara per April 2026 yang menembus Rp815,0 T. Jumlah tersebut melonjak tajam 21,81 persen secara tahunan.

Tingginya belanja di awal tahun menyebabkan defisit APBN pada kuartal I-2026 mencapai 0,93 persen terhadap PDB. Kondisi ini dinilai berisiko karena mendekati batas maksimal defisit tahunan sebesar 3 persen.

Rizal menyebut bahwa jika pola belanja agresif ini diteruskan, target defisit akan sulit dijaga. Ia menekankan perlunya stimulus yang memberikan nilai tambah lebih besar pada kuartal-kuartal berikutnya.

"Kalau 1 triwulan saja sudah hampir 1%, kami masih ada sisa 3 triwulan. lagi. Dan ini punya peluang kalau tidak betul-betul stimulus itu menciptakan nilai tambah yang besar. Bahkan lebih besar dari triwulan 1 Maka sangat sulit rasanya untuk menjaga 3% dengan tetap mengutamakan belanja fiskal yang luar biasa yang fantastis pertumbuhannya," ujar Rizal.

Rizal mengingatkan agar pemerintah tidak terus bergantung pada belanja negara sebagai motor utama ekonomi. Menurutnya, pola ketergantungan pada fiskal membuat biaya pertumbuhan menjadi sangat mahal.

"Kalau demikian terus dilakukan maka pertumbuhan ekonomi kami sangat mahal Sangat mahal Kalau mengandalkan fiskal dengan digenjot sampai dua digit gitu ya," ujarnya.

Ia menyarankan agar anggaran negara lebih diarahkan sebagai stimulus untuk sektor produktif. Hal ini bertujuan agar tercipta efek pengganda yang lebih luas, bukan sekadar untuk konsumsi jangka pendek.

"Justru bagaimana fiskal itu menjadi stimulus untuk meningkatkan dan juga mendapatkan multiplier yang lebih tinggi," ujarnya.

Meskipun investasi atau PMTB mampu tumbuh 5,09 persen dan berkontribusi besar pada PDB, strukturnya dianggap belum optimal. Rizal menyarankan fokus pada produktivitas dan daya tahan ekonomi nasional.

"Tentu produktivitas dan daya tahan ekonomi nasional yang jauh lebih baik tentu tidak besar gap antara capaian pertumbuhan ekonomi makro dan juga situasi di mikronya," ujarnya.

Pemerintah diminta waspada agar pertumbuhan ekonomi tidak merosot tajam pada kuartal II-2026. Terutama saat momentum konsumsi tinggi di awal tahun mulai melandai.

"Tentu hati-hati Jangan mengandalkan sebagai penopang utama atau engine pertumbuhan ekonomi itu dari belanja pemerintah. Kalau demikian terus dilakukan maka pertumbuhan ekonomi kami sangat mahal sangat mahal," ujarnya.

Terkini