Rupiah Diproyeksi Melemah Ke 17.380 Per Dolar AS pada 12 Mei 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:40:00 WIB
Ilustrasi mata uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari Selasa, 12 Mei 2026 diproyeksikan akan fluktuatif dengan kecenderungan ditutup pada zona merah.

Mata uang domestik ini diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.380 sampai dengan Rp17.430 per dolar AS sepanjang hari perdagangan.

Berdasarkan data RTI Infokom pada Senin (11/5/2026), mata uang Garuda terpantau melemah sebanyak 32 poin ke posisi Rp17.414 per dolar AS seiring penguatan indeks dolar AS.

Kondisi ini sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia yang juga berakhir di zona negatif, termasuk yen Jepang, won Korea, serta baht Thailand.

Ibrahim Assuaibi selaku Direktur PT Traze Andalan Futures memaparkan bahwa keperkasaan dolar AS disebabkan oleh sikap tegas Presiden AS Donald Trump terhadap pihak Iran.

Donald Trump menyatakan bahwa respons dari Teheran tidak bisa diterima, sehingga menghapus ekspektasi pasar terkait penurunan ketegangan di wilayah Teluk.

“Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Ibrahim melanjutkan, investor saat ini tengah menunggu agenda kunjungan Donald Trump ke China untuk menemui Presiden Xi Jinping guna membicarakan krisis internasional.

Pasar juga sedang memantau pengumuman data inflasi Amerika Serikat periode April serta laporan penjualan ritel yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Sementara itu, dari sisi domestik, Bank Indonesia mengumumkan hasil Survei Konsumen April 2026 yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik menjadi 123,0.

“Terjaganya keyakinan konsumen didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini [IKE] yang naik ke level 116,5, mencerminkan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan daya beli,” pungkas Ibrahim.

Meski demikian, tekanan dari faktor eksternal berupa situasi geopolitik dan antisipasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi beban utama bagi posisi rupiah saat ini.

Terkini