KPR Dominasi Pembelian Rumah Saat Penjualan Properti Turun Tajam 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 09:48:06 WIB
Ilustrasi Rumah (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Kredit Pemilikan Rumah atau KPR masih menjadi tumpuan utama bagi masyarakat dalam membeli rumah di pasar primer. Di tengah perlambatan pertumbuhan harga properti dan penurunan penjualan rumah pada awal 2026, mayoritas konsumen tetap mengandalkan pembiayaan perbankan untuk memiliki hunian.

Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia Triwulan I 2026 mencatat, pangsa pembelian rumah primer melalui KPR mencapai 69,87 persen dari total skema pembelian. Sementara itu, pembelian secara tunai bertahap tercatat sebesar 19,61 persen dan tunai keras sebesar 10,53 persen.

Dominasi KPR tersebut terjadi ketika sektor properti residensial masih menghadapi tekanan. BI mencatat Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal I 2026 tumbuh sebesar 0,62 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 sebesar 0,83 persen.

“Dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema pembelian Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dengan pangsa sebesar 69,87 persen dari total skema pembelian,” tulis BI dalam laporan SHPR Triwulan I 2026.

Perlambatan pertumbuhan harga rumah terjadi di seluruh tipe properti, mulai dari tipe menengah, besar, hingga tipe kecil. Di sejumlah daerah seperti Surabaya, harga rumah bahkan mengalami kontraksi sebesar 0,27 persen secara tahunan.

Di tengah dominasi KPR, pasar properti residensial masih dibayangi lemahnya penjualan rumah. BI mencatat, penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal I 2026 terkontraksi 25,67 persen, berbalik dari pertumbuhan 7,83 persen pada akhir 2025.

Penurunan paling dalam ditemukan pada rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 45,59 persen. Secara kuartalan, penjualan rumah juga menyusut 7,69 persen dengan penurunan terdalam pada rumah tipe besar yang mencapai 20,38 persen.

Pihak bank sentral menyebut kenaikan harga bahan bangunan menjadi faktor utama penghambat penjualan properti. Faktor lainnya meliputi masalah perizinan, suku bunga KPR, proporsi uang muka yang tinggi, serta masalah perpajakan.

“Penjualan properti residensial primer masih menghadapi tantangan. Berdasarkan hasil survei, tantangan utama pengembangan dan penjualan properti residensial pada pasar primer meliputi kenaikan harga bahan bangunan, masalah perizinan/birokrasi, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR, dan perpajakan,” tulis BI.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kondisi tersebut dipengaruhi daya beli masyarakat yang belum meningkat signifikan. Pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen hingga 5,4 persen dinilai belum cukup kuat mendorong ekspansi kredit properti.

“Kalau kami lihat, income masyarakat belum naik signifikan. Jadi wajar kalau belum ada lonjakan besar pada penyaluran kredit, khususnya di sektor properti,” ujar Myrdal. Suku bunga yang relatif tinggi juga turut menahan minat masyarakat mengambil KPR.

Direktur Utama BTN Nixon L.P Napitupulu menjelaskan bahwa perlambatan tersebut dipengaruhi faktor musiman seperti tingginya curah hujan yang menghambat pembangunan fisik rumah. Dalam skema KPR, pencairan kredit baru dilakukan setelah pembangunan fisik rampung sepenuhnya.

“Ini bukan menghambat, tapi menunda realisasi kredit karena fisik rumah belum selesai,” kata Nixon. Meskipun penyaluran melambat, perbankan tetap berkomitmen menjaga kualitas kredit agar rasio NPL tetap berada di level yang aman dan terkendali.

Terkini