Dinas Sosial Kabupaten Bekasi Genjot Peralihan PBI APBD ke APBN

Kamis, 30 April 2026 | 13:51:33 WIB
Dinas Sosial Kabupaten Bekasi Genjot Peralihan PBI APBD ke APBN

CIKARANG PUSAT – Pemerintah Kabupaten Bekasi saat ini tengah menaruh perhatian serius pada tata kelola anggaran jaminan kesehatan masyarakat melalui strategi pengalihan beban iuran. Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bekasi secara proaktif terus mendorong agar peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang selama ini ditanggung APBD bisa segera beralih ke skema APBN.

Upaya ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menciptakan ruang fiskal yang lebih lega bagi pembangunan daerah di sektor lainnya. Kepala Dinsos Kabupaten Bekasi, dr Alamsyah, memberikan gambaran nyata bahwa upaya tersebut telah membuahkan hasil signifikan sejak awal tahun ini.

dr Alamsyah mengungkapkan fakta bahwa hingga memasuki periode awal 2026, tercatat sudah ada sebanyak 165.300 jiwa yang berhasil dialihkan status pembiayaannya. Migrasi kepesertaan ini secara otomatis memindahkan beban pembayaran premi asuransi kesehatan dari pemerintah daerah langsung ke pemerintah pusat.

“Untuk PBI yang dibiayai APBN, sampai Januari tercatat sebanyak 767.690 peserta. Namun pada Maret mengalami penurunan menjadi 757.685 peserta, karena adanya penyesuaian anggaran di pemerintah pusat,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (29/04/2026), sebagaimana dilansir dari sumbernya, Rabu (29/04).

Kondisi fluktuatif pada kuota nasional ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjamin kepastian jaminan kesehatan warganya. Alamsyah menyebutkan bahwa penurunan jumlah peserta di tingkat daerah seringkali sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan anggaran berskala nasional.

Ia menjelaskan, penurunan tersebut terjadi lantaran alokasi anggaran nasional difokuskan untuk pembangunan di wilayah Aceh, sehingga berdampak pada kuota PBI secara nasional. Hal ini menunjukkan betapa dinamisnya sistem jaminan kesehatan kita yang sangat bergantung pada prioritas pembangunan di tingkat pusat.

Meski demikian, pihak Dinsos tidak tinggal diam dan terus melakukan langkah-langkah administratif guna mengisi celah kuota yang mungkin tersedia kembali. Proses pengusulan data calon penerima baru ke Kementerian Sosial (Kemensos) dilakukan secara konsisten setiap bulan tanpa terputus.

Berdasarkan target yang telah ditetapkan, jumlah usulan yang dikirimkan oleh tim di lapangan mencapai angka 56.156 jiwa per bulannya. Target yang ambisius ini dimaksudkan agar masyarakat Bekasi mendapatkan porsi yang maksimal dari jatah bantuan iuran yang disediakan oleh negara.

“Data yang kami usulkan berasal dari hasil pemadanan, khususnya masyarakat pada kategori desil 6 sampai 10 yang dinilai layak untuk diturunkan ke desil yang lebih rendah agar bisa masuk dalam penerima bantuan,” jelasnya, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Rabu (29/04).

Alamsyah berpendapat bahwa pembenahan data melalui kategori desil ini sangat krusial agar bantuan yang disalurkan benar-benar tepat sasaran. Melalui pemadanan yang teliti, masyarakat yang secara ekonomi memang membutuhkan akan mendapatkan perlindungan kesehatan yang layak dari pemerintah pusat.

Secara keseluruhan, total data hasil pemadanan yang masuk ke dalam kategori masyarakat layak bantu tersebut ternyata cukup besar, yakni mencapai 304.407 jiwa. Data masif ini tidak muncul secara instan, melainkan hasil kerja keras tim di lapangan yang memantau kondisi sosial ekonomi warga secara langsung.

Proses verifikasi dan validasi ini dilakukan secara berjenjang oleh petugas Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) dari tingkat desa. Kolaborasi yang apik hingga ke tingkat kabupaten memastikan data yang masuk ke kementerian memiliki akurasi yang tinggi dan minim risiko duplikasi.

Efek positif dari rapinya administrasi ini bukan hanya soal perlindungan kesehatan, tetapi juga memberikan dampak instan pada laporan keuangan pemerintah daerah. Alamsyah memaparkan secara detail adanya potensi penghematan anggaran daerah yang nilainya sangat fantastis dari hasil peralihan tersebut.

Pada bulan Januari saja, jumlah peserta PBI yang ditanggung APBN terpantau berada di angka 765.955 peserta yang sangat membantu keuangan daerah. Sementara itu, jumlah masyarakat yang masih masuk dalam tanggungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tercatat sebanyak 682.399 peserta.

“Dari data itu terlihat adanya pengurangan beban APBD sebesar Rp35.093.520.000 akibat peralihan ke APBN,” katanya, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Rabu (29/04).

Angka penghematan lebih dari tiga puluh lima miliar rupiah ini tentu menjadi angin segar bagi optimalisasi belanja daerah di masa mendatang. Alamsyah optimis bahwa jika konsistensi pengusulan data tetap terjaga, maka angka penghematan tersebut akan terus merangkak naik setiap bulannya.

Ia menambahkan, apabila upaya pengusulan rutin sebesar 56.156 peserta per bulan terus berjalan, maka potensi penghematan APBD bisa semakin besar. Strategi ini menjadi bukti bahwa efisiensi birokrasi dapat dicapai melalui pengelolaan data yang modern dan berkelanjutan antara pusat dan daerah.

“Setiap bulan kita bisa mengurangi beban APBD sekitar Rp1.965.460.000. Ini tentu sangat membantu efisiensi anggaran daerah,” tandasnya, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Rabu (29/04).

Keberhasilan migrasi data ini pada akhirnya akan memberikan dampak ganda bagi pembangunan kesejahteraan di Kabupaten Bekasi secara menyeluruh. Penghematan hampir dua miliar rupiah setiap bulan bisa dialokasikan kembali untuk program kerakyatan lainnya yang tak kalah penting seperti perbaikan infrastruktur desa.

Selain itu, program jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu tetap terjaga kualitasnya meskipun sumber biayanya berpindah ke pemerintah pusat. Ketelitian para petugas di tingkat desa dalam mengoperasikan aplikasi SIKS-NG menjadi kunci utama keberhasilan program migrasi anggaran jaminan kesehatan nasional ini.

Masyarakat yang tadinya tidak masuk dalam skema bantuan pusat kini mulai merasakan manfaat dari penurunan status desil hasil pemadanan data terbaru. Langkah dr Alamsyah ini setidaknya memberikan peta jalan yang jelas bagi perangkat daerah lain dalam melakukan penghematan anggaran yang berbasis pada keakuratan data.

Ke depan, koordinasi dengan Kementerian Sosial akan terus ditingkatkan guna memastikan kuota untuk Kabupaten Bekasi tidak tergerus oleh kebutuhan daerah lain. Dinsos juga akan rutin melakukan sosialisasi kepada aparat desa agar terus aktif memperbarui data kemiskinan di wilayah masing-masing agar tetap relevan.

Dengan demikian, target pengurangan beban keuangan daerah bukan lagi sekadar impian, melainkan sudah menjadi realitas yang sedang berjalan secara bertahap. Melalui pendekatan berbasis teknologi informasi, jaminan kesehatan nasional kini lebih transparan dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pemerintah daerah Kabupaten Bekasi.

Langkah berani ini diharapkan menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam mengelola jaminan kesehatan masyarakat melalui skema integrasi data yang kuat. Pada akhirnya, keberhasilan program ini akan berujung pada meningkatnya indeks kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di seluruh penjuru Kabupaten Bekasi di masa depan.

Terkini