Saham IMPC dan GOTO Topang Indeks Saat Asing Net Sell Rp797 Miliar

Rabu, 29 April 2026 | 13:51:13 WIB
GOTO - Tokopedia

JAKARTA – Dinamika pasar modal Indonesia pada pertengahan pekan ini menunjukkan ketahanan yang cukup menarik untuk dicermati para pelaku pasar. Meskipun arus modal keluar dari investor asing masih deras mengalir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rupanya masih mampu merangkak naik secara perlahan.

Kenaikan yang terjadi memang tergolong tipis, namun hal ini memberikan sinyal bahwa kekuatan domestik atau sektor-sektor tertentu mulai mengambil alih kendali. Fenomena ini sekaligus mematahkan kekhawatiran akan terjadinya koreksi dalam akibat aksi pelepasan aset oleh pemodal luar negeri.

Indeks Harga Saham Gabungan tercatat mengalami penguatan sebesar 0,12 persen yang membawanya parkir di level 7.080,632 pada penutupan sesi satu. Berdasarkan laporan yang dihimpun, pergerakan positif ini tetap bertahan meski nilai jual bersih asing mencapai angka Rp797,13 miliar.

Sepertinya ada perubahan selera risiko di kalangan investor global yang mulai mengurangi porsi kepemilikan mereka pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Fokus utama pelepasan aset kali ini tertuju pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dikenal sebagai lokomotif pasar selama ini.

Aksi net sell pada saham BBCA sendiri mencapai nilai yang cukup signifikan yakni sebesar Rp150 miliar hanya dalam setengah hari perdagangan. Akibat dari tekanan jual yang masif tersebut, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini harus terkoreksi hingga 0,42 persen.

Saham BBCA akhirnya menyentuh posisi Rp5.975 per lembar saham pada sesi kedua perdagangan berlangsung setelah sempat berfluktuasi cukup tajam. Data dari bursa memperlihatkan bahwa saham ini sebenarnya sempat mencoba menanjak hingga menyentuh level tertinggi di angka Rp6.050.

Namun daya beli yang ada nampaknya tidak cukup kuat menahan gempuran jual hingga harganya sempat terseret ke titik terendah di level Rp5.950. Aktivitas transaksi pada saham perbankan ini tergolong sangat padat dengan volume perdagangan mencapai sekitar 1,25 juta lot.

Nilai transaksi total untuk saham BBCA saja sudah menembus angka Rp750 miliar, yang menunjukkan betapa aktifnya perdagangan di sektor ini. Meski raksasa perbankan sedang tertekan, kondisi pasar secara kolektif sebenarnya masih berada dalam tren yang relatif seimbang dan sehat.

Tercatat ada sebanyak 362 saham yang bergerak menguat, sementara jumlah saham yang mengalami pelemahan terpantau sebanyak 303 emiten. Sisanya tetap bertahan di posisi stagnan tanpa perubahan harga yang berarti hingga jeda istirahat perdagangan tengah hari tiba.

Secara keseluruhan, nilai transaksi di bursa saham mencapai Rp8,409 triliun dengan frekuensi perdagangan yang cukup tinggi mencapai 1,47 juta kali. Angka-angka ini mencerminkan optimisme pelaku pasar lokal yang tetap aktif melakukan transaksi di tengah ketidakpastian arus dana asing.

Nafan Aji Gusta berpendapat bahwa penguatan indeks sejauh ini didorong oleh performa solid pada sektor industri dan teknologi yang sedang naik daun. Kedua sektor tersebut nampaknya menjadi pelarian modal yang cukup efektif saat sektor keuangan sedang mengalami fase konsolidasi atau tekanan jual.

"Laju indeks sektoral hingga siang ini dipimpin oleh IDX Industrial dan IDX Techno, dengan enam dari 11 indeks yang menghijau," ujar Nafan, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Rabu (29/04).

Sektor industri mencatatkan lonjakan yang sangat mengesankan dengan kenaikan sebesar 2,67 persen, memimpin penguatan di antara sektor lainnya. Tak mau kalah, sektor teknologi juga menunjukkan taringnya dengan berhasil membukukan kenaikan performa sebesar 1,48 persen pada sesi pertama.

Pendorong utama yang membuat IHSG tetap perkasa adalah lonjakan tajam pada saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC). Saham ini terbang tinggi hingga mencapai 9,76 persen, memberikan kontribusi poin yang cukup besar bagi pergerakan indeks secara keseluruhan.

Selain IMPC, raksasa teknologi tanah air PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga turut menjadi penopang dengan kenaikan sebesar 5,66 persen. Perpaduan antara sektor industri manufaktur dan teknologi ini berhasil mengimbangi pelemahan yang terjadi pada saham-sama komoditas maupun perbankan.

Namun di sisi lain, laju indeks bukannya tanpa hambatan karena ada beberapa saham blue chip yang justru menjadi pemberat langkah IHSG. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengalami pelemahan cukup dalam sebesar 4,22 persen, yang diikuti oleh penurunan harga pada saham pertambangan.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pun terpantau loyo dengan terkoreksi sebesar 2,97 persen hingga penutupan sesi perdagangan pertama tersebut. Tarik-menarik antara saham penggerak dan penekan ini menciptakan volatilitas yang cukup menarik bagi para trader harian untuk mencari peluang.

Pengamat pasar melihat bahwa keberhasilan IHSG bertahan di zona hijau merupakan bukti bahwa diversifikasi sektor di bursa kita mulai berjalan baik. Investor tidak lagi hanya bergantung pada kinerja satu atau dua bank besar untuk menentukan arah pergerakan pasar modal nasional.

Kembalinya gairah pada sektor teknologi memberikan napas baru bagi para pemegang saham yang selama ini menantikan momentum pembalikan arah atau rebound. Jika sektor industri mampu mempertahankan konsistensi pertumbuhannya, maka peluang IHSG untuk menguat lebih jauh pada sesi sore masih terbuka lebar.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat nilai net sell asing yang hampir menyentuh angka satu triliun rupiah bukan perkara yang remeh. Para pelaku pasar disarankan untuk tetap memantau rilis data ekonomi domestik yang mungkin akan dirilis dalam waktu dekat sebagai pemandu arah.

Keseimbangan antara jumlah saham yang naik dan turun menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan rotasi sektor secara alami dan bertahap. Hal ini seringkali menjadi indikasi bahwa pasar sedang bersiap untuk membentuk pondasi harga baru yang lebih stabil sebelum memulai reli panjang.

Ke depannya, perhatian pasar akan tertuju pada apakah investor asing akan kembali masuk atau justru terus menambah porsi penjualan bersih mereka. Untuk sementara, sektor industri dan teknologi nampaknya masih akan menjadi primadona bagi para pencari keuntungan di lantai bursa Indonesia.

Pelemahan pada saham-saham energi seperti ANTM juga perlu diwaspadai karena fluktuasi harga komoditas global seringkali memberikan dampak instan pada pergerakan indeks. Tetap disiplin pada rencana perdagangan adalah kunci utama menghadapi pasar yang bergerak fluktuatif namun cenderung positif seperti hari ini.

Kenaikan tipis ini setidaknya mampu memberikan ketenangan bagi para investor ritel yang sempat khawatir akan dampak keluarnya dana asing. Kita akan melihat apakah kekuatan sektor industri ini mampu bertahan hingga bel penutupan perdagangan sore nanti berakhir.

Terkini