IHSG Melemah ke 7.072, Saham RLCO Justru Jadi Incaran Asing

Rabu, 29 April 2026 | 13:51:13 WIB
Ilustrasi Saham IHSG

JAKARTA – Kondisi pasar modal Indonesia tengah mengalami tekanan cukup berat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terparkir di zona merah. Meski demikian, ada pergerakan menarik di balik layar di mana pemodal internasional mulai melakukan akumulasi pada aset-aset tertentu.

Penurunan indeks ini seolah menjadi kesempatan bagi segelintir pihak untuk masuk secara perlahan namun pasti. Data perdagangan menunjukkan adanya aliran dana yang masuk ke sektor-sektor yang dianggap memiliki prospek jangka panjang.

Investor asing terpantau melakukan penjualan bersih dengan nilai yang cukup fantastis mencapai angka Rp2,4 triliun. Angka tersebut berasal dari total aksi beli sebesar Rp5,94 triliun berbanding terbalik dengan aksi jual Rp8,29 triliun.

Situasi ini mencerminkan bahwa mayoritas pelaku pasar global masih cenderung menahan diri atau melakukan aksi ambil untung. Namun, konsentrasi pembelian justru terjadi pada emiten-emiten spesifik yang memiliki fundamental menarik di mata mereka.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah pergerakan pada saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) di pasar negosiasi. Emiten ini menduduki posisi puncak sebagai saham yang paling banyak diburu dengan nilai akumulasi mencapai Rp330,5 miliar.

Pembelian dalam jumlah besar ini memberikan sinyal bahwa ada optimisme tersendiri terhadap kinerja perusahaan tersebut ke depan. Selain sektor tersebut, minat asing juga merambah ke industri komoditas yang saat ini sedang menjadi primadona global.

Nama-nama besar seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turut masuk dalam daftar belanja. Kedua perusahaan tambang ini mencatatkan nilai beli bersih masing-masing sebesar Rp146,8 miliar dan Rp54,1 miliar.

Sektor energi dan sumber daya alam nampaknya masih menjadi pelabuhan aman bagi modal asing untuk berlabuh. Selain tambang, sektor perbankan kelas kakap seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga tidak luput dari pantauan.

Saham BBNI mengantongi net foreign buy senilai Rp34,0 miliar yang disusul oleh emiten energi lainnya yakni PT Elnusa Tbk (ELSA). PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga melengkapi daftar dengan torehan pembelian bersih sebesar Rp28,3 miliar.

Industri kertas pun mendapatkan porsi melalui saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) sebesar Rp17,8 miliar. Sektor konsumsi rokok melalui PT Gudang Garam Tbk (GGRM) masih dilirik dengan nilai akumulasi mencapai angka Rp17,0 miliar.

Dua emiten terakhir yang masuk dalam jajaran sepuluh besar adalah PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dan BULL. ESSA mencatatkan beli bersih Rp15,4 miliar sementara PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menyerap dana Rp14,4 miliar.

Jika melihat kondisi makro, IHSG sendiri ditutup merosot sekitar 34,13 poin atau setara dengan penurunan 0,48 persen. Indeks akhirnya harus puas berada di level 7.072,39 setelah sempat mencicipi titik tertinggi harian di 7.151,51.

Pergerakan harga saham di lantai bursa terlihat cukup variatif dengan tekanan jual yang lebih dominan dari pembeli. Sebanyak 352 saham memang berhasil menguat namun ada 374 saham yang justru terperosok ke zona negatif.

Sementara itu, sisa 233 saham lainnya terpantau tidak mengalami perubahan harga yang signifikan sepanjang sesi perdagangan. Nilai transaksi total di pasar mencapai Rp17,48 triliun dengan volume perdagangan yang menembus 30,23 miliar lembar saham.

Aktivitas perdagangan yang masif ini terjadi melalui 2,11 juta frekuensi transaksi yang dilakukan oleh para investor. Akibat pelemahan indeks ini, nilai kapitalisasi pasar secara keseluruhan menyusut menjadi di kisaran angka Rp12.594 triliun.

Tekanan paling kuat terhadap laju indeks datang dari saham-saham berkapitalisasi besar yang mengalami koreksi cukup dalam. Saham Amman Mineral (AMMN) menjadi beban utama setelah harganya terpangkas hingga lebih dari 5 persen pada hari tersebut.

Berdasarkan data Refinitiv, pelemahan pada saham AMMN memberikan dampak negatif terhadap indeks sebesar minus 8,36 poin. Hal ini terjadi setelah saham tersebut mengalami fase jenuh beli setelah sebelumnya sempat melesat hingga 8 persen.

Penyebab lainnya adalah penurunan beruntun yang dialami oleh saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) selama hampir sepekan terakhir. Penurunan enam hari berturut-turut pada saham DSSA menyumbang tekanan tambahan sebesar minus 7,05 poin bagi IHSG.

Para analis melihat bahwa fluktuasi ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang sedang mencari titik keseimbangan baru. Meskipun indeks melemah, fokus investor asing pada saham tambang menunjukkan arah spekulasi yang cukup jelas.

"Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp2,4 triliun pada perdagangan Selasa (28/4/2026)," sebagaimana dilansir dari sahamnews.com, Rabu (29/04).

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa besarnya arus modal yang keluar namun tetap menyisakan celah bagi akumulasi selektif. Fenomena ini sering disebut sebagai 'cherry picking' di mana pemodal hanya memilih aset berkualitas saat pasar diskon.

Editor berpendapat bahwa kehadiran aksi beli di tengah aksi jual masif sebenarnya memberikan harapan akan adanya potensi pembalikan arah. Namun, pelaku pasar tetap dihimbau untuk waspada terhadap volatilitas global yang masih membayangi pergerakan harga komoditas utama.

Langkah investor asing yang mulai melirik sektor energi bisa menjadi indikasi awal mengenai rotasi sektor di pasar. Sektor-sektor defensif dan berbasis komoditas kemungkinan akan tetap menjadi pilihan utama jika ketidakpastian pasar masih berlanjut ke depan.

Kebutuhan akan diversifikasi portofolio menjadi kunci utama bagi para pelaku pasar dalam menghadapi situasi yang tidak menentu. Tetap memantau pergerakan dana asing bisa menjadi salah satu panduan dalam menentukan strategi investasi yang tepat saat ini.

Ke depannya, level psikologis 7.000 akan menjadi ujian krusial bagi ketahanan IHSG untuk tetap bertahan di tren positif. Semua mata kini tertuju pada rilis data ekonomi terbaru yang diharapkan mampu memberikan sentimen pendorong bagi pasar modal.

Terkini