JAKARTA - Lonjakan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir memicu tekanan serius bagi pelaku usaha kuliner yang bergantung pada kemasan sekali pakai.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini menghadapi gelombang keluhan dari para pelaku usaha, terutama di sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada plastik kemasan. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru karena plastik masih menjadi kebutuhan utama yang belum mudah digantikan dalam waktu dekat.
Kenaikan harga plastik mulai dirasakan sejak akhir Maret 2026 dan berlanjut hingga awal April 2026. Kondisi ini membuat banyak pedagang harus menyesuaikan strategi agar tetap mampu bertahan di tengah meningkatnya biaya operasional.
Dinas PPKUKM DKI Jakarta menyebut bahwa kenaikan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada faktor eksternal yang memicu lonjakan harga, terutama dari dinamika global yang memengaruhi rantai pasok bahan baku plastik.
“Berdasarkan pemantauan dan temuan kami di lapangan, kenaikan harga plastik ini terjadi sejak akhir Maret 2026 bersamaan dengan pecahnya konflik geopolitik di Iran, dan berlanjut hingga awal April 2026 ini,” ungkap mereka dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, 11 April 2026.
Secara umum, kenaikan harga plastik di Jakarta berada pada kisaran 30% hingga 40%. Angka ini tergolong tinggi dan berdampak langsung terhadap berbagai jenis plastik yang digunakan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Jenis plastik yang terdampak mencakup kantong kresek, plastik kemasan berbahan polyethylene terephthalate atau PET, serta plastik polyethylene atau PE. Ketiganya merupakan komponen penting dalam sektor makanan dan minuman.
Lonjakan Harga Lebih Tinggi di Sejumlah Wilayah Jakarta
Kenaikan harga plastik tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah DKI Jakarta. Beberapa daerah mengalami lonjakan yang lebih signifikan dibandingkan wilayah lainnya.
Jakarta Barat dan Jakarta Utara menjadi wilayah dengan kenaikan harga paling tinggi. Sementara itu, Jakarta Selatan tercatat relatif lebih stabil meskipun tetap mengalami peningkatan harga.
Dari sisi jenis produk, kantong kresek menjadi yang paling terdampak dengan kenaikan mencapai sekitar 40%. Harga yang sebelumnya lebih rendah kini berada di kisaran Rp17.000 per pak.
Plastik kemasan berbahan PET juga mengalami kenaikan sekitar 35% dengan harga mencapai Rp22.000 per pak. Sementara plastik PE naik sekitar 30% hingga menyentuh Rp21.000 per pak.
Kondisi ini menambah tekanan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM di sektor kuliner. Kenaikan biaya kemasan menjadi beban tambahan di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Pelaku Usaha Hadapi Dilema Kenaikan Biaya Operasional
Bagi pelaku usaha kecil, kenaikan harga plastik memberikan dampak langsung terhadap margin keuntungan. Banyak di antara mereka yang harus menanggung biaya tambahan tanpa bisa langsung menaikkan harga jual.
Sebagian pelaku usaha mulai mempertimbangkan penyesuaian harga produk. Namun langkah ini tidak mudah karena harus mempertimbangkan daya beli konsumen.
Di sisi lain, ada pula yang mencoba mengurangi penggunaan plastik. Namun alternatif kemasan yang tersedia sering kali lebih mahal atau kurang praktis untuk digunakan.
Ketergantungan terhadap plastik membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Mereka harus memilih antara menekan margin keuntungan atau mengambil risiko kehilangan pelanggan.
Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan efek berantai pada sektor lain. Jika harga makanan dan minuman ikut naik, maka daya beli masyarakat dapat terpengaruh secara luas.
Faktor Global Jadi Pemicu Kenaikan Harga Plastik
Kenaikan harga plastik di Jakarta tidak terlepas dari kondisi global. Salah satu faktor utama adalah konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Wilayah tersebut merupakan pusat produksi petrokimia dunia yang menjadi sumber utama bahan baku plastik. Berbagai jenis bahan seperti PE, PP, PET, dan PS diproduksi dari kawasan tersebut.
Ketergantungan industri plastik terhadap pasokan global membuat harga sangat sensitif terhadap gangguan. Ketika terjadi konflik, rantai pasok terganggu dan harga pun mengalami lonjakan.
Saat ini, produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 40% kebutuhan bahan baku plastik nasional. Sementara sekitar 60% sisanya masih bergantung pada impor.
Negara pemasok utama meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Korea Selatan, dan Singapura. Ketergantungan ini menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
Upaya Pemerintah Jaga Stabilitas dan Kendalikan Dampak
Menghadapi situasi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menjaga stabilitas harga agar tidak semakin membebani masyarakat. Langkah strategis mulai disiapkan untuk meredam dampak yang lebih luas.
“Sesuai arahan Bapak Gubernur, kami akan coba menjaga stabilisasi harga bahan baku plastik di Jakarta. Kami juga fokus menahan laju inflasi daerah khususnya dari sektor pangan dan kebutuhan dasar masyarakat,” jelas Dinas PPKUKM.
Pemerintah melakukan penguatan pemantauan harga di tingkat pasar dan distributor. Selain itu, ketersediaan pasokan juga menjadi fokus utama agar tidak terjadi kelangkaan.
Langkah antisipatif juga diarahkan untuk mencegah dampak lanjutan terhadap harga makanan dan minuman. Hal ini penting agar kenaikan harga plastik tidak memicu inflasi yang lebih luas.
Stabilitas ekonomi daerah menjadi prioritas dalam menghadapi situasi ini. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan daya beli masyarakat.
Dengan berbagai langkah tersebut, diharapkan dampak kenaikan harga plastik dapat ditekan. Meski demikian, tantangan tetap ada selama ketergantungan terhadap pasokan global masih tinggi