JAKARTA - Upaya memperkuat kemandirian pangan nasional tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan konvensional semata.
Inovasi dan kolaborasi lintas sektor kini menjadi kunci dalam menjawab tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks. Hal inilah yang tercermin dalam pelaksanaan FertInnovation Challenge 2025 yang digagas PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai wadah pertemuan gagasan, teknologi, dan kebutuhan industri.
Ajang inovasi pertanian tersebut dinilai membuka ruang kolaborasi strategis antara dunia riset dan industri. Melalui kompetisi ini, Pupuk Indonesia berupaya memperkuat ekosistem inovasi pertanian nasional sekaligus mendorong lahirnya solusi konkret bagi tantangan sektor pangan dan pupuk di Indonesia.
FertInnovation Challenge tidak hanya menjadi ajang kompetisi ide, tetapi juga sarana untuk membangun pipeline riset yang relevan dan aplikatif.
Partisipasi luas dari berbagai kalangan menunjukkan besarnya minat dan potensi inovasi yang dimiliki Indonesia. Lebih dari 1.620 inovator dari mahasiswa, peneliti, profesional, hingga startup, baik dari dalam maupun luar negeri, ambil bagian dalam ajang ini.
Keterlibatan lintas institusi dan lintas disiplin tersebut menjadi bukti bahwa transformasi pertanian membutuhkan kolaborasi yang inklusif dan terbuka.
Komitmen Pupuk Indonesia Perkuat Ekosistem Inovasi Pertanian
Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan, menegaskan bahwa FertInnovation Challenge sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Menurutnya, penguatan inovasi, teknologi, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi fondasi penting dalam membangun sektor pertanian yang tangguh dan berdaya saing.
“Ajang ini sejalan dengan komitmen Pupuk Indonesia dalam mendukung swasembada pangan nasional melalui penguatan inovasi, teknologi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan,” ujar Jamsaton.
Ia menambahkan bahwa FertInnovation Challenge bukan sekadar kompetisi inovasi. Lebih dari itu, ajang ini merupakan instrumen strategis perusahaan untuk membangun ekosistem riset dan inovasi yang selaras dengan kebutuhan industri pupuk dan sektor pertanian nasional.
Melalui pendekatan open innovation, Pupuk Indonesia berupaya menyerap gagasan-gagasan transformatif dari inovator eksternal yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
FertInnovation Challenge Sebagai Instrumen Strategis Perusahaan
Pernyataan tersebut disampaikan Jamsaton dalam Awarding Ceremony FertInnovation Challenge 2025 yang digelar di Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, Pupuk Indonesia berkolaborasi dengan Indonesia Agrichemical Research Institute (IARI) guna memperkuat aspek riset dan pengembangan.
Platform dua tahunan ini dirancang sebagai media transformasi pertanian berbasis inovasi. Dengan pendekatan kolaboratif, FertInnovation Challenge menjadi jembatan antara dunia akademik, riset, dan kebutuhan nyata industri.
Melalui mekanisme seleksi bertahap, mulai dari seleksi administratif hingga final pitching, setiap karya inovasi diuji dari sisi kelayakan teknis, keberlanjutan, serta potensi implementasi.
Tema yang diusung pada FertInnovation Challenge 2025, yakni Cultivating Innovation, Achieving Food Self-Sufficiency, mencerminkan visi jangka panjang Pupuk Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi lintas sektor yang menghadirkan beragam perspektif dan solusi.
Empat Kategori Inovasi Jawab Tantangan Hulu hingga Hilir
Pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat empat kategori strategis yang dipertandingkan. Keempat kategori tersebut meliputi Precision Agriculture & Digital Farming, Climate Resilience & Sustainable Fertilizer, AI-Driven Agri Supply Chain, serta Process & Plant Engineering.
Jamsaton menjelaskan bahwa keempat kategori tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan inovasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari teknis budidaya tanaman presisi, sistem distribusi dan rantai pasok pupuk, aspek keberlanjutan lingkungan, hingga keandalan proses dan fasilitas produksi.
“Keempat kategori ini dirancang untuk menjawab kebutuhan inovasi dari hulu hingga hilir, mulai dari teknis budidaya tanaman presisi, sistem distribusi dan rantai pasok pupuk, keberlanjutan lingkungan, hingga keandalan proses dan fasilitas produksi,” kata Jamsaton.
Pendekatan menyeluruh tersebut diharapkan mampu menghasilkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dan siap diimplementasikan dalam skala industri. Dengan demikian, hasil riset dan inovasi tidak berhenti pada konsep, melainkan dapat memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian nasional.
Insentif, Inkubasi, dan Peluang Pendanaan Lanjutan
Selain menjadi wadah kompetisi, FertInnovation Challenge 2025 juga menawarkan insentif yang menarik bagi para inovator. Juara pertama di setiap kategori memperoleh hadiah Rp30 juta, juara kedua Rp20 juta, dan juara ketiga Rp10 juta. Namun, apresiasi tidak berhenti pada pemberian hadiah semata.
Ajang ini juga membuka peluang inkubasi dan kolaborasi lanjutan agar ide-ide terpilih dapat dikembangkan menjadi solusi industri. Pupuk Indonesia menyediakan potensi pendanaan hingga Rp2 miliar bagi inovasi yang dinilai memiliki prospek implementasi dan dampak strategis.
Menurut Jamsaton, FertInnovation Challenge menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan industri, akademisi, peneliti, serta pemangku kebijakan dalam satu ekosistem inovasi terintegrasi.
Kolaborasi tersebut diyakini mampu mempercepat hilirisasi riset dan menciptakan nilai tambah ekonomi maupun sosial bagi masyarakat.
“Kami percaya inovasi yang lahir dari FertInnovation akan berkontribusi nyata dalam meningkatkan efisiensi produksi, ketahanan distribusi pupuk, keberlanjutan lingkungan, serta produktivitas pertanian nasional,” ujarnya.
Peran Innovation Enabler Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Penyelenggaraan FertInnovation Challenge 2025 semakin menegaskan peran Pupuk Indonesia sebagai innovation enabler di sektor agribisnis. Melalui ajang ini, perusahaan tidak hanya mendorong lahirnya inovasi, tetapi juga memastikan bahwa inovasi tersebut memiliki jalur implementasi yang jelas dan berkelanjutan.
Jamsaton berharap kolaborasi yang terbangun melalui FertInnovation dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan Pupuk Indonesia yang semakin inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Lebih jauh, inisiatif ini diharapkan turut memperkuat ketahanan pangan bangsa melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian nasional.
“Kami berharap kolaborasi yang dibangun melalui FertInnovation menjadi bagian penting dalam mewujudkan Pupuk Indonesia yang semakin inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan, serta mendukung ketahanan pangan bangsa,” ujar Jamsaton.