Hilirisasi Bauksit oleh MIND ID di Kalimantan Barat: Keuntungan Langsung hingga Dampak Luasnya

Senin, 09 Februari 2026 | 09:43:57 WIB

JAKARTA - Hilirisasi bauksit kini menjadi tonggak perubahan besar bagi perekonomian Kalimantan Barat. Proyek pengolahan dan pemurnian mineral ini tidak sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang baru yang selama ini belum pernah dirasakan secara signifikan oleh masyarakat setempat. Inisiatif ini diharapkan mampu mengubah pola ekonomi daerah yang sebelumnya terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah.

Transformasi Ekonomi yang Menjadi Katalis Daerah

Kehadiran proyek hilirisasi bauksit–alumina–aluminium yang berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, diinisiasi oleh konsorsium besar yaitu Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Program ini diharapkan menjadi penggerak utama transformasi ekonomi daerah melalui efek berganda atau multiplier effect yang luas bagi sektor perekonomian lokal.

Mega proyek ini berupaya memperkuat kinerja ekonomi provinsi serta membuka lapangan kerja yang luas bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 5,39 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,90 persen. Dari sisi produksi, sektor pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 31,48 persen.

Bupati Mempawah, Erlina, secara tegas menjelaskan bahwa kehadiran proyek hilirisasi menjadi motor transformasi ekonomi daerah yang sejak dulu bergantung pada pertambangan bahan mentah. Hilirisasi menurutnya tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru serta menyerap tenaga kerja secara lebih luas.

“Pertama adalah penyerapan tenaga kerja, itu yang paling penting. Kedua, akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi karena banyak masyarakat dari luar daerah yang datang. Hal ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Mempawah,” ujar Erlina usai pelaksanaan groundbreaking proyek tersebut.

Manfaat Langsung bagi Masyarakat Sekitar

Dampak program hilirisasi sudah mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Kehadiran proyek ini membantu tumbuhnya berbagai usaha penunjang yang sebelumnya tidak berkembang pesat di kawasan sekitar proyek. Beberapa contohnya termasuk perkembangan homestay, rumah kos, serta berbagai usaha kuliner yang kini menjadi penghasilan tambahan bagi warga lokal.

Menurut Erlina, permintaan terhadap kebutuhan tempat tinggal dan layanan pendukung meningkat seiring dengan bertambahnya masyarakat yang datang ke kawasan proyek. Hal ini membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

“Dengan adanya proyek ini, kebutuhan akan tempat tinggal dan layanan pendukung meningkat. Ini menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” kata Erlina.

Selain manfaat ekonomi langsung, Erlina juga menyoroti program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dijalankan oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sebagai operator proyek. Ia berharap inisiatif CSR ini bisa dikembangkan lebih luas lagi, khususnya di sektor pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, semakin banyak putra daerah yang memiliki kompetensi dan dapat bekerja di kawasan industri tersebut.

Pengembangan Ekosistem Hilirisasi Mineral

Proyek yang sedang dibangun ini bukan hanya sekadar fasilitas pengolahan bahan mentah, tetapi juga merupakan pondasi bagi integrasi rantai pasok hulu–hilir bauksit di Indonesia. Saat ini, Grup MIND ID telah mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah untuk mengolah bauksit menjadi alumina. Fasilitas ini menjadi penting karena sebelumnya Indonesia belum memiliki jalur pengolahan yang terintegrasi sepenuhnya di dalam negeri.

Melalui prosesi groundbreaking terbaru, Grup MIND ID akan melanjutkan pengembangan ekosistem hilirisasi dengan membangun Smelter Aluminium Baru serta SGAR Fase II guna memperkuat integrasi dari hulu hingga hilir. Hal ini diharapkan bisa memperkokoh fondasi industri berbasis mineral di Kalimantan Barat dan Indonesia secara keseluruhan.

Kontribusi terhadap Perekonomian Nasional

Tidak hanya memberi dampak pada level daerah, program hilirisasi ini juga memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Dalam kesempatan yang sama, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani menyampaikan bahwa kontribusi program hilirisasi terhadap perekonomian nasional terus meningkat secara signifikan.

Menurut Rosan, investasi hilirisasi pada 2025 mencapai Rp580,4 triliun, yang setara dengan 30 persen dari total investasi nasional, meningkat sekitar 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa program hilirisasi bukan hanya bermanfaat bagi daerah, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak investasi nasional.

Lebih lanjut, Rosan menyampaikan bahwa pemerintah mendorong pemerataan pengembangan hilirisasi tidak hanya di beberapa wilayah seperti Maluku dan Sulawesi, melainkan juga di Kalimantan Barat serta daerah lainnya. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih merata, inklusif, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.

Terkini