JAKARTA - Bank Negara Indonesia (BNI) terus menunjukkan transformasi strategisnya ke arah pembiayaan yang mendukung prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan. Menurut Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, bank ini telah mengimplementasikan langkah-langkah strategis dalam aspek operasional dan pembiayaan yang memperkuat praktik Environmental, Social, and Governance (ESG). Hal ini dilakukan bukan sekadar memenuhi regulasi, tetapi sebagai fondasi strategi bisnis jangka panjang yang memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan.
Dalam laporan terbaru untuk tahun buku 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai hampir Rp197 triliun, yang setara dengan 22 persen dari total kredit yang disalurkan bank. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan serta komitmen kuat BNI dalam mendukung proyek-proyek yang berdampak positif terhadap lingkungan dan sosial.
Komposisi Pembiayaan: Dari Energi Terbarukan Hingga Usaha Mikro
Portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI tidak hanya besar secara nominal, tetapi juga beragam secara sektor. BNI menyalurkan pembiayaan ke berbagai segmen yang mendukung transisi hijau dan pembangunan berkelanjutan. Beberapa sektor utama yang dilayani antara lain:
Energi terbarukan, yang mencakup proyek-proyek menghasilkan energi bersih atau yang meminimalkan dampak karbon.
Pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan, yang berfokus pada pelestarian lingkungan dan pemanfaatan lahan secara lestari.
Pengelolaan air dan limbah, sektor penting untuk menjaga kualitas ekosistem serta kesehatan masyarakat.
UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), sebagai bagian dari tanggung jawab sosial serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Diversifikasi tersebut menunjukkan bahwa BNI tidak hanya berorientasi pada pembiayaan besar, tetapi juga memperhatikan dampak sosial yang lebih luas melalui dukungan terhadap sektor usaha masyarakat kecil.
Instrumen Keuangan Hijau: Sustainability Bond dan Green Bond
Sebagai bagian dari strategi untuk mengejar tujuan keberlanjutan yang lebih luas, BNI juga menerbitkan instrumen keuangan hijau (green financing) yang kredibel. Pada tahun 2025, BNI berhasil menerbitkan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun dengan peringkat idAAA, yang menunjukkan kualitas tinggi dari instrumen tersebut. Framework Sustainability Bond BNI bahkan memperoleh Second Party Opinion (SPO) dari Sustainalytics yang menilai mekanisme tersebut credible and impactful sesuai standar nasional dan internasional.
Selain Sustainability Bond, BNI juga menerbitkan Green Bond senilai Rp5 triliun yang dialokasikan khusus untuk pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial. Kedua instrumen ini mencerminkan langkah nyata bank dalam menggunakan pasar modal untuk mendukung agenda transisi energi dan ekonomi rendah karbon.
Strategi ini sejalan dengan target pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060, yang menempatkan peran sektor perbankan sebagai katalisator dalam pembiayaan pembangunan berkelanjutan nasional.
Dukungan terhadap Debitur: ESG Advisory Playbook untuk Kelapa Sawit
Tak hanya fokus pada pembiayaan langsung, BNI juga meluncurkan ESG Advisory Playbook untuk subsektor kelapa sawit sebagai panduan transisi bagi debitur. Inisiatif ini menjadikan BNI sebagai bank pertama di Indonesia yang menyusun dan memperkenalkan playbook semacam ini.
Playbook tersebut dirancang untuk memandu pelaku usaha agar dapat menyesuaikan praktik usahanya dengan prinsip ESG, sekaligus mempercepat adopsi bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Langkah ini penting karena subsektor kelapa sawit sering menjadi sorotan terkait isu deforestasi, perubahan iklim, dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan panduan yang tepat, debitur diharapkan tidak hanya sekadar memenuhi standar pembiayaan berkelanjutan, tetapi juga dapat meningkatkan daya saing usaha melalui tata kelola yang lebih baik dan praktik bisnis yang ramah lingkungan.
Integrasi ESG dalam Budaya dan Operasional BNI
David Pirzada menekankan bahwa integrasi prinsip ESG dalam setiap lini kegiatan BNI menjadi kunci untuk memperkuat peran bank sebagai pionir green banking dan agent of development di Indonesia. Menurutnya, hal ini tidak lagi hanya soal pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai perusahaan, budaya kerja, strategi bisnis, dan kebijakan operasional.
Selain itu, BNI juga aktif menggunakan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) untuk mendukung proses transisi hijau secara nasional, sekaligus menciptakan standar yang jelas dalam menentukan sektor mana yang layak mendapatkan pembiayaan ramah lingkungan.
Melampaui Pembiayaan: Peran BNI dalam Ekosistem Keberlanjutan Nasional
Melalui berbagai langkah yang telah dilakukan, BNI menunjukkan bahwa komitmennya terhadap keberlanjutan bukan sekadar jargon, tetapi diimplementasikan dalam praktik pembiayaan, instrumen pasar modal, panduan teknis, serta integrasi budaya perusahaan.
Portofolio pembiayaan yang mencapai hampir Rp197 triliun menunjukkan bahwa bank ini mengambil peran signifikan dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau. Ini termasuk dukungan terhadap energi bersih, pengelolaan sumber daya, serta pemberdayaan UMKM yang memegang peran penting dalam penciptaan lapangan kerja dan pembangunan ekonomi lokal.
Dengan menerapkan strategi ESG secara menyeluruh, BNI tidak hanya memposisikan dirinya sebagai lembaga keuangan yang bertanggung jawab sosial dan lingkungan, tetapi juga menunjukkan bahwa pembiayaan berkelanjutan dapat menjadi bagian integral dari pertumbuhan bisnis jangka panjang yang berkelanjutan.