JAKARTA - Lima warsa semenjak didirikan pada tanggal tersebut, Holding Ultra Mikro yang menyatukan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk, PT Pegadaian, serta PT Permodalan Nasional Madani telah tumbuh menjadi salah satu wadah penguatan ekonomi masyarakat terbesar di nusantara.
Tidak hanya meluaskan jangkauan pendanaan, Holding UMi kini sukses merancang ekosistem keuangan yang kian terpadu, mulai dari pembiayaan, tabungan, perniagaan, pembinaan serta pendampingan usaha, hingga pembentukan aset warga lewat ekosistem logam mulia.
Penciptaan Holding UMi separuh dasawarsa lampau berawal dari hambatan guna menjangkau sektor usaha ultra mikro yang belum mendapatkan fasilitas perbankan formal secara maksimal.
Lewat penyatuan BRI, Pegadaian, serta PNM, skala serta cakupan layanan tersebut terus diperluas agar khalayak tidak sekadar memperoleh uluran modal, melainkan pula mendapatkan kesempatan untuk menaikkan kapasitas usaha serta merajut ketahanan ekonomi keluarga.
Sampai penghujung triwulan kedua tahun ini, Holding UMi telah sukses melayani puluhan juta debitur aktif serta mengelola ratusan juta rekening simpanan mikro.
Kolaborasi tersebut pun telah menggerakkan jutaan debitur naik tingkat, merefleksikan pergeseran nasabah dari kelompok yang lebih kecil menuju akses layanan serta pembiayaan yang kian luas.
Group CEO BRI Hery Gunardi memaparkan bahwasanya perjalanan lima tahun Holding UMi memperlihatkan bagaimana penyatuan tiga institusi dengan daya dorong berbeda mampu melahirkan imbas ekonomi yang lebih masif.
“Selama lima tahun, kekuatan Holding UMi ditopang oleh integrasi keunggulan masing-masing entitas. BRI memiliki jaringan dan kapabilitas pembiayaan UMKM serta infrastruktur yang luas, Pegadaian memiliki kompetensi pada pembiayaan berbasis gadai dan ekosistem emas, sementara PNM memiliki kekuatan pada pemberdayaan serta pendampingan kelompok usaha ultra mikro,” ujar Hery dari Sumbernya.
Kombinasi tersebut mengizinkan masyarakat menerima layanan berlandaskan kebutuhan serta fase perkembangan finansialnya.
Pelaku usaha yang baru merintis sanggup memperoleh bimbingan serta pendanaan ultra mikro, lantas berkembang dan mendapati akses pembiayaan berkapasitas lebih tinggi, sekaligus memanfaatkan fasilitas perniagaan, simpanan, penanaman modal, sampai bermacam layanan finansial lainnya.
Salah satu prasarana krusial yang dibangun guna mengokohkan keterpaduan tersebut ialah jaringan kantor yang luas.
Hingga triwulan II 2026, terdapat belasan ribu titik kantor BRI, Pegadaian, serta PNM sehingga masyarakat sanggup mengakses bermacam keperluan keuangan dalam satu ekosistem.
Pada saat bersamaan, Holding UMi tercatat mempunyai puluhan ribu tenaga pemasar yang berperan sebagai garda terdepan di dalam menjangkau serta mendampingi warga hingga ke level komunitas.
Keberadaan Mantri BRI, petugas pemasaran Pegadaian, serta AO PNM tidak sekadar berfungsi dalam memperlebar akses terhadap pendanaan serta layanan finansial, melainkan pula merajut kedekatan bersama nasabah, memahami keperluan serta corak usaha, menyuplai edukasi keuangan, hingga membimbing pelaku usaha dalam membesarkan kapasitas bisnisnya.
Sehabis lima tahun berjalan, salah satu tolok ukur krusial keberhasilan Holding UMi bukanlah semata besarnya pembiayaan yang dikucurkan, melainkan kapasitas ekosistem itu dalam mencetak mobilitas ekonomi.
Sampai akhir triwulan II 2026, sekitar 2,3 juta peminjam telah naik kelas.
Pencapaian tersebut melukiskan bagaimana akses pembiayaan yang diiringi pembinaan serta pendampingan mampu membuka jalan bagi pelaku usaha guna menaikkan skala dan kapasitas bisnisnya.
Menurut Hery, keberhasilan Holding UMi pada akhirnya wajib diukur dari pergeseran kondisi finansial nasabah yang berada di dalam ekosistem tersebut.
“Bagi kami, keberhasilan terbesar bukan hanya ketika seseorang memperoleh pembiayaan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika usahanya tumbuh, pendapatannya meningkat, kemampuan menabungnya semakin baik, dan kemudian dia mampu mengakses layanan keuangan yang lebih luas sehingga meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, naik kelas menjadi salah satu agenda penting yang akan terus kami dorong,” jelas Hery dari Sumbernya.
Memasuki tahun kelimanya, metamorfosis Holding Ultra Mikro pun bergerak menuju fase berikutnya, yakni memperlebar inklusi serta literasi keuangan.
Perkembangan itu salah satunya tampak dari penguatan ekosistem emas lewat Pegadaian.
Sampai Agustus 2026, ekosistem emas di dalam Holding Ultra Mikro telah menggapai sekitar 153 ton.
Dengan kapabilitas Pegadaian yang terus maju, ekosistem emas tersebut mencakup fasilitas gadai dan pembiayaan berbasis emas, Tabungan Emas, perniagaan emas secara digital, hingga layanan bulion.
Penyatuan ini kian memperlebar akses khalayak terhadap logam mulia sebagai instrumen penjaga nilai serta pembentukan aset jangka panjang.
Pengembangan tersebut menjelma sebagai bagian krusial dari dinamika Holding UMi.
Masyarakat yang tadinya sekadar memerlukan akses modal didorong secara bertahap untuk membentuk kebiasaan menabung, memperkuat pertahanan finansial, hingga memiliki aset.
Hery menegaskan bahwasanya lima tahun perdana Holding Ultra Mikro merupakan landasan guna merancang fase ekspansi berikutnya.
Dengan skala ekosistem yang telah terbangun, fokus berikutnya ialah memastikan semakin banyak masyarakat mengecap manfaat ekonomi yang lebih dalam dari penyatuan BRI, Pegadaian, serta PNM.
“Pada akhirnya, tujuan Holding Ultra Mikro bukan sekadar menjadi ekosistem keuangan dengan skala yang besar. Kami ingin menjadi ekosistem yang mampu membuka jalan bagi masyarakat untuk bergerak dari akses keuangan menuju pemberdayaan, dan dari pemberdayaan menuju kesejahteraan. Inilah kontribusi BRI Group untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan pertumbuhan yang semakin inklusif,” pungkas Hery dari Sumbernya.