JAKARTA — Pelbagai program bantuan sosial (bansos) pemerintah gelombang tiga tahun ini bakal mulai didistribusikan pada September 2026.
Pada hakikatnya, bermacam varian bansos diformulasikan guna peruntukan yang berlainan.
Terdapat bansos yang dialokasikan buat menyokong pemenuhan keperluan primer, menjelma sebagai jaring pengaman kala berlangsung turbulensi ekonomi, sampai menopang penanaman modal sumber daya manusia dalam horizon panjang.
Walakin demikian, sekelumit kalangan masyarakat memandang bansos sebagai oase di tengah situasi ekonomi yang pelik.
Bansos kerap langsung dipergunakan guna merampungkan keperluan primer, ditambah sedikit self reward dengan memborong hal-hal mini yang digemari.
Dalam kondisi serupa itu, bansos pastinya sukar dikonversi menjadi tabungan sekaligus penopang manakala ekonomi keluarga menjumpai ancaman atau keperluan mendesak.
Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengutarakan, bansos sanggup dimanfaatkan sebagai jaring pengaman atau safety net horizon pendek, penopang ekonomi tatkala berlangsung shock, atau memang guna menopang investasi modal manusia ke depan.
Dalam kaitannya dengan pemenuhan keperluan primer atau sebagai safety net horizon pendek, bansos seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), atau bantuan pangan memang diformulasikan guna mencegah penerima manfaat yang tergolong faksi rentan agar tidak terperosok ke jurang kemiskinan ekstrem.
Lazimnya, penerima manfaat program semacam ini ialah rumah tangga yang mengantongi penghasilan pas-pasan atau malah bertempat di bawah keperluan dasar.
“Sehingga menabung bukan pilihan realistis dan bansos yang diberikan memang harus segera dipakai untuk makan, mencukupi kebutuhan Kesehatan, atau pendidikan anak,” kata dia dari Sumbernya kepada Kompas.com, Senin (7/9/2026).
Di sisi lain, Suhindarto menambahi, untuk program bansos yang diarahkan sebagai penopang ekonomi manakala terjadi turbulensi (shock), esensi dasarnya ialah merawat daya beli masyarakat.
Langkah tersebut berorientasi agar kondisi ekonomi keluarga tidak merosot secara drastis.
Dengan begitu, penerima bansos mengantongi ruang guna bertahan tanpa harus melego aset produktif seperti perkakas kerja, ternak, dan tanah.
Dalam klasifikasi ini, ia berpandangan bahwa menabung dana bansos yang diberikan sanggup menjadi salah satu opsi jika keperluan rumah tangga penerima manfaat masih sanggup tercukupi.
Berikutnya, jika bansos memang diarahkan sebagai instrumen guna memantik investasi modal manusia, lazimnya dieksekusi lewat conditional cash transfer, seperti Program Keluarga Harapan (PKH).
Di dalam skema tersebut, sokongan sepatutnya tidak dipakai semata-mata demi konsumsi hari ini, melainkan lebih difokuskan guna mencukupi keperluan di dalam menggapai target program.
Pasalnya, lazimnya penyaluran bansos seperti PKH mengemong sejumlah prasyarat yang mesti dipenuhi penerima manfaat.
Contohnya, anak wajib mengenyam pendidikan, ibu hamil wajib memeriksakan kesehatan ke puskesmas, dan lain sebagainya.
“Sehingga memang dengan begitu, pemberian bantuan akan lebih banyak digunakan bukan untuk konsumsi hari ini saja, tapi harapannya bisa menjadi tabungan untuk memutus siklus kemiskinan antar-generasi,” terang dia dari Sumbernya.
Berkaitan dengan kondisi penerima bansos di Indonesia yang secara mayoritas bertempat pada faksi desil 1-3 atau faksi termiskin, pemanfaatan dana guna merampungkan keperluan primer bakal jauh lebih realistis dan menjelma sebagai prioritas ketimbang menabung.
Suhindarto mengemukakan, nominal bansos yang diterima lazimnya tergolong mini dan kerap kali tidak memadai guna merampungkan keperluan bulanan.
Situasi tersebut menjadikan probabilitas dana bansos guna ditabung menjadi sangat minim.
Selanjutnya, secara perangai, rumah tangga yang tergolong miskin lazimnya berada di dalam kondisi tatkala pengeluaran mereka sangat berhimpitan bersama pemasukan.
“Sehingga dorongan menabung dari bansos akan cenderung kecil,” ucap dia dari Sumbernya.
Tatkala berdiskusi dalam kerangka yang ideal, memang sepatutnya bansos bukan cuma dipakai demi pemenuhan keperluan saat ini.
Bansos pun diekspektasikan sanggup dirancang sedemikian rupa dengan meramu pelbagai skema agar keluarga penerima manfaat mengantongi dorongan guna membangun tabungan produktif ke depan.