Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 17.679 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 17.679 per Dolar AS
Ilustrasi uang rupiah dan dolar. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (3/9/2026).

Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah sentimen pelantikan Destry Damayanti sebagai gubernur Bank Indonesia (BI), serta pelemahan dolar AS menyusul data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Berdasarkan data perdagangan sore, rupiah menguat 84 poin atau 0,47% ke posisi Rp 17.679 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 17.763 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar turut mencermati kepemimpinan Destry Damayanti yang resmi menjabat sebagai gubernur BI.

Destry dilantik pada Rabu dan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia.

Dalam sidang penetapannya, ia menyatakan komitmen untuk menjaga kebijakan moneter tetap responsif terhadap berbagai tantangan ekonomi, sekaligus menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan.

Dari luar negeri, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung.

Meski ketegangan di Timur Tengah berpotensi meningkatkan risiko terhadap pasar keuangan global, rupiah mampu bertahan dari tekanan.

"Kekhawatiran baru bahwa eskalasi konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran dapat semakin mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.

Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di berbagai wilayah kawasan tersebut.

Ini merupakan aksi saling serang paling intens antara kedua negara sejak Juli," ujar Ibrahim dari Sumbernya dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).

Selain itu, penguatan rupiah turut didukung pelemahan dolar AS setelah rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan perlambatan.

Ibrahim menambahkan, pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

Menurutnya, spekulasi pasar mengenai kebijakan suku bunga masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang global.

"Terkait kebijakan moneter, para pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada pertemuan September, terutama setelah Ketua The Fed Kevin Warsh mengambil sikap lebih tegas terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole pekan lalu," papar Ibrahim dari Sumbernya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index