Rupiah Menguat 84 Poin Didorong Data Tenaga Kerja AS yang Lemah

Rupiah Menguat 84 Poin Didorong Data Tenaga Kerja AS yang Lemah
Rupiah Menguat Seiring Data Tenaga Kerja AS. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (3/9/2026), bergerak menguat 84 poin atau 0,47 persen menjadi Rp 17.679 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.763 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi data ketenagakerjaan swasta AS yang lebih lemah dari perkiraan.

“Data ketenagakerjaan swasta AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian,” ujar Amru dari Sumbernya di Jakarta, Kamis.

Data ADP Employment Change menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38 ribu pada bulan Agustus, berada di bawah perkiraan 47 ribu dan angka kenaikan sebelumnya sebesar 46 ribu.

Di sisi lain, lanjut Amru, harga minyak yang mulai terkoreksi dari level tingginya turut mengurangi tekanan terhadap mata uang kawasan.

Dia berpendapat sentimen negatif dari eskalasi konflik AS-Iran belum menjadi faktor yang dominan terhadap pergerakan rupiah.

Kendati konflik tersebut meningkatkan ketidakpastian dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, dolar AS disebut justru mengalami koreksi.

Indeks DXY bergerak melemah di area 99,27, sehingga memberikan ruang bagi rupiah dan sejumlah mata uang Asia untuk menguat.

“Dengan demikian, penguatan rupiah pada Kamis lebih mencerminkan pelemahan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS, sementara risiko dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” kata Amru dari Sumbernya.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp 17.689 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.770 per dolar AS.

JP Morgan Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mencapai level 7.000 pada Desember 2026, yang didorong oleh ekspektasi membaiknya sentimen pasar dan rendahnya posisi investor di pasar saham Indonesia.

"Tim JP Morgan masih expect (perkirakan) target Jakarta Composite Index (JCI) atau IHSG by December itu di 7.000," ujar Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan Indonesia, Benny Kurniawan dari Sumbernya dalam Media Briefing bersama JP Morgan di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan, kenaikan IHSG pada akhir tahun berpotensi didorong oleh sentimen pasar yang semakin positif serta posisi investor, baik domestik maupun asing, yang saat ini relatif rendah.

"Jadi, kami masih expect ada kenaikan sampai akhir tahun, yang didorong oleh sentimen yang lebih positif dan positioning investor maupun lokal ataupun asing yang sebenarnya sudah cukup rendah tahun ini," ujar Benny dari Sumbernya.

Memasuki tahun 2027, J.P. Morgan melihat prospek pertumbuhan laba emiten masih cukup positif, yang mana konsensus memperkirakan pertumbuhan earnings sekitar 9 persen pada tahun depan.

"Saya rasa untuk ke depannya di tahun 2027 konsensus dari analyst expect earnings itu growth sekitar 9 persen tahun depan.

Dan ini juga pasti ditopang oleh pengeluaran pemerintah, government spending lagi, dan juga investment," ujar Benny dari Sumbernya.

Ia melanjutkan, optimisme terhadap pasar modal Indonesia juga ditopang oleh pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan yang masih terjaga, meskipun sejumlah segmen menghadapi tekanan margin akibat kenaikan biaya input.

Menurutnya, selama pertumbuhan pendapatan atau top line tetap meningkat, daya tarik pasar Indonesia bagi investor masih akan terjaga.

"Tapi selama top line growth itu masih naik, dan di first half ini actually naiknya cukup kencang.

Menurut saya investor tidak mungkin bisa melupakan Indonesia seperti itu saja," ujar Benny dari Sumbernya.

Sebagai informasi, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Kamis, ditutup menguat 72,11 poin atau 1,09 persen ke posisi 6.667,89 dengan nilai transaksi perdagangan sebesar Rp 18,57 triliun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index