BANTUL - Pada 21 Agustus 2026 lalu, sekira 150 anak dari berbagai sekolah berkumpul guna mengikuti Petualangan Sahabat Penyu bersama Bobo serta PT Bank Central Asia Tbk lewat payung program creating shared revenue Bakti BCA.
Acara ini bertempat di Konservasi Mino Raharjo, area konservasi Penyu sokongan Bakti BCA yang berada di Pantai Goa Cemara, Bantul, Yogyakarta.
Kegiatan ini mengajak rekan-rekan mengenal kehidupan penyu sekaligus belajar merawat lingkungan.
Peserta berasal dari SDIT Assalaam Sanden, SDMU Wonorejo, SDN Rojoniten, SDIT Panggang, SDN Krajan, serta komunitas Mampir Donalan.
Sejak awal acara, rekan-rekan sudah tampak bersemangat mengikuti setiap agenda.
Memakai Topi dan Rompi Agenda dimulai dengan pendaftaran yang diikuti setiap sekolah.
Selepas mendaftar, rekan-rekan memperoleh topi dan rompi khusus Petualangan Sahabat Penyu bersama Bobo.
Dengan topi dan rompi tersebut, seluruh peserta terlihat siap memulai petualangan.
Senam Ceria Bersama Bobo Selepas itu, waktunya bergerak dan bersenang-senang!
Rekan-rekan mengikuti kegiatan Senam Ceria Bersama Bobo.
Mereka menari bersama Bobo, Coreng, Upik, serta Paman Gembul.
Suasana menjadi semakin semarak ketika seluruh peserta mengikuti senam secara bersama-sama.
Bukan cuma menyenangkan, kegiatan ini pun membuat rekan-rekan lebih bersemangat sebelum mengikuti agenda berikutnya.
Mendengarkan Kisah Cilo Selanjutnya, rekan-rekan diajak mendengarkan dongeng oleh Kak Sabil dari Sumbernya.
Kali ini, kisahnya mengenai Cilo, seekor anak penyu atau kerap disebut tukik yang sedang berusaha menuju laut.
Di dalam perjalanan menuju laut, Cilo menghadapi beberapa rintangan.
Ada sampah yang menghalangi jalannya serta cahaya terang yang sanggup membuat tukik kebingungan menentukan arah menuju laut.
Untungnya, Cilo tidak sendirian.
Ia berjumpa Mimi si kepiting bola pasir, Lilo si kelomang, serta Kiko si burung cerek.
Ketiganya membantu Cilo menemukan jalan menuju laut.
Dari dongeng tersebut, rekan-rekan mendapat wawasan baru bahwa pantai yang bersih dan gelap pada malam hari sanggup membantu tukik menuju laut dengan lebih aman.
O iya, ada pembagian hadiah pula buat lima orang yang berani menjawab pertanyaan dari Kak Sabil dari Sumbernya!
Melihat Tempat Penetasan Penyu Sehabis mendengarkan dongeng, petualangan berlanjut dengan tur edukasi penyu.
Rekan-rekan melihat langsung tempat penetasan dan kolam tukik.
Mereka mengenal inkubator yang dipakai untuk membantu menginkubasi telur-telur penyu yang dinamakan Intan Box.
Rekan-rekan pun melihat tempat terapi untuk mempercepat penyerapan sisa kuning telur bagi tukik yang baru menetas bernama Sari Box.
Tukik berada di sana sampai kuning telur yang masih tersisa pada tubuhnya terserap dengan sempurna.
Di samping itu, peserta melihat kolam tukik sambil menunggu sebelum dilepaskan ke laut.
Ada pula sarang semi alami yang dimanfaatkan pula untuk penetasan tukik.
Dari tur ini, rekan-rekan sanggup melihat bahwa merawat penyu memerlukan perhatian dan ketelitian.
Sesudah belajar mengenai penyu, waktunya bermain!
Rekan-rekan dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti games.
Menariknya, kelompok tidak berdasarkan sekolah.
Anak-anak dari berbagai sekolah bergabung menjadi satu kelompok.
Jadi, selain bermain, mereka pun memperoleh kesempatan berkenalan dan mempunyai teman baru.
Ada beberapa permainan yang harus diselesaikan bersama.
Mulai dari memilah sampah, menyelamatkan telur penyu, hingga menyusun kotak.
Seluruh permainan memerlukan kerja sama dan kekompakan.
Melepas Tukik Menuju Laut Sehabis bermain, rekan-rekan bersiap melaksanakan agenda yang paling dinanti, yakni melepas tukik ke laut.
Seluruh peserta berbaris dengan rapi.
Masing-masing membawa seekor tukik yang diletakkan di atas batok kelapa.
Setelah semuanya siap, tukik-tukik tersebut dibawa ke lokasi pelepasan.
Satu per satu, tukik dilepaskan menuju laut.
Tukik dibiarkan berjalan sendiri tanpa bantuan manusia.
Dengan begitu, tukik sanggup menjalani perjalanan menuju laut secara alami.
Rekan-rekan pun bersorak riang melihat tukik mulai bergerak menuju laut.
Mereka berharap tukik-tukik itu dapat tumbuh dengan baik dan suatu hari kembali ke pantai untuk bertelur.
Foto Bersama Bobo Petualangan hari itu ditutup dengan foto bersama.
Tentu saja, Bobo tidak sendirian.
Ada Coreng, Upik, dan Paman Gembul yang ikut menemani rekan-rekan peserta.
Sebelum pulang, para peserta juga mendapatkan kenang-kenangan berupa goodie bag yang berisi Majalah Bobo.
Wah, lengkap sekali!
Hari itu bukan hanya seru, tetapi juga membuat rekan-rekan semakin mengenal penyu dan pentingnya menjaga lingkungan pantai.
Tak hanya rekan-rekan peserta, setiap orang juga dapat ikut menjaga penyu.
Pantai yang bersih, lingkungan yang terjaga, serta kepedulian terhadap hewan dapat membantu penyu tumbuh dan terus hidup di alam.