JAKARTA - Direktur Utama BRI, Hery Gunardi memastikan korporasi tidak lagi semata-mata memburu pelebaran usaha yang tinggi.
Hery menerangkan perihal tersebut dijalankan lewat metamorfosis yang dinamakan BRIvolution Reignite.
Metamorfosis ini meliputi dua agenda utama yang dieksekusi secara berbarengan, yakni memperkokoh pendanaan dan membenahi komersial inti, sambil mendirikan sumber kemajuan baru.
"Fokus BRI bukan semata-mata mengejar pertumbuhan yang tinggi, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut semakin sehat, berkualitas, dan berkelanjutan," ujar Hery dalam paparan kinerja BRI Semester I-2026 secara virtual, Senin (31/8/2026).
Dari sisi pendanaan, BRI mengincar penguatan dana murah atau current account savings account (CASA) lewat pendekatan berbasis ekosistem.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, BRI telah menekan biaya dana atau cost of fund (CoF).
Penyusutan biaya dana tersebut selaras dengan semakin kuatnya porsi CASA dalam susunan pendanaan korporasi.
Berdasarkan laporan finansial BRI per 30 Juni 2026, CoF BRI tercatat sebesar 2,4%, menyusut dibandingkan 3,4% pada semester I-2025.
Dengan demikian, pengeluaran dana korporasi berkurang sekitar 100 basis poin (bps) secara tahunan.
Pada rentang waktu yang serupa, rasio CASA BRI tercatat sebesar 67,6%, meningkat dari sekitar 65,5% pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.
Secara nominal, CASA pun bertambah 10,1% secara tahunan (yoy).
Di samping itu, terang dari Sumbernya, Korporasi juga senantiasa memaksimalkan kapabilitas kanal digital, mulai dari perolehan merchant, penguatan transaksi digital, hingga pengembangan AgenBRILink.
BRI pun memperkokoh komersial lewat penguatan klaster, integrasi rantai nilai atau value chain, serta penerapan konsep One BRI Solution.
Sementara itu, pada komersial inti, korporasi mengadakan pembenahan terhadap segmen mikro yang selama ini menjadi kekuatan utama BRI.
Tindakan tersebut dilaksanakan lewat perbaikan proses komersial dan penerapan manajemen risiko yang lebih granular.
Hery menegaskan, kemajuan komersial mikro ke depan mesti berjalan selaras dengan perbaikan mutu aset.
Di sisi lain, BRI pun membangun mesin kemajuan baru dengan menangkap potensi dari ekosistem dan value chain komersial.
Korporasi membidik pengembangan komersial perolehan payroll, peningkatan mutu produk konsumer, hingga peluasan layanan bullion bank lewat sinergi BRI Group.
"Keseluruhan agenda ini memiliki satu arah yang sama, yaitu membangun mesin pertumbuhan BRI yang lebih terdiversifikasi dan berkualitas," kata Hery.
Taktik tersebut mulai tampak dalam kinerja terbaru BRI.
Hery mengatakan beragam agenda metamorfosis yang dijalankan bukan sekadar rencana jangka panjang, melainkan telah direalisasikan dan mulai menyumbangkan dampak positif terhadap kinerja korporasi.
Hingga semester I-2026, sejumlah indikator utama BRI memperlihatkan perbaikan.
Bisnis tumbuh semakin kuat, fungsi intermediasi meningkat, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) menurun, sementara kemajuan komersial mampu dikonversikan menjadi peningkatan profitabilitas.
Dari sisi skala komersial, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun pada semester I-2026 atau bertambah 11,7% secara tahunan.
Kemajuan tersebut terutama ditopang oleh akselerasi penyaluran pinjaman yang bertambah 16,2% secara tahunan menjadi Rp1.646 triliun.
Seiring dengan kemajuan pinjaman, BRI pun sanggup menjaga mutu aset.
NPL BRI pada semester I-2026 menyusut menjadi 2,9%, dari 3,0% pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan mutu kredit tersebut pun tampak pada CoC.
Hery menyebutkan CoC BRI merosot menjadi 3,1%, dari 3,4% pada semester I-2025.
"Dari sisi NPL membaik 3% jadi 2,9%, tercermin CoC menurun cukup signifikan, 3,4% jadi 3,1%," ujar Hery.
Penyusutan CoC memperlihatkan pengeluaran yang harus dipikul BRI guna mengantisipasi risiko kredit semakin terkendali.
Perbaikan ini menjadi penting karena berlangsung di tengah kemajuan penyaluran pinjaman yang kembali menguat.
Di samping NPL, indikator mutu aset yang lebih luas pun memperlihatkan perbaikan.
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menyampaikan LAR BRI merosot signifikan dalam enam bulan pertama 2026 menjadi 9,1%.
Adapun BBRI mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp31,2 triliun sepanjang semester I-2026.
Perolehan laba itu menaik 17,5% secara tahunan (yoy) dari sebesar Rp26,53 triliun pada tahun semester I-2025.
Merinci laporan finansial yang dipublikasikan di media massa, kinerja top line BRI turut mendesak perolehan tersebut.
Pendapatan bunga tercatat sebesar Rp107,92 triliun, menaik 5,41% yoy.