JAKARTA - Bank Indonesia menyerap penawaran lelang Sekuritas Rupiah sebesar Rp24 triliun pada 30 Agustus 2026.
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia tenor 12 bulan mengalami penurunan signifikan menjadi 7 persen dari lelang sebelumnya.
Kebijakan moneter tersebut bertujuan menjaga likuiditas pasar uang serta kestabilan nilai tukar Rupiah.
Bank Indonesia berhasil memenangkan penawaran sebesar Rp24 triliun dalam lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
Tingginya minat investor tecermin dari total penawaran yang masuk mencapai Rp43,5 triliun.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan bahwa Rata-rata Tertimbang yield atau imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia tenor 12 bulan yang dimenangkan pada lelang kali ini mengalami penurunan cukup signifikan.
"Rata-rata tertimbang (RRT) yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan turun menjadi 7 persen, dari 7,37 persen pada lelang sebelumnya," terang Erwin dalam pernyataan resminya terkait hasil lelang SRBI, Minggu (30/8/2026) dari Sumbernya.
Erwin menjelaskan bahwa penurunan imbal hasil tersebut sejalan dengan tren rata-rata yield yang diajukan oleh para peserta lelang, di mana penawaran dari investor bergeser melandai dari 7,45 persen menjadi 7,08 persen.
Perkembangan positif ini dinilai searah dengan strategi Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas di pasar uang dan industri perbankan nasional melalui pengelolaan instrumen moneter secara terukur.
Ke depan, bank sentral memastikan akan terus mengoptimalkan penggunaan instrumen moneter, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, guna mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah serta menjaga daya tarik pasar keuangan domestik bagi modal asing.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen moneter, termasuk SRBI, untuk menjaga kecukupan likuiditas, mendukung stabilitas pasar uang dan nilai Rupiah, serta tetap menarik aliran masuk portofolio asing," tegas Erwin dari Sumbernya.