Pemprov Jateng Siapkan Asuransi Pertanian Cegah Gagal Panen

Pemprov Jateng Siapkan Asuransi Pertanian Cegah Gagal Panen
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah Defransisco D. Tafarez saat diwawancarai di Kompleks Gubernur Jawa Tengah. ( sumber : net )

SEMARANG - Kekeringan mulai berdampak pada kegiatan pertanian di Jawa Tengah.

Luas penanaman padi di sejumlah wilayah dilaporkan menyusut sekitar 20 persen akibat keterbatasan pasokan air.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah Defransisco D. Tafarez menyatakan, penurunan tersebut mengacu pada laporan pemerintah daerah pada Juli 2026.

Meskipun demikian, data tersebut masih bersifat sementara karena terdapat perbedaan pelaporan dari tingkat kabupaten/kota serta penyuluh pertanian.

“Tanam tetap ada, walaupun jumlah yang ditanam luasannya agak menurun. Memang tergantung dari lokasi yang ada airnya,” ucap Frans saat dijumpai di Kompleks Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa (26/8/2026).

Kendati musim kemarau, dari keterangan sumbernya kegiatan menanam dan memanen masih berjalan di beberapa kawasan, seperti Klaten, Tegal, Kendal, serta Cilacap.

Sementara itu, wilayah yang lebih dulu terdampak kekeringan mencakup Wonogiri, Blora, Rembang, Grobogan, Jepara, dan sebagian Cilacap.

Guna mencegah kekeringan meluas, Pemprov Jateng berupaya memaksimalkan sumber air lewat koordinasi bersama pemerintah kabupaten/kota serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Langkah tersebut dijalankan dengan mengalirkan air dari sumber yang masih mencukupi.

Selain itu, pemerintah membangun sumur dangkal beserta sumur dalam yang dilengkapi mesin pompa dan pipa guna mengairi lahan pertanian.

Di samping itu, pemerintah turut menyalurkan proteksi kepada petani yang mengalami gagal panen lewat program asuransi usaha tani padi.

Sepanjang tahun 2026, program tersebut disiapkan bagi lahan seluas 10.400 hektare di 29 kabupaten dan Kota Semarang.

Petani berhak memperoleh klaim penggantian apabila tanaman padi mengalami kerusakan akibat kekeringan, serangan hama, maupun penyakit.

Pengajuan klaim dapat diproses jika 75 persen tanaman terbukti gagal diselamatkan.

“Standar penggantian biasanya Rp 6 juta per hektare,” ujar dia.

Prosedur pengajuan klaim dilakukan lewat aplikasi digital dengan pendampingan langsung oleh penyuluh pertanian di lapangan.

Bagi petani yang belum terdaftar sebagai peserta asuransi, pemerintah siap menyalurkan bantuan benih agar mereka dapat kembali bercocok tanam.

Frans mengharapkan pelbagai langkah tersebut mampu menjaga kestabilan hasil produksi padi di Jawa Tengah.

Pada tahun 2026, provinsi ini mematok target produksi mencapai 10,5 juta ton gabah kering giling.

Frans menilai penurunan luas tanam tidak otomatis berbanding lurus dengan penurunan produksi karena hasil panen turut ditentukan oleh tingkat produktivitas lahan.

Oleh karena itu, pemerintah terus menggenjot produktivitas di tengah keterbatasan pasokan air selama musim kemarau.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index