Transaksi UMKM Binaan Bank Indonesia Kalbar Tembus Angka Belasan Miliar

Transaksi UMKM Binaan Bank Indonesia Kalbar Tembus Angka Belasan Miliar
Owner Rumah Rakuji Myra bersama Kepala Perwakilan BI Kalimantan Barat Doni Septadijaya berfoto di depan stand UMKM binaan BI Kalimantan Barat. ( sumber : net )

PONTIANAK - Sejumlah unit usaha mikro kecil dan menengah binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat sukses membuktikan bahwa level usaha kecil mampu maju tatkala memperoleh dukungan jaringan pasar, pembiayaan, serta bimbingan yang tepat.

Sebagian dari kelompok UMKM tersebut kini sudah berhasil masuk ke dalam rantai pasok korporasi besar.

Sebagian lainnya bahkan sukses mengekspor produk buatan mereka hingga menembus pasar internasional.

Pemimpin Kantor Perwakilan BI Kalbar, dari Sumbernya, mengutarakan bahwa kerja sama kemitraan antara UMKM dan korporasi merupakan salah satu solusi strategis guna memperluas jangkauan pasar sekaligus membukakan pintu akses modal bagi para pelaku usaha.

“Gerakan Korporasi Gandeng UMKM diharapkan semakin banyak UMKM terhubung dengan rantai nilai, memperoleh akses pasar dan pembiayaan, serta tumbuh dan naik kelas,” ujar dari Sumbernya dalam keterangan tertulis.

Di wilayah Kalbar sendiri, sejumlah UMKM binaan BI telah terserap ke dalam jaringan perusahaan offtaker.

Beberapa di antaranya mencakup Kelompok Tani Dare Nandung, Gapoktan Sejahtera, Ale-Ale Group, Kojal, 101 Coffee House, serta Pondok Pesantren Abdussalam lewat produk unggulan Torasera.

Bagi kalangan pelaku usaha kecil, bergabung dalam rantai pasok korporasi bukan sekadar mendongkrak angka penjualan semata.

Kemitraan tersebut juga menghadirkan kesempatan berharga untuk belajar memenuhi standar mutu produksi, merawat kualitas barang, serta mendongkrak kapasitas kapasitas bisnis.

Jejak langkah kenaikan kelas ini turut dibuktikan oleh UMKM binaan BI yang berhasil menembus pasar ekspor luar negeri.

Di antara nama-nama tersebut adalah Betanun, PT Larasita, Taotoba, CV Dedeq Finger, PT Hutomo Niaga Borneo, Look Man Store, serta 101 Coffee House.

Berbagai kisah sukses tersebut membuktikan bahwa keterbatasan skala bisnis tidak selamanya menjadi hambatan untuk merangsek ke pasar yang lebih luas.

Berbekal pendampingan intensif, perluasan jejaring, serta pemenuhan standar kualitas, produk buatan usaha kecil di Kalbar terbukti mampu memikat konsumen mancanegara.

Pihak BI Kalbar juga konsisten memperlebar akses pasar lewat penyelenggaraan program business matching.

Di dalam sejumlah perhelatan, termasuk Saprahan Khatulistiwa dan Rabbani Khatulistiwa, nilai transaksi yang tercatat sukses membukukan angka Rp4,208 miliar dari sektor penjualan serta Rp8,355 miliar dari sektor pembiayaan.

Catatan angka tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan riil UMKM tidak sekadar berhenti pada urusan promosi barang.

Para pelaku usaha juga memerlukan ketersediaan akses permodalan guna menggenjot kapasitas produksi saat pasar mulai terbuka lebar.

Penguatan pola kemitraan ini merupakan bagian integral dari Gerakan Korporasi Gandeng UMKM yang digulirkan BI lewat ajang Karya Kreatif Indonesia 2026.

Inisiatif program tersebut secara aktif merangsang UMKM agar masuk ke dalam rantai pasok serta rantai nilai korporasi.

Tujuannya jelas yakni menaikkan tingkat produktivitas, memperbesar kapasitas produksi, serta membuka lebar pintu akses pasar dan pembiayaan.

Deputi Gubernur BI, dari Sumbernya, menyatakan bahwa pertumbuhan UMKM dapat menjadi fondasi utama dalam menelahirkan para pelaku usaha berskala besar yang baru.

“UMKM yang tumbuh dapat menjadi usaha menengah, dan usaha menengah yang terus berkembang dapat menjadi korporasi baru Indonesia,” ujar dari Sumbernya saat membuka talkshow KKI 2026 di Jakarta, 20 Agustus 2026.

Menurut pandangan dari Sumbernya, jalinan kemitraan bersama korporasi memberikan keuntungan bagi UMKM berupa kemudahan akses ke pasar, jejaring bisnis, penguasaan teknologi, pengalaman operasional, serta standar tata kelola usaha.

Seluruh relasi tersebut secara bersamaan mampu memperluas peluang perolehan pembiayaan modal.

Secara skala nasional, fasilitas business matching dalam perhelatan KKI 2026 menetapkan target perolehan omzet serta transaksi ekspor menembus Rp446,9 miliar.

Sementara itu, target transaksi pembiayaan termasuk instrumen pembiayaan hijau dipatok mencapai angka Rp212,8 miliar.

Bagi para pelaku UMKM, berbagai dukungan ini memegang peranan krusial mengingat tantangan bisnis tidak otomatis berhenti setelah produk selesai dibuat.

Mereka dituntut untuk konsisten menjaga mutu, merespons permintaan pasar, mengelola arus kas keuangan secara rapi, serta mempertahankan eksistensi pasar.

Oleh sebab itu, sinergi kolaboratif antara UMKM, korporasi, institusi keuangan, pemerintah, serta pihak pemangku kepentingan lainnya mutlak diperlukan agar aliran dana pembiayaan semakin lancar menyasar sektor produktif.

Bagi Provinsi Kalimantan Barat, semakin bertambahnya jumlah UMKM yang berhasil naik kelas merepresentasikan semakin banyaknya pula unit usaha keluarga dan kecil yang mempunyai peluang bertumbuh menjadi sumber penghidupan ekonomi yang lebih kokoh.

Berawal dari ruang produksi skala kecil hingga merambah pasar ekspor global, perjalanan mereka membuktikan bahwa manakala akses dibuka lebar dan pendampingan berjalan konsisten, usaha kecil senantiasa memiliki ruang luas untuk melangkah jauh ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index