Kolaborasi Kampus-Industri, GIBEI FEB Unsil Dorong Praktik Pasar Modal

Kolaborasi Kampus-Industri, GIBEI FEB Unsil Dorong Praktik Pasar Modal
GIBEI FEB. ( SUMBER : NET )

TASIKMALAYA - Di tengah perkembangan industri keuangan yang semakin dinamis, mahasiswa membutuhkan pengalaman yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik nyata agar memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai bagaimana pasar modal bekerja.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan penting keberadaan Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (GIBEI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Siliwangi (FEB Unsil).

Galeri ini diarahkan bukan sekadar sebagai ruang pengenalan investasi, tetapi sebagai jembatan yang mempertemukan mahasiswa, dosen, praktisi, dan industri pasar modal.

Upaya mempertemukan dunia akademik dan industri itu terlihat dalam Kuliah Umum Pasar Modal dimana kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Siliwangi, GIBEI FEB Unsil, dan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk.

Kegiatan menghadirkan Theresia Fransisca, Senior Staff Client Admin dari Kantor Pusat PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk., sebagai praktisi yang memberikan perspektif langsung mengenai dunia pasar modal.

Namun, kuliah umum tersebut tidak berhenti pada pemaparan materi.

Mahasiswa juga memperoleh pengalaman praktis melalui tutorial pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN).

Dari proses itu, mahasiswa diperkenalkan pada salah satu tahapan awal yang harus dipahami sebelum seseorang dapat mulai melakukan aktivitas investasi di pasar modal.

Di titik inilah pembelajaran pasar modal memperoleh dimensi yang berbeda.

Mahasiswa tidak hanya mendengar istilah RDN sebagai sebuah konsep dalam materi perkuliahan.

Mereka mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana proses tersebut berlangsung dan memahami tahapan yang harus dilalui ketika seseorang hendak memasuki ekosistem investasi secara resmi.

Bagi dunia pendidikan tinggi, pengalaman semacam ini penting karena investasi bukan semata-mata persoalan mengetahui instrumen keuangan.

Ada proses, prosedur, risiko, etika, hingga kemampuan mengambil keputusan yang perlu dipahami secara bertahap.

Direktur GIBEI FEB Unsil Lucky Radi Rinandiyana mengatakan keberadaan Galeri Investasi memiliki posisi strategis dalam mempertemukan kebutuhan pembelajaran di kampus dengan perkembangan praktik industri pasar modal.

Menurut Lucky, mata kuliah pasar modal akan menjadi lebih bermakna ketika mahasiswa tidak hanya memperoleh materi dari buku maupun ruang kelas, tetapi juga mendapatkan akses terhadap pelaku industri dan pengalaman praktik.

“GIBEI kami dorong bukan hanya sebagai tempat untuk mengenalkan pasar modal kepada mahasiswa, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan pembelajaran akademik dengan praktik industri. Dengan demikian, apa yang dipelajari mahasiswa di kelas dapat diperkaya melalui pengalaman dan informasi yang berasal langsung dari dunia pasar modal,” ujar Lucky dari Sumbernya, Selasa (25/8/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan arah pengembangan GIBEI FEB Unsil.

Galeri investasi tidak ditempatkan semata sebagai fasilitas tambahan di lingkungan kampus, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran.

GIBEI FEB Unsil sendiri diinisiasi oleh Jurusan Manajemen Unsil melalui kerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk.

Keberadaan GIBEI diarahkan menjadi ruang edukasi, interaksi, dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan ekosistem pasar modal.

Dalam praktiknya, fungsi tersebut membuka peluang kolaborasi lintas jurusan dan program studi di lingkungan Universitas Siliwangi.

Kuliah Umum Pasar Modal pada 21 Agustus 2026 menjadi salah satu contohnya.

Kegiatan tidak hanya melibatkan mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, khususnya peserta mata kuliah Pasar Modal, tetapi juga mahasiswa Program Studi D4 Perbankan dan Keuangan Digital.

Kolaborasi lintas bidang tersebut memperlihatkan bahwa pasar modal tidak berdiri sebagai disiplin yang terpisah.

Ia bersinggungan dengan ekonomi, manajemen, perbankan, keuangan digital, investasi, hingga perkembangan teknologi finansial.

“Sinergi ini penting karena mahasiswa yang belajar tentang pasar modal membutuhkan konteks nyata. Ketika praktisi hadir dan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung, terjadi proses pembelajaran yang melengkapi apa yang mereka peroleh di kelas,” kata Lucky.

Dosen pengampu Mata Kuliah Pasar Modal Jurusan Ekonomi Pembangunan Unsil, Rifky Wahyu Ramadhan, melihat keterlibatan industri memberikan nilai tambah terhadap proses pembelajaran mahasiswa.

Selama ini, mahasiswa mempelajari pasar modal melalui konsep dan teori.

Mereka mengenal instrumen investasi, mekanisme perdagangan, pelaku pasar, hingga berbagai terminologi yang menjadi bagian dari ekosistem pasar modal.

Tetapi pengetahuan teoritis memiliki batas ketika mahasiswa tidak pernah melihat bagaimana konsep tersebut diterapkan.

Menurut Rifky, kegiatan Kuliah Umum Pasar Modal memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami secara langsung tahapan awal memasuki dunia investasi, termasuk proses pembukaan Rekening Dana Nasabah atau RDN.

“Selama ini mahasiswa mempelajari pasar modal dari sisi konsep dan teori. Namun, pemahaman tersebut perlu dilengkapi dengan pengalaman praktis. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengetahui secara langsung bagaimana tahapan awal untuk masuk ke dunia investasi, salah satunya melalui pembukaan Rekening Dana Nasabah atau RDN,” ujar Rifky.

Bagi Rifky, menghadirkan praktisi ke ruang pembelajaran juga bukan sekadar mengganti dosen dengan narasumber dari industri.

Yang lebih penting adalah menjadikan pengalaman industri sebagai bagian dari proses pendidikan.

“Ini bukan sekadar menghadirkan praktisi sebagai narasumber, tetapi bagaimana pengalaman industri dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa,” katanya.

Pendekatan tersebut membuat mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menguji pengetahuan yang selama ini dipelajari secara teoritis dengan kondisi yang berlangsung di lapangan.

Pertemuan antara teori dan praktik juga membantu mahasiswa memahami bahwa keputusan investasi tidak dapat dilepaskan dari proses analisis, pemahaman risiko, disiplin, dan tanggung jawab.

Keterhubungan antara pembelajaran akademik, laboratorium, dan dunia industri menjadi bagian penting dalam pengembangan pengalaman belajar mahasiswa di lingkungan FEB UNSIL.

Ketua Laboratorium Jurusan Manajemen Unsil, Vivi Indah Bintari, mengatakan kolaborasi dengan industri memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih aplikatif.

Menurut Vivi, pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan membangun penguasaan konsep, tetapi juga membentuk kemampuan mahasiswa memahami situasi nyata dan berinteraksi dengan lingkungan profesional.

“Pembelajaran di perguruan tinggi perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori dengan praktik. Kehadiran GIBEI dan mitra industri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual, sehingga mereka dapat memahami bahwa konsep yang dipelajari di kelas memiliki penerapan nyata dalam dunia profesional,” ujarnya.

Dalam perspektif tersebut, GIBEI dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem pembelajaran.

Di dalamnya terdapat mahasiswa sebagai pembelajar, dosen sebagai pemberi landasan akademik, praktisi sebagai sumber pengalaman industri, serta lembaga dan perusahaan pasar modal sebagai mitra pembelajaran.

“Ketika mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan praktisi, proses belajar menjadi lebih kaya. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai kompetensi, etika, proses kerja, dan tantangan yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia profesional,” kata Vivi.

Dengan demikian, pembelajaran pasar modal tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan mahasiswa yang mampu menjawab pertanyaan teoritis tentang investasi.

Lebih jauh, mahasiswa dipersiapkan untuk memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan ketika mereka berhadapan dengan situasi profesional.

Menariknya, proses pembelajaran dalam kegiatan tersebut tidak hanya berjalan satu arah antara dosen dan mahasiswa atau praktisi dan peserta.

Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Unsil turut terlibat dalam mendukung pelaksanaan kegiatan, terutama dalam mendampingi mahasiswa ketika mengikuti proses pembukaan RDN.

Keterlibatan KSPM menghadirkan pendekatan student-to-student learning.

Mahasiswa yang sebelumnya telah memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai pasar modal berbagi pemahaman dengan mahasiswa peserta kegiatan.

Mereka tidak sekadar menjadi peserta, tetapi ikut berperan dalam menciptakan ruang belajar bagi sesama mahasiswa.

Model semacam ini membuat pembelajaran menjadi lebih cair.

Mahasiswa dapat bertanya dengan bahasa yang lebih dekat dengan sesama mahasiswa.

Diskusi juga dapat berlangsung lebih informal tanpa menghilangkan substansi materi.

Dalam konteks pendidikan tinggi, pola peer learning semacam ini memiliki arti penting.

Pengetahuan tidak selalu bergerak secara vertikal dari dosen kepada mahasiswa.

Ia juga dapat bergerak secara horizontal antarmahasiswa.

Di sinilah KSPM memperoleh fungsi strategis sebagai bagian dari ekosistem literasi pasar modal di kampus.

Mahasiswa yang lebih dahulu mengenal dunia pasar modal dapat menjadi penghubung bagi mahasiswa lain yang baru mulai memahami investasi.

Bagi Unsil, pola kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan literasi pasar modal membutuhkan keterlibatan berbagai unsur.

Dosen memberikan fondasi akademik dan praktisi memberikan perspektif industry kemudian GIBEI menjadi penghubung antara kampus dengan ekosistem pasar modal dan KSPM membantu menciptakan ruang pembelajaran sebaya sementara mahasiswa menjadi subjek utama yang mengolah seluruh pengalaman tersebut menjadi pengetahuan dan kompetensi.

Pola ini membuat pembelajaran pasar modal bergerak dari model konvensional menuju pembelajaran yang lebih experiential.

Mahasiswa tidak hanya belajar tentang pasar modal, tetapi mulai belajar mengalami bagaimana ekosistem pasar modal bekerja.

Perbedaan tersebut penting dimana seseorang dapat memahami definisi RDN dari buku.

Namun, pengalaman mengikuti proses pembukaan RDN memberikan dimensi pengetahuan yang berbeda.

Demikian pula seseorang dapat mempelajari risiko investasi secara teoritis.

Tetapi ketika berdiskusi langsung dengan praktisi, mahasiswa dapat memperoleh perspektif mengenai bagaimana risiko dipertimbangkan dalam praktik.

Di sinilah pengalaman industri menjadi bagian penting dari pendidikan.

Kegiatan tersebut menjadi tahap awal dari rangkaian penguatan pembelajaran dan literasi pasar modal yang akan dilanjutkan melalui Sekolah Pasar Modal pada 28 Agustus dan 7 Oktober 2026.

Rangkaian tersebut diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif.

Materi dapat berkembang mulai dari pengenalan pasar modal, pemahaman berbagai instrumen investasi, mekanisme transaksi, analisis dasar, hingga pemahaman mengenai risiko dan proses pengambilan keputusan investasi.

Rangkaian pembelajaran seperti itu menjadi penting karena literasi investasi tidak dapat dibangun melalui satu kali pertemuan, mahasiswa membutuhkan proses yang bertahap dan perlu mengenal terlebih dahulu apa itu pasar modal, memahami instrumennya, mengetahui mekanisme transaksinya, kemudian mempelajari bagaimana melakukan analisis dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan.

Pendekatan bertahap tersebut juga dapat menjadi benteng menghadapi derasnya informasi investasi di ruang digital.

Di tengah semakin mudahnya masyarakat memperoleh informasi mengenai saham dan instrumen investasi melalui media sosial, kemampuan membedakan informasi, memahami risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan menjadi semakin penting.

Kolaborasi Jurusan Ekonomi Pembangunan, GIBEI FEB Unsil, PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk., serta KSPM UNSIL pada akhirnya menunjukkan satu hal: pembelajaran pasar modal dapat dibangun melalui ekosistem.

Kampus tidak berdiri sendiri, Industri juga tidak berjalan tanpa membutuhkan sumber daya manusia yang memahami dasar-dasar akademik.

Keduanya bertemu melalui ruang-ruang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal sebelum memasuki dunia kerja.

Pasar modal membutuhkan sumber daya manusia yang bukan hanya memahami istilah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan industri, memahami etika profesional, berkomunikasi, melakukan analisis, serta memahami risiko.

Karena itu, keberadaan GIBEI FEB Unsil memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar fasilitas edukasi investasi.

tetapi dapat menjadi ruang pertemuan antara teori dan praktik.

Ruang di mana mahasiswa ekonomi dan bisnis tidak hanya membicarakan pasar modal sebagai objek kajian, tetapi mulai mengenal wajah industrinya secara langsung.

Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran pasar modal di perguruan tinggi tidak hanya dapat diukur dari seberapa banyak mahasiswa mampu menghafal konsep investasi.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah mahasiswa mampu memahami konsep tersebut, melihat penerapannya, mengenali risikonya, dan memiliki kesiapan untuk berhadapan dengan lingkungan profesional.

Melalui GIBEI FEB Unsil, proses menuju kemampuan tersebut mulai dibangun.

Dari ruang kelas menuju laboratorium serta dari teori menuju praktik, mulai dari dosen menuju praktisi.

Dan dari mahasiswa sebagai penerima pengetahuan menuju mahasiswa yang juga mampu menjadi bagian dari ekosistem literasi pasar modal.

Kuliah Umum Pasar Modal Unsil 2026 menjadi salah satu potret bagaimana perguruan tinggi dapat memperkuat pendidikan investasi melalui kolaborasi dengan industri.

Di tengah berkembangnya industri keuangan dan meningkatnya kebutuhan literasi investasi, model pembelajaran semacam ini menjadi semakin relevan untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional yang sesungguhnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index