FINANSIALFOKUS.COM — Kekalahan 1-2 dari Newcastle pada laga yang berlangsung Minggu (16/2) itu menjadi pukulan telak bagi kans Liverpool mempertahankan gelar juara. Gol Anthony Elanga di menit ke-4 dan Joe Willock di babak kedua membuat satu-satunya gol balasan dari Cody Gakpo tak berarti. Kini, The Reds tertinggal di klasemen dan sorotan tajam mengarah pada lini tengah yang dianggap tidak memiliki keseimbangan.
Dua Gol Newcastle Berawal dari Kehilangan Bola di Area Berbahaya
Gol pertama Newcastle adalah mimpi buruk yang dimulai dari kecerdikan Ryan Gravenberch yang justru berakhir petaka. Gelandang asal Belanda itu kehilangan bola di tepi kotak penalti, dan hanya butuh 11 detik bagi Newcastle untuk menghukum kelengahan tersebut melalui Elanga. Liverpool tidak memiliki struktur bertahan sama sekali saat kehilangan penguasaan bola.
Kisah serupa terulang di babak kedua. Gravenberch kembali kehilangan bola saat mencoba back heel di tepi kotak penalti Newcastle. Yoane Wissa memanfaatkannya dengan lari menusuk dari tengah, melewati sejumlah pemain Liverpool, sebelum mengirim umpan matang untuk Willock yang menuntaskannya dengan tenang.
Menariknya, saat kedua gol tersebut terjadi, Gravenberch dan Dominik Szoboszlai justru berada di kotak penalti lawan. Ketiadaan gelandang bertahan murni (number six) sejak kepergian Fabinho pada 2023 menjadi lubang yang tak kunjung tertambal.
Statistik Duel yang Bicara: Perbedaan Saat Mac Allister Masuk
Data pertandingan memperkuat analisis tersebut. Szoboszlai tidak mencatatkan satu pun tekel dan hanya memenangkan 3 dari 10 duel (30%). Gravenberch juga gagal melakukan tekel dan memenangkan 4 dari 10 duel (40%).
Namun, ketika Alexis Mac Allister masuk menggantikan Florian Wirtz setelah Newcastle unggul 2-1, wajah lini tengah Liverpool berubah. Gelandang asal Argentina itu langsung mencatatkan dua tekel dan memenangkan 4 dari 5 duel (80%). Tim terlihat lebih stabil secara defensif, meski Iraola punya pandangan berbeda soal akar masalahnya.
"Saya pikir ini bukan soal personel. Saya paham Anda mengatakan Gravenberch adalah gelandang bertahan dan dia berada di tepi kotak penalti, tetapi jika dia melepaskan tembakan dan mencetak gol, kita akan mengatakan ini aksi luar biasa dari Ryan Gravenberch," ujar Iraola dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari laporan pertandingan.
Pelatih asal Spanyol itu menambahkan, "Kami harus beradaptasi sebagai tim. Gol kedua, kami sebenarnya punya jumlah pemain bertahan yang cukup, tetapi kami tidak melakukan pelanggaran atau mengurangi jarak dengan pemain yang membawa bola. Ini bukan karena satu orang bermain di posisi itu, ini sesuatu yang harus kami perbaiki bersama."
Masa Depan Lini Tengah: Berani Bergerak di Bursa?
Mantan penyerang Liverpool, Daniel Sturridge, melontarkan kritik tajam di Sky Sports. "Liverpool tidak punya profil pemain seperti itu sekarang. Tim ini butuh gelandang bertahan sejak tiga tahun lalu. Jika Anda analisis lini tengah mereka, semua pemainnya secara natural adalah pemain menyerang," tegas Sturridge.
Hingga hari-hari terakhir bursa transfer, prioritas Liverpool dikabarkan tetap pada pemain sayap, bukan gelandang, bahkan setelah kepergian Curtis Jones. Andoni Iraola disebut puas dengan kedalaman skuad yang ada, dengan Wataru Endo, Trey Nyoni, dan James McConnell sebagai opsi cadangan.
Liverpool sebenarnya pernah mencoba mendatangkan Moises Caicedo pada 2023 dan Martin Zubimendi pada 2024, namun keduanya batal. Mereka juga sempat menanyakan Adam Wharton, tetapi Crystal Palace menolak melepas pemain berusia 22 tahun itu. Gravenberch tampil impresif musim lalu dan menutupi masalah ini, tetapi dua gol melawan Newcastle menunjukkan bahwa tambalan itu mulai jebol di momen terpenting.