JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong ekspansi kredit perbankan ke sektor riil sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Upaya tersebut dijalankan lewat dua kebijakan baru, yaitu Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial Pendalaman Pasar Uang (KLM PPU) serta penyempurnaan Kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan, KLM PPU ditujukan demi memelihara kecukupan likuiditas sekaligus memacu redistribusi likuiditas ke sektor-sektor prioritas dan akan dimulai pada 1 September 2026.
"Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial Pendalaman Pasar Uang (KLM PPU) untuk menjaga kecukupan dan mendorong redistribusi likuiditas dengan tetap mendorong penyaluran kredit/pembiayaan ke sektor-sektor prioritas yang akan berlaku efektif pada 1 September 2026," kata Destry dari Sumbernya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI Agustus 2026, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Sementara itu, penyempurnaan RPIM ditujukan guna memacu penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan kepada sektor yang inklusif serta berkelanjutan.
Aturan tersebut bakal berjalan efektif mulai 1 Oktober 2026.
Di samping dua kebijakan tadi, BI juga terus memaksimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna memacu peningkatan kredit serta pembiayaan perbankan ke sektor prioritas.
Hingga pekan pertama Agustus 2026, akumulasi insentif KLM yang didapatkan perbankan mencapai Rp 446,5 triliun.
Insentif tersebut mencakup alokasi lewat financing channel sejumlah Rp368,4 triliun, interest rate channel sejumlah Rp 73,2 triliun, dan financing to funding channel sejumlah Rp4,9 triliun.
Aturan tersebut beriringan dengan penguatan pertumbuhan kredit perbankan.
BI melaporkan kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Laju pertumbuhan tersebut naik bila dibanding Juni 2026 yang terdata sebesar 12,67 persen yoy.
Menilik kelompok pemakaian, pertumbuhan kredit pada Juli 2026 didukung oleh kredit investasi, modal kerja, serta konsumsi.
Kredit investasi tumbuh paling besar, yakni sebesar 25,13 persen yoy.
Lalu, kredit modal kerja tumbuh 11,04 persen yoy, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,38 persen yoy.